Awas! Kebiasaan Sarapan Terlalu Siang Berpengaruh pada Risiko Kematian Dini

3 weeks ago 21
Awas! Kebiasaan Sarapan Terlalu Siang Berpengaruh pada Risiko Kematian Dini ilustrasi(Magnific)

RISET terbaru menekankan bahwa kesehatan tubuh tidak hanya ditentukan oleh jenis nutrisi yang dikonsumsi, melainkan juga waktu pertama kali seseorang menyantap hidangan sarapan.

Dikutip New York Post, sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam European Journal of Clinical Nutrition mengungkapkan bahwa mengundur waktu makan pertama hingga melampaui tengah hari berkaitan erat dengan peningkatan risiko kematian dini akibat berbagai penyebab hingga 29 persen.

Penelitian yang mengamati pola makan lebih dari 31.000 orang dewasa berusia 40 tahun ke atas tersebut mengukur rentang waktu antara konsumsi kalori pertama dan terakhir dalam sehari yang dikenal sebagai eating window (jendela makan).

Rincian Peningkatan Risiko Berdasarkan Jam Makan

Dari catatan konsumsi harian para peserta, peneliti menemukan pola konsisten bahwa makin siang seseorang menyantap makanan pertama, makin tinggi pula risiko kesehatan yang dihadapi.

  • Pukul 07.00–08.00: Menjadi basis acuan waktu makan paling ideal.
  • Pukul 08.00–10.00: Memiliki risiko kematian dini 10 persen lebih tinggi dibanding kelompok acuan.
  • Pukul 10.00–12.00: Peningkatan risiko kematian dini melonjak hingga 19 persen.
  • Setelah Tengah Hari (Lewat Pukul 12.00): Menunjukkan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular (seperti serangan jantung dan stroke) 46 persen lebih tinggi.

Selain itu, bagi kelompok peserta berusia 50 tahun ke atas yang terbiasa mengonsumsi makanan pertama lebih siang, angka harapan hidup rata-rata tercatat hampir 2,5 tahun lebih pendek.

Meski memberikan wawasan baru terkait ritme sirkadian dan nutrisi, para peneliti menggarisbawahi beberapa keterbatasan dalam studi ini. Pengamatan pola makan peserta hanya dilakukan dalam satu periode 24 jam, sementara variabel lain seperti kualitas tidur, tingkat aktivitas fisik, dan faktor gaya hidup harian belum terukur secara menyeluruh.

Penulis senior penelitian tersebut, Zhilei Shan, mengingatkan publik agar tidak menafsirkan temuan ini sebagai bukti hubungan sebab-akibat langsung bahwa terlambat sarapan secara otomatis menyebabkan kematian.

“Makan lebih lambat sebaiknya dipandang sebagai penanda risiko potensial, dan mungkin sebagai perilaku yang dapat diubah, bukan sebagai bukti definitif adanya hubungan sebab-akibat langsung,” tegas Shan, seperti dikutip dari laporan New York Post, Jumat (28/8). (Ant/P-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |