Tampilan jarak dekat suar matahari M6.9 dalam citra NOAA 19 (kiri).(Sisipan kiri: NOAA GOES 19, sisipan kanan dan grafik dibuat di Canva Pro)
PUSAT Prediksi Cuaca Antariksa (SWPC) di bawah Layanan Cuaca Nasional Amerika Serikat (NOAA) menerbitkan peringatan dini mengenai potensi badai geomagnetik tingkat sedang (G2). Peringatan ini dikeluarkan setelah Matahari melepaskan suar kuat bertipe M6.9 yang disertai lontaran massa korona (coronal mass ejection/CME) ke arah Bumi.
Erupsi suar Matahari tersebut berasal dari wilayah bintik Matahari aktif bernomor 4513. Puncak letupan tercatat terjadi pada pukul 06.00 EDT (10.00 GMT). Dalam kurun waktu 24 jam terakhir, kawasan bintik Matahari tersebut tergolong sangat aktif karena terus-menerus memicu gelombang erupsi, termasuk lima ledakan berukuran besar kategori kelas M.
Dampak awal dari erupsi M6.9 ini secara langsung menyebabkan pemadaman radio frekuensi tinggi skala sedang (kategori R2) di wilayah Bumi yang sedang terpapar sinar Matahari. Gangguan komunikasi radio gelombang pendek ini terutama berdampak di kawasan Afrika, Eropa, hingga area Arktik.
Selain suar radiasi, erupsi tersebut turut melepaskan semburan plasma dan medan magnet raksasa atau CME yang saat ini bergerak menuju orbit Bumi. Berdasarkan pemodelan antariksa, aliran CME diperkirakan mulai tiba dan menerjang medan magnet Bumi pada akhir pekan ini.
Guna mengantisipasi dampak dari fenomena antariksa tersebut, NOAA menetapkan status waspada badai geomagnetik skala ringan (G1) untuk Kamis (27/8/2026), akibat terjangan angin Matahari berkecepatan tinggi dari lubang korona. Sementara itu, peringatan badai geomagnetik tingkat sedang (G2) disiapkan untuk Jumat (28/8/2026) seiring tibanya gelombang CME utama.
Kombinasi antara aliran angin Matahari cepat dan terjangan CME berpotensi meningkatkan aktivitas geomagnetik di atmosfer atas Bumi. Apabila medan magnetik CME yang datang berorientasi kuat ke arah selatan, interaksi dengan perisai magnetik Bumi akan berlangsung jauh lebih intens.
Kondisi badai geomagnetik skala G2 umumnya dapat membawa dampak positif bagi para pengamat langit (aurora chasers). Dampak fenomena ini berpotensi mendorong kemunculan fenomena aurora borealis (northern lights) meluas hingga ke wilayah lintang yang lebih rendah dari biasanya, mencakup bagian utara Amerika Serikat dan Eropa utara. (Space/Z-2)


















































