Ilustrasi(Dok Istimewa)
POTENSI wisata alam di Kabupaten Sukabumi kembali mendapat dorongan untuk berkembang. Curug Cisalada di Desa Ambarjaya, Kecamatan Ciambar, kini dipersiapkan menjadi destinasi ekowisata berbasis masyarakat yang menawarkan pengalaman wisata air dan susur sungai (tubing), sekaligus membuka peluang baru bagi peningkatan ekonomi warga lewat pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan.
Dikelilingi panorama air terjun yang masih alami dan aliran sungai jernih, Curug Cisalada memiliki daya tarik besar bagi wisatawan pencinta alam. Namun, pengembangan destinasi itu kini masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari penataan kawasan, penguatan kelembagaan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), peningkatan kapasitas sumber daya manusia, promosi digital, dan fasilitas pendukung.
Untuk menjawab hal itu, Tim Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Hibah Bima Universitas Trisakti menghadirkan Program Lestari (Lingkungan, Ekowisata, Strategi, Tata Kelola, dan Promosi Terintegrasi). Program ini sebagai model pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan pelestarian lingkungan dengan pengembangan destinasi wisata berbasis komunitas.
Program yang didanai melalui Hibah Bima Tahun Anggaran 2026 dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) tersebut mengusung pendekatan Community-Based Tourism (CBT) dan Participatory Action Research (PAR), sehingga masyarakat jadi pelaku utama dalam merencanakan, mengelola, dan mengembangkan destinasi wisata.
Ketua Tim PkM Universitas Trisakti Dida Nurhaida mengatakan seluruh rangkaian kegiatan disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat setempat.
"Program ini diawali dengan identifikasi kebutuhan masyarakat agar setiap intervensi benar-benar sesuai kondisi lokal. Semangat Dari Analisis ke Aksi sebagai landasan menerjemahkan hasil kajian menjadi program pemberdayaan yang aplikatif," ujarnya, Kamis (16/7/2026).
Tim PkM yang terdiri atas akademisi berbagai disiplin ilmu bersama 8 mahasiswa melakukan koordinasi sejak April 2026 dengan Pemerintah Desa Ambarjaya dan Pokdarwis. Memasuki Juni 2026, mereka menggelar survei lapangan, observasi, wawancara, hingga Focus Group Discussion (FGD) untuk memetakan potensi dan kebutuhan pengembangan kawasan wisata.
Hasil kajian diwujudkan melalui 8 program terintegrasi sepanjang Juni hingga Juli 2026. Kegiatan meliputi penyusunan masterplan dan zonasi kawasan, workshop penguatan kelembagaan Pokdarwis, pelatihan strategi bisnis, pelatihan pemandu wisata berbasis keselamatan, pengembangan identitas visual destinasi, pendampingan promosi digital, pelatihan fotografi dan videografi, penataan kawasan dan sistem kebersihan.
Menurut anggota tim PkM Fajar Rezandi, penyusunan masterplan menjadi fondasi penting agar pengembangan kawasan wisata berlangsung terarah. "Masterplan dan zonasi jadi acuan pengembangan kawasan agar pembangunan fasilitas, jalur wisata, dan ruang pendukung berlangsung secara terarah, bertahap, serta tetap menjaga keseimbangan antara pemanfaatan kawasan dengan pelestarian lingkungan," katanya.
Sementara itu, Pongky Adhi Purnama menilai daya saing destinasi wisata saat ini juga ditentukan kemampuan membangun citra di ruang digital.
"Di era digital, keputusan wisatawan berkunjung sering diawali dari apa yang dilihat di media sosial. Karena itu, destinasi tidak cukup mengandalkan keindahan alam, tetapi juga memerlukan identitas visual kuat melalui nama, logo, dan komunikasi visual yang merepresentasikan karakter destinasi," ujarnya.
Selain memperkuat promosi, program pendampingan juga diarahkan pada peningkatan mutu layanan wisata. Harris Effendi mengatakan pengalaman wisatawan jadi faktor penting dalam membangun reputasi sebuah destinasi.
"Destinasi yang baik tidak hanya menawarkan panorama alam, tetapi juga pengalaman wisata aman, nyaman, dan berkesan. Karena itu, pendampingan diarahkan pada peningkatan pelayanan, keselamatan wisata, dan penataan kawasan," katanya.
Kepala Desa Ambarjaya Eman Suherman mengapresiasi kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah desa dan Pokdarwis guna mengembangkan Curug Cisalada. "Kami apresiasi komitmen Universitas Trisakti yang tak hanya memberi pelatihan, tetapi juga mendampingi masyarakat sejak tahap perencanaan hingga evaluasi. Kami harap Program Lestari jadi fondasi pengembangan Curug Cisalada guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menjaga kelestarian lingkungan," ujarnya.
Pendampingan terus berlanjut hingga Desember 2026 lewat monitoring dan evaluasi berkala. Fokus kegiatan meliputi implementasi masterplan kawasan, penguatan tata kelola Pokdarwis, promosi digital, peningkatan kualitas layanan wisata, pengelolaan kebersihan dan fasilitas pendukung. (H-2)


















































