Proses pemadaman karhutla yang terjadi di Pekalongan melibatkan berbagai elemen.(MI/Akhmad Safuan)
KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) di Jawa Tengah mengalami lonjakan drastis hingga 700 persen hingga Minggu (23/8) dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Berdasarkan data terbaru, tercatat sebanyak 232 kejadian kebakaran yang menghanguskan ratusan hektare area vegetasi dan infrastruktur pembuangan sampah.
Pemantauan Media Indonesia pada Selasa (25/8) menunjukkan bahwa meskipun skala kebakaran tidak sebesar di wilayah Kalimantan atau Sumatra, frekuensi kebakaran di Jawa Tengah selama periode Juni hingga Agustus meningkat berkali-kali lipat. Selain karhutla, kebakaran pada tempat usaha dan permukiman warga juga dilaporkan terjadi hampir setiap hari.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah mencatat total luasan area yang terdampak karhutla mencapai 194 hektare lahan, 213 hektare hutan, dan 2,17 hektare tempat pembuangan akhir (TPA).
"Jumlah total terdapat 547 peristiwa kebakaran di Jawa Tengah hingga Agustus 2026. Ini terdiri dari 232 bencana karhutla dan 315 kejadian kebakaran permukiman maupun gedung," ungkap Kepala BPBD Jateng, Bergas Catursasi Penanggungan, Selasa (25/8).
Bergas menjelaskan bahwa eskalasi karhutla melonjak tajam seiring masuknya puncak musim kemarau. Bencana ini tersebar di 35 kabupaten dan kota dengan estimasi kerugian materiil mencapai Rp23 miliar.
10 Daerah dengan Frekuensi Tertinggi
Berdasarkan data yang dihimpun BPBD Jawa Tengah, terdapat 10 daerah dengan frekuensi karhutla tertinggi, yaitu:
- Klaten: 31 kejadian
- Sragen: 30 kejadian
- Sukoharjo: 18 kejadian
- Wonogiri: 17 kejadian
- Boyolali: 16 kejadian
- Blora: 14 kejadian
- Kabupaten Semarang: 13 kejadian
- Banyumas: 10 kejadian
- Kudus: 10 kejadian
- Kota Tegal: 8 kejadian
Menurut Bergas, kebakaran lahan didominasi oleh area pertanian, khususnya perkebunan tebu dan semak belukar. Pemicu utama diduga berasal dari faktor kelalaian manusia (human error), seperti praktik pembakaran lahan untuk membersihkan sisa panen tebu.
Imbauan Kewaspadaan
Sebelumnya, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Ia menekankan bahwa tindakan ceroboh di area vegetasi kering dapat memicu kobaran api yang sulit dikendalikan.
"Kemarin saya dapat laporan dari Wonogiri dan Kudus. Kita harus antisipasi dan menjaga betul hal ini, seperti tidak membuang puntung rokok sembarangan, karena banyak tanaman kering yang mudah terbakar saat terkena percikan api," ujar sosok yang akrab disapa Gus Yasin tersebut.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memberikan perhatian serius terhadap lonjakan angka karhutla ini, mengingat puncak musim kemarau diperkirakan masih akan berlangsung hingga September mendatang. (I-2)


















































