Selat Hormuz(AFP)
PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump menyambut positif potensi penggunaan wilayah Suriah sebagai jalur transit alternatif pengganti Selat Hormuz untuk mengangkut minyak dan barang komoditas dari kawasan Teluk Persia menuju pasar global.
Melalui unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social, Trump memberikan apresiasi terhadap prospek pengembangan rute logistik baru yang melintasi gurun Suriah tersebut.
"INI LUAR BIASA!" tulis Trump merespons laporan koridor transit baru tersebut pada Kamis (3/9).
Dukungan Trump merujuk pada laporan The Washington Post yang mengungkapkan bahwa Suriah tengah bertransformasi menjadi pusat (hub) transit strategis. Jalur ini tidak hanya dirancang untuk pengiriman minyak dan gas bumi, tetapi juga komoditas perdagangan umum guna menghindari risiko geopolitik di Selat Hormuz.
Saat ini, sekitar 5.000 truk pengangkut minyak dari kawasan Teluk Persia dilaporkan telah beroperasi secara konstan melintasi gurun Suriah menuju kawasan pantai Laut Mediterania.
Selain angkutan darat, dukungan pemerintah AS juga diwujudkan melalui proyek infrastruktur raksasa yang melibatkan perusahaan energi Chevron:
- Nilai Investasi Proyek: US$5,7 miliar (sekitar Rp100 triliun).
- Rute Pipa Minyak: Membentang dari Basrah (Irak) menuju Pelabuhan Baniyas (Suriah).
- Kapasitas Distribusi: Diproyeksikan mencapai 2 juta barel minyak per hari.
- Muara Distribusi: Minyak mentah akan langsung dikapalkan melintasi jalur perairan Laut Mediterania.
Langkah pengalihan rute energi ini sejalan dengan arah kebijakan ekonomi internasional pemerintahan AS. Sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa dominasi Selat Hormuz sebagai urat nadi perdagangan minyak dunia akan segera memudar.
"Selat Hormuz akan kehilangan statusnya sebagai jalur perdagangan penting dalam dua tahun dan menjadi jalur air yang 'tidak berharga'," ujar Bessent pada Selasa (1/9/2026).
Dengan pembukaan koridor Suriah dan pembangunan pipa minyak lintas negara, AS dan para mitranya berupaya menciptakan jalur alternatif yang stabil guna menjamin kelancaran pasokan energi global tanpa bergantung pada dinamika Selat Hormuz. (Ant/Sputnik/P-4)


















































