Ahli: Rokok Memang Penyebab Kanker, tapi Utamanya bukan dari Unsur Nikotin

3 weeks ago 6
 Rokok Memang Penyebab Kanker, tapi Utamanya bukan dari Unsur Nikotin ilustrasi(Antara)

Rokok terbukti meningkatkan risiko kanker. Bahaya tersebut terutama berkaitan dengan berbagai senyawa berbahaya yang terbentuk dalam proses pembakaran tembakau. Sementara itu, nikotin lebih dikenal sebagai senyawa yang menyebabkan ketergantungan dan bukan diklasifikasikan sebagai zat karsinogenik.

Peneliti Departemen Kimia Institut Pertanian Bogor (IPB) Mohammad Khotib menjelaskan, nikotin merupakan senyawa alkaloid alami yang terdapat pada tembakau dan sejumlah tanaman dari keluarga Solanaceae. Senyawa tersebut dapat memengaruhi sistem saraf pusat dan memicu pelepasan dopamin yang menimbulkan rasa nyaman sehingga mendorong ketergantungan.

Menurut Khotib, International Agency for Research on Cancer (IARC) tidak mengklasifikasikan nikotin sebagai zat karsinogenik. Risiko kanker akibat rokok lebih banyak berkaitan dengan paparan berbagai senyawa berbahaya yang dihasilkan ketika tembakau dibakar.

Proses pembakaran rokok dapat mencapai suhu sekitar 900 derajat Celsius dan menghasilkan lebih dari 7.000 senyawa kimia. Dari jumlah tersebut, sekitar 70 diketahui bersifat karsinogenik dan dapat merusak DNA maupun jaringan tubuh. Sejumlah senyawa berbahaya tersebut antara lain tobacco-specific nitrosamines (TSNAs), benzena, 1,3-butadiena, benzo[a]pyrene, formaldehida, tar, serta karbon monoksida.

“Nikotin dapat menyebabkan ketergantungan karena memicu pelepasan dopamin pada sistem penghargaan di otak, yang menimbulkan rasa nyaman dan mendorong seseorang untuk terus merokok. Inilah yang membuat kebiasaan merokok sulit dihentikan. Meski demikian, mekanisme ketergantungan akibat nikotin berbeda dengan proses kerusakan atau mutasi sel yang dapat memicu kanker,” ujar Khotib.

Nikotin Tetap Bukan Zat Bebas Risiko

Meski bukan diklasifikasikan sebagai zat karsinogenik, Khotib menegaskan nikotin tetap memiliki risiko bagi kesehatan. Senyawa tersebut dapat menyebabkan ketergantungan, meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, serta berpotensi memengaruhi perkembangan otak pada remaja dan janin.

Karena itu, produk yang mengandung nikotin tidak diperuntukkan bagi anak-anak, remaja, maupun kelompok rentan.

Khotib menilai pemahaman mengenai perbedaan antara nikotin dan senyawa hasil pembakaran penting agar masyarakat dapat memperoleh informasi yang lebih akurat mengenai risiko penggunaan produk tembakau.

“Pemahaman yang tepat membantu masyarakat membedakan antara adiksi yang dipicu oleh nikotin, sedangkan kerusakan jaringan serta kanker dipicu oleh paparan senyawa toksik dan karsinogen hasil pembakaran tembakau,” jelasnya.

Kajian Produk Tembakau Alternatif Perlu Diperkuat

Di sisi lain, karakteristik dan profil risiko berbagai produk berbasis nikotin dinilai perlu terus dikaji melalui penelitian ilmiah. Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) Ariyo Bimmo mengatakan, setiap produk perlu dinilai berdasarkan karakteristik dan bukti ilmiahnya masing-masing.

Menurut Ariyo, perbedaan produk dapat dilihat antara lain dari ada atau tidaknya proses pembakaran, jenis emisi atau aerosol yang dihasilkan, kandungan produk, pola konsumsi, hingga potensi paparan terhadap orang lain.

“Produk tembakau alternatif memiliki karakteristik yang berbeda dari rokok, maka menyamakannya justru tidak proporsional. Jadi perbedaan yang dilihat itu ada atau tidaknya proses pembakaran, misalnya. Kemudian jenis emisi atau aerosol yang dihasilkan, kandungan produk, pola konsumsi, potensi paparan terhadap orang lain, kemudian pola konsumsi di masyarakat. Ini semua basisnya sains,” katanya.

Ariyo menilai semakin banyak data dan kajian ilmiah dapat membantu memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai karakteristik, profil paparan, dan risiko setiap produk.

“Kebijakan harus bertumpu pada data, kajian ilmiah, dan evaluasi berkala,” tutupnya. (E-3)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |