Kondisi rumah yang terdampak gempa di Desa Peozaka Ramba, Kecamatan Ende, Kabupaten Ende, NTT.(Dok BNPB)
SEBANYAK 77.912 rumah di tujuh kabupaten di Nusa Tenggara Timur (NTT) tercatat mengalami kerusakan akibat gempa. Dari jumlah tersebut, 24.597 rumah masuk kategori rusak berat, 18.537 rusak sedang, dan 34.776 rusak ringan.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, tujuh kabupaten yang terdampak meliputi Nagekeo, Ende, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Ngada, dan Sikka. Namun, angka tersebut masih akan diverifikasi untuk memastikan tingkat kerusakan dan pemilik rumah yang sebenarnya.
Menurutnya, verifikasi dilakukan BNPB bersama tim Kedeputian Rehabilitasi dan Rekonstruksi di tujuh kabupaten tersebut. Langkah ini menjadi bagian dari upaya mempercepat peralihan penanganan dari masa tanggap darurat menuju rehabilitasi dan rekonstruksi.
“Untuk di 7 kabupaten yang saat ini sudah dilakukan pendampingan oleh tim kedeputian rehabilitasi dan rekonstruksi di BNPB untuk melakukan verifikasi. Hal ini guna mempercepat, tentunya, dari masa tanggap darurat langsung nanti menjadi masa rehabilitasi dan rekonstruksi,”
kata Berton Panjaitan.
Berton mengatakan, pendataan tidak hanya menyangkut kondisi fisik bangunan, tetapi juga mencocokkan identitas warga melalui nomor induk kependudukan (NIK) dan nomor kartu keluarga (KK).
“Jadi tidak ada hal-hal yang dapat terjadi ketika seseorang rumahnya dilaporkan rusak padahal orang lain yang memiliki, atau hal-hal yang lain. Tentu kami akan melakukan ini secara cermat, sehingga tidak ada hak-hak dari warga yang terlewatkan,” tambahnya.
Menurutnya, pendampingan saat ini difokuskan pada percepatan assessment atau penilaian tingkat kerusakan. BNPB juga menyiapkan standar dan nilai kerusakan berdasarkan ketentuan yang berlaku.
Hasil pendataan dan assessment tersebut nantinya dituangkan dalam dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P). Dokumen itu akan menjadi dasar penanganan berbagai kerusakan, mulai dari rumah warga hingga infrastruktur seperti jembatan.
Selain penanganan kerusakan fisik, layanan dukungan psikososial juga terus diberikan kepada masyarakat terdampak di sejumlah kabupaten. Layanan tersebut dilakukan di Kabupaten Sikka, Nagekeo, dan Manggarai.
Menurut Berton, di Sikka, tim layanan dukungan psikososial memberikan pendampingan kepada warga yang sebelumnya mengungsi di GOR Samador Maumere. Sebagian warga kini mulai berangsur-angsur kembali ke rumah.
Sedangkan di Nagekeo, layanan dilakukan di tiga titik, termasuk Aeramo dan Lapangan Mandiri. Jarak antarlokasi pengungsian yang cukup jauh menjadi salah satu tantangan bagi tim dalam menjangkau warga terdampak. (PO/E-4)


















































