Alan Sahroni, warga Subang berhasil menyulap limbah daun nanas menjadi serat tekstil ramah lingkungan.(MI/BAYU ANGGORO)
ASAP pembakaran daun nanas dulunya menjadi pemandangan keseharian di langit Desa Cikadu, Kabupaten Subang. Alih-alih mendatangkan kebaikan, tumpukan limbah pascapanen seluas 1 hektare kebun nanas yang menghasilkan hingga 14 ton limbah itu justru menjadi bumerang.
Selain menyumbang emisi gas rumah kaca, asap beracun tersebut sempat memicu lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), menempatkannya sebagai penyakit terbanyak kedua di desa tersebut pada 2020 dengan 878 kasus.
Di tengah keprihatinan itu, secercah asa lahir dari tangan dingin Alan Sahroni.
Berbekal ketulusan dan konsistensi luar biasa, pemuda lokal binaan Pertamina EP (PEP) Subang Field ini berhasil menyulap limbah pertanian yang kerap dibuang menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi.
Buah dari konsistensi tersebut mengantarkannya meraih penghargaan Gold untuk kategori Best Local Hero pada ajang Community Involment and Development (CID) Upstream Award 2026 yang dihelat oleh PT Pertamina Hulu Energi di Jakarta, pertengahan Agustus lalu.
Alan menceritakan perjalannya yang tidak instan. Bersama PEP Subang Field, ia awalnya menginisiasi kelompok Pinlefi (pineapple leaf fiber) melalui program Pesona Subang untuk mengolah limbah daun menjadi serat tekstil ramah lingkungan dengan konsep zero waste. Inovasi tersebut kian bertransformasi pada 2024 melalui program Serat Cinta (Sinergi Ekonomi Rakyat berbasis Alam Terbarukan melalui Cipta Inovasi dan Nilai Tambah).
Bersama PEP Subang Field, dibentuklah kelompok Pinlefi (Pineapple Leaf Fiber) melalui program Pesona Subang (Pemanfaatan Serat Olahan Daun Nanas Subang) untuk mengolah limbah daun menjadi serat tekstil bernilai tinggi dan ramah lingkungan (zero waste).
Alan memodifikasi mesin dekortikator buatannya menjadi mesin multifungsi, yang mampu mengekstraksi tidak hanya daun nanas, tapi juga batang pohon (gedebog) pisang menjadi benang, kain, hingga produk eco-fashion dan kerajinan.
Program Serat Cinta dari Pesona Subang turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGS) Tujuan ke 12 yaitu Pengolahan limbah untuk kesejahteraan masyarakat dan menjadi bagian dari implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) PT Pertamina EP dalam menciptakan manfaat sosial, ekonomi, dan lingkungan secara berkelanjutan.
Hingga kini, program ini telah memberdayakan 44 warga lokal yang terdiri dari petani, pemuda, hingga kelompok perempuan dengan kapasitas produksi mencapai 160 kg serat kering per bulan. Petani yang dahulu membuang limbah, kini mengantongi pendapatan tambahan.
Sementara para penenun dan operator mesin mendapatkan sumber penghidupan yang layak.
"Keberhasilan program tidak diukur dari banyaknya produk yang dihasilkan semata, tetapi dari berapa banyak masyarakat yang kembali berdaya, mandiri, dan tersenyum karena potensi lokalnya dihargai," kata Alan, Senin (31/8).
DAMPINGI ALAN
Sementara itu, Senior Manager Pertamina EP Subang Field, Despredi Akbar, menyampaikan apresiasi atas pencapaian Alan, sekaligus menegaskan komitmen keberlanjutan perusahaan.
"Penghargaan Gold Best Local Hero ini adalah bukti nyata bahwa kolaborasi yang dilandasi niat tulus mampu menghadirkan perubahan besar bagi masyarakat. Pertamina EP Subang Field akan terus mendampingi dan memberikan dukungan penuh kepada para local hero, seperti Kang Alan. Kami percaya pemberdayaan sejati lahir dari kemandirian masyarakat, dan kami berkomitmen untuk hadir dan tumbuh bersama warga sekitar area operasi secara harmonis dan berkelanjutan", ujarnya.
Melalui sentuhan teknologi tepat guna dan niat tulus untuk kebermanfaatan sesama, Alan Sahroni dan PEP Subang Field membuktikan bahwa dari limbah daun nanas dan batang pohon pisang, dapat dirajut asa dan masa depan yang lebih cerah bagi Indonesia, dari Desa Cikadu, Subang.
Capaian Alan Sahroni di CID Upstream Award 2026 menjadi gambaran bahwa perubahan dapat tumbuh dari potensi yang sederhana ketika masyarakat memiliki ruang untuk berinovasi dan berkembang. Tidak hanya memperbaiki tata kelola limbah daun nanas dan batang pohon pisang, tetapi juga menjadikan daun nanas dan pohon pisang sebagai komoditas bernilai tinggi yang dapat meningkatkan kualitas sosial ekonomi masyarakat sekitar.


















































