2 Dekade Penurunan Status Pluto: Apakah Keputusan IAU Tahun 2006 Sebuah Kesalahan?

3 weeks ago 16
 Apakah Keputusan IAU Tahun 2006 Sebuah Kesalahan? Genap 20 tahun sejak Pluto dikeluarkan dari daftar planet utama, para astronom masih berdebat mengenai definisi resmi planet dan status planet kerdil.(NASA)

TEPAT dua dekade lalu, Persatuan Astronomi Internasional (IAU) mengambil keputusan bersejarah yang mengubah peta Tata Surya. Pada Agustus 2006, IAU secara resmi mencabut status Pluto sebagai planet kesembilan dan memasukkannya ke dalam kategori baru, planet kerdil (dwarf planet). Keputusan tersebut hingga kini tetap menjadi salah satu perdebatan paling hangat di dunia sains modern.

Langkah ini diambil setelah ditemukannya benda-benda langit lain di wilayah Sabuk Kuiper, seperti Eris, yang memiliki ukuran hampir setara dengan Pluto. Penemuan tersebut memaksa para ahli untuk merumuskan ulang definisi resmi mengenai apa yang bisa disebut sebagai "planet".

Tiga Syarat Utama Definisi Planet

Berdasarkan resolusi IAU tahun 2006, sebuah benda langit di Tata Surya dapat dikategorikan sebagai planet utama jika memenuhi tiga kriteria berikut:

  • Mengorbit Matahari: Objek tersebut harus berada dalam lintasan orbit yang mengelilingi bintang pusat Tata Surya.
  • Memiliki Massa yang Cukup: Massa objek harus cukup besar sehingga gravitasinya sendiri mampu membentuk tubuhnya menjadi bulat atau hampir bulat (hydrostatic equilibrium).
  • Membersihkan Lingkungan Orbitnya: Objek tersebut harus mendominasi lingkungan orbitnya secara gravitasi, sehingga tidak ada benda langit lain yang seukuran di sekitar jalurnya.

Pluto dengan mudah memenuhi dua kriteria pertama. Namun, karena lokasinya berada di Sabuk Kuiper yang dipenuhi ribuan objek es dan batuan lainnya, Pluto gagal memenuhi kriteria ketiga. Hal inilah yang menjadi alasan utama klasifikasinya diturunkan menjadi planet kerdil.

Penolakan dan Argumen Peneliti

Keputusan tersebut tidak diterima secara universal oleh komunitas ilmiah. Sejumlah ilmuwan planet dan astronom terus mengkritik kriteria ketiga yang ditetapkan oleh IAU, karena dinilai terlalu samar dan tergantung pada lokasi objek di Tata Surya, bukan pada sifat fisik bawaan objek itu sendiri.

Kritik terhadap definisi ini kian menguat setelah wahana antariksa New Horizons milik NASA melakukan penerbangan melintasi (flyby) Pluto. Data dan foto detail yang dikirimkan New Horizons mengungkapkan bahwa Pluto merupakan dunia yang sangat dinamis secara geologis, memiliki pegunungan es, dataran nitrogen cair, atmosfer tipis, serta sistem bulan yang kompleks.

Bagi sebagian ilmuwan, kompleksitas geologi dan atmosfer yang dimiliki Pluto sudah lebih dari cukup untuk mengategorikannya sebagai planet sejati, terlepas dari lingkungan orbit sekitarnya.

Perdebatan yang Terus Berlanjut

Dua puluh tahun berlalu, klasifikasi Pluto tetap menjadi topik diskusi yang dinamis di kalangan astronom dan masyarakat umum. Bagi para pendukung keputusan IAU, penetapan batasan ini penting agar jumlah planet di Tata Surya tidak membengkak hingga puluhan atau ratusan seiring ditemukannya objek-objek baru di batas luar Tata Surya.

Sebaliknya, para penentang berargumen bahwa sains harus fleksibel dalam mengadaptasi definisi yang lebih mencerminkan kompleksitas fisik suatu benda langit. Perdebatan ini membuktikan bahwa batas-batas kategorisasi ilmiah di alam semesta akan selalu berkembang seiring meningkatnya kemampuan manusia dalam menjelajahi ruang angkasa. (The Guardian/Z-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |