7 tanda gunung api akan meletus yang perlu diketahui

5 hours ago 3

Jakarta (ANTARA) - Aktivitas gunung api di Indonesia kembali menjadi perhatian setelah Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami erupsi menerus pada 5 September 2026. Badan Geologi mencatat aktivitas vulkanik gunung tersebut masih berlangsung dan statusnya berada pada Level III atau Siaga. Dalam pemantauan 6-7 September, tercatat sejumlah gempa vulkanik, termasuk gempa letusan, gempa hembusan, gempa frekuensi rendah, serta gempa hybrid atau fase banyak.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa erupsi gunung api sebenarnya tidak selalu terjadi tanpa tanda. Sebelum material vulkanik keluar ke permukaan, biasanya terdapat perubahan pada sistem gunung api yang dapat dipantau menggunakan berbagai instrumen.

Namun, tanda-tanda tersebut bukan berarti setiap perubahan pasti berujung pada erupsi. Para ahli perlu melihat berbagai parameter secara bersamaan untuk mengetahui apakah aktivitas gunung sedang meningkat atau justru kembali normal.

Lantas, apa saja tanda gunung api akan meletus yang perlu diketahui?

1. Gempa vulkanik semakin sering

Salah satu parameter penting yang dipantau adalah aktivitas kegempaan.

Ketika magma bergerak naik atau terjadi perubahan tekanan di dalam gunung, batuan di sekitarnya dapat mengalami rekahan. Proses tersebut bisa menghasilkan gempa vulkanik.

Jika jumlah atau jenis gempa mengalami peningkatan dibandingkan kondisi normal gunung tersebut, hal itu dapat menjadi salah satu petunjuk adanya perubahan aktivitas.

Namun, bukan berarti satu kali gempa langsung menandakan gunung akan meletus. Ahli vulkanologi biasanya melihat pola kegempaan dalam periode tertentu dan membandingkannya dengan parameter lainnya.

Pada Gunung Anak Krakatau, misalnya, Badan Geologi mencatat berbagai jenis gempa selama aktivitas erupsi September 2026. Data tersebut menjadi bagian dari evaluasi perkembangan aktivitas gunung.

Baca juga: Tiga gunung api aktif di Indonesia meletus pada Selasa malam

2. Tubuh gunung mengalami perubahan bentuk

Tanda lainnya adalah deformasi atau perubahan bentuk tubuh gunung.

Ketika magma bergerak dan berkumpul di bawah permukaan, tekanan di dalam sistem gunung api dapat meningkat. Kondisi ini dapat menyebabkan permukaan gunung sedikit mengembung atau mengalami perubahan posisi.

Perubahannya mungkin sangat kecil dan tidak dapat dilihat langsung oleh mata. Karena itu, para ahli menggunakan alat seperti GPS, tiltmeter, dan metode pengukuran lainnya untuk mendeteksinya.

Penelitian Badan Geologi terhadap Gunung Papandayan, misalnya, menunjukkan adanya hubungan antara perubahan deformasi tubuh gunung dan aktivitas kegempaan.

3. Gas vulkanik mengalami perubahan

Magma membawa berbagai jenis gas yang dapat keluar melalui kawah atau rekahan di tubuh gunung.

Ketika kondisi di dalam gunung berubah, jumlah maupun komposisi gas yang dilepaskan juga dapat berubah. Karena itu, pengukuran gas vulkanik menjadi salah satu bagian dari pemantauan aktivitas gunung api.

Perubahan gas ini tidak selalu bisa diketahui hanya dengan melihat kawah. Diperlukan pengukuran dan analisis khusus untuk mengetahui apakah terdapat perubahan yang signifikan.

Baca juga: Gunung Sinabung kembali meletus, ini wilayah yang perlu diwaspadai

4. Suhu di sekitar kawah meningkat

Peningkatan suhu juga dapat menjadi salah satu tanda adanya perubahan aktivitas vulkanik.

Jika magma bergerak semakin dekat ke permukaan, panas yang berasal dari dalam bumi dapat memengaruhi area di sekitar kawah. Kondisi tersebut dapat terlihat dari perubahan suhu kawah, air kawah, atau aktivitas fumarola.

Meski begitu, suhu yang berubah tidak bisa langsung diartikan sebagai tanda erupsi akan segera terjadi. Data tersebut tetap perlu dibandingkan dengan hasil pemantauan lainnya.

5. Asap atau hembusan dari kawah berubah

Gunung api aktif memang dapat mengeluarkan asap atau uap dalam kondisi normal. Karena itu, munculnya asap saja belum tentu berarti gunung akan meletus.

Yang lebih penting adalah perubahan dari kondisi biasanya.

Misalnya, terjadi peningkatan intensitas hembusan, perubahan warna, atau munculnya material vulkanik. Perubahan seperti itu kemudian diamati bersama data kegempaan, gas, deformasi, dan parameter lainnya.

6. Air kawah dapat mengalami perubahan

Pada gunung api yang memiliki danau kawah, perubahan kondisi air juga dapat menjadi salah satu parameter yang diperhatikan.

Perubahan warna, suhu, atau kondisi air dapat berkaitan dengan perubahan sistem hidrotermal di bawah gunung. Namun, perubahan tersebut juga bisa dipengaruhi oleh faktor lain sehingga tidak bisa digunakan sebagai satu-satunya patokan untuk memprediksi erupsi.

Baca juga: Badan Geologi: Erupsi menerus Gunung Anak Krakatau telah berakhir

7. Munculnya suara atau aktivitas dari kawah

Peningkatan aktivitas di dalam gunung terkadang dapat disertai suara gemuruh, dentuman, atau perubahan aktivitas di sekitar kawah.

Namun, suara dari gunung bukanlah indikator tunggal yang bisa digunakan untuk memastikan erupsi akan terjadi. Suara tersebut harus dilihat bersama data pemantauan lainnya.

Karena itu, masyarakat sebaiknya tidak langsung panik ketika mendengar suara dari gunung api. Informasi resmi dari PVMBG dan Badan Geologi jauh lebih penting untuk menentukan kondisi gunung.

Tidak semua tanda berarti erupsi akan segera terjadi

Ini bagian yang penting untuk dipahami.

Gunung api merupakan sistem yang sangat kompleks. Peningkatan gempa, perubahan bentuk gunung, perubahan gas, atau peningkatan suhu memang dapat menunjukkan adanya perubahan aktivitas. Tetapi tanda tersebut tidak otomatis berarti erupsi besar akan terjadi dalam waktu dekat.

Aktivitas magma bisa kembali menurun atau berhenti sebelum mencapai permukaan.

Karena itu, ahli vulkanologi menggunakan banyak parameter sekaligus untuk menentukan perkembangan aktivitas gunung. Pemantauan dilakukan secara terus-menerus agar perubahan kondisi dapat diketahui sedini mungkin.

Mengetahui tanda-tanda aktivitas gunung api bukan berarti masyarakat harus mencoba memprediksi sendiri kapan gunung akan meletus.

Justru sebaliknya, pengetahuan tersebut membantu masyarakat memahami mengapa status gunung bisa dinaikkan atau diturunkan oleh pihak berwenang.

Ketika aktivitas meningkat, masyarakat yang tinggal di kawasan rawan juga perlu lebih memperhatikan informasi resmi dan rekomendasi dari PVMBG, Badan Geologi, pemerintah daerah, serta instansi kebencanaan.

Peristiwa Gunung Anak Krakatau pada September 2026 menjadi salah satu contoh bahwa aktivitas gunung api dapat berubah dan perlu dipantau secara berkelanjutan. Badan Geologi terus mengevaluasi kegempaan dan berbagai parameter lain untuk menentukan perkembangan aktivitasnya

Baca juga: 11 gunung api di Indonesia yang erupsi sepanjang 2026

Baca juga: Polres Cianjur bersihkan abu vulkanik dengan dua water canon

Pewarta: Raihan Fadilah
Editor: Suryanto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |