Aktivitas Gunung Anak Krakatau Terpantau Meningkat

4 hours ago 3

AKTIVITAS Gunung Anak Krakatau terpantau mengalami peningkatan dalam beberapa hari terakhir. Menurut pelaksana tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria, peningkatan gejala magmatisme bisa menjadi awal peningkatan aktivitas gunung api yang berlokasi di perairan Selat Suda itu untuk menghasilkan erupsi.

“Potensi ancaman bahaya jika terjadi erupsi berasal dari landaan awan panas, lava, dan lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat,” kata Lana dalam keterangannya pada Minggu dinihari, 21 Juni 2026.  

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Sejak 1 Juni 2026, satelit Sentinel memperlihatkan adanya emisi gas SO2 atau sulfur dioksida dan anomali panas dari Gunung Anak Krakatau. Selain itu juga terpantau kemunculan titik api di kawah sejak 10 Juni. Gejala itu disertai dengan munculnya asap dari kawah dengan intensitas cukup tinggi, dan peningkatan jumlah gempa yang berasosiasi dengan gempa vulkanik dangkal secara signifikan.

Pada 18-19 Juni, jumlah gempa embusan, hibrida atau fase banyak, dan low frequency meningkat drastis dengan rata-rata kejadian lebih dari 50 kali setiap harinya. Walau tidak disertai dengan peningkatan gempa vulkanik yang berasosiasi gempa dalam dan deformasi, menurut Lana, peningkatan gempa yang berasosiasi dengan gempa vulkanik dangkal itu mengindikasikan adanya dinamika magma Gunung Anak Krakatau di bagian permukaan.

“Meskipun terjadi peningkatan gejala magmatisme permukaan, status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih dalam level II atau Waspada,” ujarnya. 

Badan Geologi merekomendasikan agar masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau dan pengunjung, wisatawan, pendaki, tidak memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 2 kilometer dari pusat aktivitas gunung. Selain juga meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya awan panas, lava, dan lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.

Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung juga diharapkan tenang dan tidak mempercayai isu-isu tentang erupsi Gunung Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami. Sebaliknya, Badan Geologi berharap masyarakat dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat.

Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A di perairan Selat Sunda, yang secara administrasi termasuk dalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Pengamatan kondisi Gunung Anak Krakatau dilakukan melalui dua pos pengamatan di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, serta di Pasauran, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.

Berdasarkan riwayatnya Gunung Krakatau pada 1883 pernah erupsi besar hingga menghasilkan tsunami. Selain itu, guncangan gempa bumi memicu erupsi Anak Krakatau dan longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau yang menimbulkan tsunami di kawasan Selat Sunda pada 22 Desember 2018.

Setelah itu, seri erupsi berskala rendah terus berlangsung sebagai fase konstruksi pertumbuhan kembali Gunung Anak Krakatau hingga 16 Desember 2023. Jeda erupsi masih berlangsung hingga saat ini. Gunung api di Selat Sunda itu terus memperlihatkan aktivitas magmatik berenergi rendah.  

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |