APEC bahas penyuntingan gen untuk perkuat ketahanan pangan kawasan

3 days ago 11

Jakarta (ANTARA) - Delegasi negara dan wilayah anggota Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) memperkuat kerja sama berbasis sains dalam pemanfaatan penyuntingan gen tanaman dan ternak untuk meningkatkan ketahanan pangan kawasan.

Pembahasan itu mengemuka dalam Dialog Kebijakan Tingkat Tinggi tentang Bioteknologi Pertanian di Dalian, China, awal pekan ini. Forum tersebut membahas berbagai inovasi sekaligus penguatan prinsip keamanan dalam penerapan bioteknologi pertanian.

Ketua forum, Li Xin Hai, mengatakan bioteknologi pertanian, termasuk rekayasa transgenik, penyuntingan gen, dan biologi sintetis, telah mendorong transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

"Seiring dengan perkembangan kecerdasan buatan (AI), teknologi-teknologi ini memberikan solusi baru bagi ketahanan pangan, upaya mengatasi perubahan iklim, serta mendorong pembangunan pertanian yang berkelanjutan," ujar Li, dikutip dari keterangan resmi APEC yang dirilis Kamis.

Menurut dia, perkembangan teknologi tersebut membuka peluang bagi negara-negara APEC untuk memperkuat produktivitas pertanian sekaligus merespons tantangan perubahan iklim dan kebutuhan pangan yang terus meningkat.

Para delegasi memaparkan perkembangan pembiakan presisi (precision breeding), salah satu penerapan teknologi penyuntingan gen, telah memberikan hasil nyata dan mulai diadopsi pada berbagai komoditas buah, sayuran, dan daging.

Para pakar menjelaskan penyuntingan genom dapat meningkatkan toleransi tanaman terhadap kekeringan, mempertahankan produktivitas dengan penggunaan pupuk yang lebih sedikit, serta meningkatkan kandungan gizi tanaman.

Penyuntingan gen dan atau genom sendiri merupakan teknologi modern yang memungkinkan ilmuwan mengubah DNA makhluk hidup secara lebih terarah. Teknologi ini dapat menambah, menghapus, atau mengganti bagian tertentu dari kode genetik untuk menghasilkan varietas tumbuhan maupun hewan dengan karakteristik yang diinginkan.

Forum tersebut juga membahas pengembangan varietas beras dengan indeks glikemik lebih rendah dan kandungan protein lebih tinggi. Varietas tersebut dinilai berpotensi memperlambat pelepasan gula ke dalam aliran darah setelah dikonsumsi dan menjadi salah satu alternatif pangan bagi penderita diabetes.

Meski menawarkan berbagai manfaat, penerimaan masyarakat terhadap pangan hasil rekayasa genetik masih menghadapi tantangan. Sebagian konsumen menilai produk tersebut berisiko terhadap kesehatan atau kurang aman untuk dikonsumsi.

Menghadapi keraguan tersebut, para delegasi menekankan pentingnya penerapan regulasi berbasis sains yang dievaluasi secara kasus per kasus serta mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi baru.

Evaluasi keamanan, menurut mereka, perlu mencakup aspek keamanan pangan dan risiko lingkungan pada setiap tahap pengembangan produk. Proses tersebut juga perlu didukung pengujian berbasis data agar inovasi dapat diadopsi petani dengan tetap menjaga keamanan hayati (biosafety).

Selain regulasi, edukasi dan komunikasi publik yang konsisten dinilai penting untuk membangun pemahaman serta meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap pangan hasil modifikasi genom.

"Anggota APEC memiliki tingkat pembangunan, sumber daya, dan praktik regulasi yang berbeda-beda, sehingga wajar jika kita memiliki prioritas dan kekhawatiran yang beragam terkait bioteknologi pertanian. Namun, justru keberagaman inilah yang membuat pertukaran informasi menjadi sangat vital dan kerja sama kita menjadi sangat diperlukan," kata Li.

Forum tingkat tinggi di Dalian tersebut menjadi agenda pendahuluan menuju Pertemuan Tingkat Menteri APEC tentang Ketahanan Pangan yang dijadwalkan berlangsung di Hangzhou, China, pada 25 Agustus mendatang.

Baca juga: Pejabat senior anggota APEC bahas kesehatan mental, mitigasi bencana

Baca juga: Indonesia ajak anggota APEC bergabung dalam World Mangrove Center

Pewarta: Uyu Septiyati Liman
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |