Banjir Bandang Nepal Korban Tewas Tembus 750 Jiwa, 3.000 Orang Masih Hilang

3 weeks ago 8
Banjir Bandang Nepal Korban Tewas Tembus 750 Jiwa, 3.000 Orang Masih Hilang Seorang anak melihat foto-foto orang hilang setelah banjir bandang, di sebuah rumah sakit di Kathmandu, Nepal, Jumat (28/8/2026).(AFP)

JUMLAH korban meninggal dunia akibat banjir bandang dan tanah longsor dahsyat yang melanda kawasan Himalaya, meliputi Nepal dan wilayah Tibet, Tiongkok, dilaporkan terus meningkat. Hingga Minggu (30/8), otoritas setempat mengonfirmasi total korban jiwa telah menembus angka 750 orang.

Selain korban tewas, lebih dari 3.000 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Berdasarkan data terbaru, proses pencarian dan penyelamatan masih menjadi prioritas utama di tengah medan yang sulit dan kerusakan infrastruktur yang masif.

Data Korban dan Operasi Penyelamatan

Di Nepal, sebanyak 2.498 orang masih dalam pencarian. Angka ini mencakup berbagai kelompok masyarakat, termasuk pekerja infrastruktur dan wisatawan mancanegara. Sementara itu, di wilayah Tibet, otoritas Tiongkok melaporkan 16 orang meninggal dunia dan 546 orang lainnya masih hilang.

Kategori Korban Hilang (Nepal) Jumlah
Pekerja Proyek PLTA 933
Warga Negara Asing (WNA) 589
Warga Lokal (Pendamping Wisatawan) 127
Warga Distrik Terdampak 849
Total Hilang di Nepal 2.498

Hampir 20.000 personel keamanan telah dikerahkan dalam operasi tanggap darurat. Sejauh ini, tim gabungan berhasil menyelamatkan 8.186 orang. Operasi evakuasi udara menggunakan helikopter juga telah memindahkan 279 pekerja PLTA dan 227 WNA ke lokasi yang lebih aman.

Pemicu Bencana dan Kendala Identifikasi

Bencana ini dipicu oleh longsoran gletser mendadak pada Rabu lalu di perbatasan Tiongkok-Nepal. Peristiwa tersebut melepaskan gelombang air dan puing dalam volume besar yang menerjang lembah-lembah Himalaya, menghancurkan desa-desa, serta memutus akses infrastruktur utama.

Kondisi di lapangan saat ini sangat memprihatinkan. Kapasitas kamar mayat di rumah sakit setempat telah penuh. Wakil Inspektur Jenderal Abi Narayan Kafle, juru bicara Kepolisian Nepal, mengungkapkan bahwa proses identifikasi jenazah sangat sulit dilakukan secara visual.

"Banyak jenazah yang ditemukan dalam keadaan termutilasi atau terputus akibat derasnya aliran banjir. Banyak pula yang terkubur di bawah lumpur tebal selama beberapa hari, sehingga identifikasi menjadi tantangan besar," ujar Kafle sebagaimana dilansir dari Anadolu.

Bantuan Internasional dan Pemantauan Risiko Susulan

Menghadapi situasi darurat ini, Pemerintah Nepal telah meminta bantuan internasional, khususnya untuk teknologi pendeteksi korban selamat, kemampuan penyelamatan di terowongan, serta analisis forensik DNA. India telah mengirimkan 11 personel tim pengintai penyelamatan terowongan, sementara Amerika Serikat mengumumkan bantuan kemanusiaan senilai US$3,6 juta (sekitar Rp55,8 miliar) untuk dukungan pangan darurat.

Di sisi lain, kekhawatiran akan banjir susulan akibat terbentuknya danau baru di Himalaya mulai mereda. Pejabat Tiongkok melaporkan bahwa volume air di danau tersebut telah menyusut drastis karena mengalir keluar secara alami, sehingga risiko gelombang banjir baru saat ini dinilai minimal.

Meskipun demikian, operasi pencarian tetap dilanjutkan di tengah medan pegunungan yang terjal dan cuaca yang tidak menentu, sementara ribuan keluarga masih menanti kepastian nasib anggota keluarga mereka. (Fer/I-1)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |