Sejumlah petugas melayani warga untuk pendataan administrasi keluarganya yang menjadi pasien di tenda darurat RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo, NTT, Senin (24/8/2026). RSUD Aeramo mengoperasikan rumah sakit lapangan setelah bangunan utama mengalami kerusaka( ANTARA FOTO/Johanes Viandinando/app/tom.)
JUMLAH korban meninggal akibat gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) bertambah mencapai 103 orang, Selasa (25/8) sore. Dari jumlah tersebut, kelompok lansia dan perempuan menjadi bagian terbesar dari korban. Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Berton SP Panjaitan, mengatakan jumlah korban meninggal bertambah tiga orang dibandingkan laporan Senin (24/8) sebanyak 100 orang.
Berdasarkan pendataan BNPB, korban meninggal tersebar di sejumlah kabupaten, dengan jumlah terbanyak berada di Kabupaten Manggarai sebanyak 41 orang dan Manggarai Timur 34 orang, disusul Nagekeo 13 orang, Sikka 6 orang, Ngada 5 orang, Ende 3 orang dan Manggarai Barat 1 orang.
“Adapun untuk jenis kelamin yang menjadi korban meninggal: laki-laki sebesar 45%, sedangkan perempuan 55%. Kelompok umur, kami dapat katakan bahwa yang terbesar itu adalah lansia sebesar 45%, dewasa sebesar 37%, anak-anak dan remaja sebanyak 12%, sisanya adalah balita dan batita,” kata Berton.
Menurut Berton, data tersebut menunjukkan tingginya dampak gempa terhadap kelompok usia lanjut. Selain korban meninggal, jumlah warga yang mengalami luka-luka juga terus bertambah.
Selain itu, BNPB juga mencatat tambahan 63 orang mengalami luka-luka, sehingga total korban luka mencapai 1.666 orang. Kabupaten Manggarai Timur menjadi salah satu wilayah dengan jumlah korban luka yang tinggi, yakni 239 orang luka berat dan 404 orang luka ringan, kemudian Manggarai, sedangkan di Manggarai tercatat 58 orang luka berat dan 474 orang luka ringan.
Menurut Berton, dampak gempa juga masih terlihat dari jumlah warga yang harus meninggalkan rumah. BNPB mencatat hingga Selasa sore, sebanyak 185.113 orang masih mengungsi, di lokasi pengungsian terpusat maupun secara mandiri.
"Dalam pembaruan terakhir, terdapat tambahan 4.804 pengungsi. Jumlah tersebut terutama berasal dari Kabupaten Manggarai, Nagekeo, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Sikka, Ende, dan Ngada," katanya..
Berton mengatakan bertambahnya warga yang mengungsi turut meningkatkan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi pemerintah, mulai dari makanan, sandang hingga kebutuhan lainnya.
“Tentu dalam pemenuhan logistik makan, sandang pangan, maupun pakaian dari para korban ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah, khususnya BNPB bekerja sama dengan kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah, serta dunia usaha dan berbagai pihak donatur lainnya,” ujarnya.
Di sisi lain, gempa susulan masih menjadi faktor yang memengaruhi kondisi psikologis warga. Berdasarkan data BMKG, hingga saat ini telah tercatat 7.029 kali gempa susulan dengan magnitudo terbesar 6,2 dan terkecil 1,1.“Pola ini akan terus berlangsung sampai 4 sampai 3 minggu setelah gempa utama terjadi,” ujar Berton.
Menurutnya, gempa susulan yang masih terjadi menyebabkan sebagian warga tetap merasa panik dan mengalami trauma, sehingga jumlah pengungsi masih berpotensi berubah. (H-4)











































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5340293/original/053973400_1757170402-20250906AA_Indonesia_U-23_vs_Macau-07_2.JPG)





