Seorang petugas tengah memadamkan api.(MI/Nurul Hidayah)
STATUS Awas kekeringan meteorologis untuk wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan (Ciayumajakuning) ditetapkan. Kebakaran hutan dan bencana lainnya diminta diwaspadai.
Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun BMKG Stasiun Klimatologi Bogor menetapkan status Awas kekeringan meteorologis untuk Wilayah Ciayumajakuning dan berlaku mulai 21 hingga 31 Agustus 2026.
“Status Awas pada informasi kekeringan meteorologis BMKG berarti wilayah Ciayumajakuning mengalami indikasi kekeringan yang sudah serius,” tutur Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kertajati, Kabupaten Majalengka, Muhammad Syifaul Fuad, melalui keterangan tertulis, Selasa (25/8).
Kondisi tersebut, lanjut Fuad dikarenakan hari tanpa hujan yang tercatat di Stasiun Meteorologi Kertajati dan Jatiwangi mencapai lebih dari 50 hari.
“Namun bukan berarti seluruh masyarakat di Wilayah Ciayumajakuning pasti mengalami krisis air. Melainkan risiko dampaknya sudah tinggi dan perlu tindakan antisipasi,” tutur Fuad.
Waspadai Karhutla
Dijelaskan Fuad, status Awas kekeringan meteorologis ini harus diperhatikan oleh masyarakat di sekitar kawasan hutan atau lahan kering. Pasalnya, kondisi hutan dan lahan yang kering meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Untuk sektor pertanian, terutama yang mengandalkan hujan untuk sawah atau ladang, juga meningkatkan risiko kekurangan air untuk tanaman. Masyarakat yang bergantung pada sumur dangkal, seperti mata air atau sumber air lokal, maka debit/ketersediaan airnya dapat menurun.
“Bagi para peternak juga perlu mengantisipasi ketersediaan air minum bagi ternaknya,” ungkap Fuad.
Kewaspadaan terhadap status Awas kekeringan meteorologis juga harus diperhatikan para pelaku industri yang membutuhkan air dalam proses produksinya.
“Bagi masyarakat umum, dianjurkan mulai menghemat penggunaan air dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran lahan,” tutur Fuad.
Dampak Status Awas Berbeda
Pada kesempatan yang sama Fuad pun mengungkapkan bahwa status Awas tidak otomatis terjadi kekeringan ekstrem di semua tempat di wilayah tersebut.
Ia menyatakan, meski kekeringan meteorologis menggambarkan defisit curah hujan, namun dampaknya terhadap masyarakat bisa berbeda-beda.
“Misalnya, satu desa masih memiliki sumber air yang cukup, sementara desa lain, yang hanya mengandalkan sumur dangkal, sudah mengalami kekurangan air,” katanya.
Selanjutnya Fuad pun mengimbau kepada masyarakat untuk mulai melakukan penghematan air.
“Mulai lakukan penghematan air, amankan kebutuhan air rumah tangga dan pertanian, serta tingkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran lahan,” ungkap Fuad. (UL)


















































