“Apa Gunanya Hidup Lagi?” Duka Ibu di Nepal Selamat di Dahan Pohon tapi Kehilangan Putra Tunggalnya

3 weeks ago 19
“Apa Gunanya Hidup Lagi?” Duka Ibu di Nepal Selamat di Dahan Pohon tapi Kehilangan Putra Tunggalnya Seorang wanita menyelamatkan barang-barangnya dari rumahnya yang tertutup lumpur tebal setelah banjir bandang di Devighat, distrik Nuwakot, Nepal.(MANAN VATSYAYANA / AFP)


“Apa Gunanya Hidup Lagi?” Duka Ibu di Nepal Selamat di Dahan Pohon tapi Kehilangan Putra Tunggalnya

TIGA perempuan duduk bersama di dalam tenda pengungsian pengungsian di kota Bidur, Nepal. Mereka meratapi anak, suami dan rumah-rumah mereka yang tersapu banjir dahsyat pada Rabu (26/8). 

Banjir bandang yang menerjang kawasan Pegunungan Himalaya tidak hanya meluluhlantakkan permukiman, tetapi juga menyapu ratusan nyawa serta memisahkan keluarga.

Di posko pengungsian militer, para pengungsi membagikan detik-detik mencekam saat gelombang air bercampur lumpur menerjang desa mereka tanpa peringatan. Sangke Dolma Tamang, 61, warga Mailung, menceritakan bagaimana suaminya terlepas dari genggamannya dan tersapu arus deras saat mereka berusaha menyelamatkan diri ke tempat tinggi.

“Orang lain mencoba menariknya ke tempat aman, tetapi banjir menyapunya,” katanya, air mata mengalir di pipinya yang keriput. Dia mengatakan, kini tidak ada yang tersisa dari desanya. Dia menghabiskan satu malam berlindung di tempat yang lebih tinggi, sampai helikopter tentara datang dan membawanya ke tempat aman di barak. Putranya juga hilang sejak bencana tersebut, dan dia menunggu dengan cemas setiap kabar yang ada.

“Sekarang saya tidak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan dalam hidup,” kata Tamang. “Seluruh rumah hilang. Kami tidak bisa menyelamatkan apa pun.”

Kisah serupa dialami Murali Maiya Tamang, 60, yang ditemukan selamat dalam kondisi tergantung di pohon setelah rumahnya rata dengan tanah. Wanita yang telah kehilangan suaminya pada gempa bumi Nepal 2015 ini kini harus menghadapi kenyataan pahit lantaran putra tunggalnya turut hilang tersapu banjir.

“Suami saya sudah meninggal dalam gempa bumi Nepal tahun 2015,” katanya. “Sekarang banjir ini telah mengambil satu-satunya putra yang saya miliki. Saya sendirian sekarang. Apa gunanya hidup sekarang?”

Banyak orang di barak menunggu kabar tentang ayah, saudara laki-laki, dan suami mereka yang telah bekerja di proyek-proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di sepanjang Sungai Bhote Koshi. Puluhan pekerja dilaporkan terjebak di dalam terowongan yang tertutup material lumpur tipis, meski sebagian di antaranya telah berhasil dievakuasi oleh tim penyelamat.

Hingga hari kedua pascabencana, otoritas setempat mencatat sedikitnya 579 orang tewas dan lebih dari 1.900 orang masih dinyatakan hilang. Tim SAR memperkirakan angka korban akan terus meningkat mengingat kawasan terdampak parah seperti Distrik Rasuwa hanya dapat dijangkau menggunakan helikopter akibat terputusnya jalur darat.

Juru Bicara Tentara Nepal, Brigjen Raja Ram Basnet, menegaskan bahwa operasi evakuasi udara terus dikerahkan tanpa henti untuk menjangkau lokasi-lokasi terisolasi. Pihak militer memprioritaskan penyaluran logistik berupa air bersih dan makanan serta pencarian korban yang diduga masih bertahan hidup.

Senada dengan militer, Menteri Dalam Negeri Nepal, Sudan Gurung, menyatakan pemerintah mengerahkan seluruh sumber daya untuk melacak keberadaan ribuan korban hilang, baik warga lokal maupun warga negara asing. Pemerintah mengimbau warga untuk tidak mendekati area reruntuhan mengingat struktur tanah yang masih sangat labil dan berisiko memicu tanah longsor susulan.

(Theguardian/P-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |