Kawasan permukiman rusak akibat banjir bandang dahsyat di Devighat, Nuwakot, Nepal, pada 27 Agustus 2026.(Anadolu Agency/Sunil Pradhan )
BENCANA banjir bandang dan tanah longsor dahsyat yang menerjang wilayah perbatasan Nepal dan Tiongkok menjadi alarm keras bagi negara-negara di kawasan Himalaya. Hingga Rabu (2/9), jumlah korban tewas akibat bencana yang terjadi pada 26 Agustus tersebut telah mencapai 1.130 orang, sementara ribuan lainnya masih dinyatakan hilang.
Bencana ini dipicu oleh retaknya gletser di Gunung Langtang Lirung, Nepal, pada ketinggian sekitar 5.200 meter. Retakan tersebut memicu longsoran es dan batu masif yang berkembang menjadi aliran material besar, menghantam lembah di sepanjang perbatasan kedua negara. Di Nepal, arus lumpur menghancurkan wilayah Rasuwa, Nuwakot, Dhading, Kavre, hingga Lembah Kathmandu. Sementara di sisi Tiongkok, material longsor mengubur pos perbatasan Gyirong di Tibet barat daya.
Data Korban dan Dampak Bencana
Operasi pencarian dan penyelamatan masih terus dilakukan di tengah medan yang sulit. Berikut adalah rincian data dampak bencana berdasarkan laporan terkini:
| Korban Tewas | 1.130 orang |
| Total Hilang (Nepal) | 3.916 orang |
| Personel PLTA Hilang | 639 orang |
| Lokasi Terdampak Utama | Rasuwa, Nuwakot, Lembah Kathmandu (Nepal), Pos Gyirong (Tiongkok) |
Risiko Bendungan di Kawasan Himalaya
Daanish Mustafa, profesor geografi kritis di King’s College London, memperingatkan bahwa keberadaan bendungan besar di pegunungan tinggi justru memperparah kerusakan akibat bencana gletser. Ia menyoroti proyek-proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang sedang masif dibangun oleh India, Tiongkok, dan Pakistan di kawasan tersebut.
"Bendungan di pegunungan tinggi justru memperbesar dan memperparah kerusakan akibat kejadian seperti ini. Dengan bendungan yang sudah beroperasi, kejadian semacam itu dapat menyebabkan jutaan kematian, bukan hanya beberapa ratus," ujar Mustafa kepada Anadolu.
Mustafa menambahkan bahwa bencana di lingkungan gletser yang dinamis dan aktif secara seismik seperti Himalaya dan Karakoram adalah hal yang tidak dapat dicegah sepenuhnya. Namun, dampak fatal dapat dikurangi melalui edukasi publik, latihan evakuasi, infrastruktur komunikasi yang efektif, serta pemantauan rutin.
Penyebab Iklim
Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyatakan bahwa tragedi ini merupakan dampak jangka panjang dari pemanasan iklim yang menyebabkan ketidakstabilan gletser. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Guo Jiakun, menjelaskan bahwa longsoran es dan batu meluncur cepat menuruni lereng dan mengikis sisi gunung sebelum menerjang pemukiman.
Meskipun klaim resmi telah dikeluarkan, para ahli menekankan pentingnya penilaian ilmiah independen untuk memahami secara utuh dinamika bencana ini guna mencegah tragedi serupa di masa depan bagi masyarakat Asia Selatan. (Anadolu/Ant/I-1)


















































