Hampir Separuh Demokrat di DPR AS Pilih Putus Bantuan untuk Israel

4 hours ago 3
Hampir Separuh Demokrat di DPR AS Pilih Putus Bantuan untuk Israel Ilustrasi.(Magnific)

DUKUNGAN politik Amerika Serikat terhadap Israel mengalami pergeseran signifikan. Dalam pemungutan suara terbaru di DPR AS pada Rabu (15/7) waktu setempat, hampir separuh dari anggota faksi Demokrat memilih untuk memutus bantuan kepada sekutu lama mereka tersebut.

Amendemen terhadap rancangan undang-undang pengeluaran Departemen Luar Negeri tersebut mengusulkan penghapusan pendanaan sebesar US$3,3 miliar (sekitar Rp53,6 triliun). Meski akhirnya gagal dengan hasil akhir 314-104 karena dukungan kuat Partai Republik terhadap Israel, hasil ini menjadi momen krusial bagi internal Demokrat.

Pergeseran Peta Politik Demokrat

Skala dukungan Demokrat terhadap amendemen ini mencerminkan kemarahan akar rumput yang telah mengubah lanskap politik partai. Sebagai perbandingan, dua tahun lalu hanya 37 anggota Demokrat yang mendukung upaya serupa. Kali ini, angka tersebut melonjak drastis menjadi 103 dari 211 anggota Demokrat yang memberikan suara, ditambah 10 anggota lain yang menyatakan abstain.

Tokoh senior seperti mantan Ketua DPR Nancy Pelosi turut memberikan dukungan terhadap amendemen tersebut. Pelosi menyatakan bahwa ia dengan enggan mendukung langkah itu untuk mengirim pesan bahwa pemerintah Netanyahu tidak dapat mempertahankan arah kebijakannya saat ini di tengah siklus perang yang terus berlanjut.

Kutipan Kunci:
"Ada perasaan nyata bahwa status quo tidak dapat berlanjut," ujar Katherine Clark, tokoh Demokrat nomor dua di DPR, sebelum memberikan suaranya untuk amandemen tersebut.

Perpecahan di Tingkat Pimpinan

Pemungutan suara ini juga mengungkap keretakan di jajaran kepemimpinan Demokrat. Dukungan Katherine Clark terhadap amendemen tersebut berbeda sikap dengan Pemimpin Minoritas Hakeem Jeffries. Jeffries mengkritik amandemen yang diajukan oleh Thomas Massie (Republik) itu sebagai upaya yang kurang terencana dan berisiko menghentikan bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina di Gaza.

Meskipun menolak amandemen tersebut, Jeffries dan sejumlah petinggi Demokrat lain mengakui perlunya kalibrasi ulang hubungan AS dengan Israel. Gregory Meeks, petinggi Demokrat di Komite Urusan Luar Negeri, menekankan pentingnya memastikan Israel memenuhi standar yang sama dengan negara-negara lain.

Pesan untuk Netanyahu

Bagi kelompok progresif, hasil pemungutan suara ini dianggap sebagai kemenangan besar. Greg Casar, Ketua Kaukus Progresif Kongres, menyatakan bahwa mayoritas Demokrat kini menolak memberikan cek kosong yang tidak akuntabel kepada militer Israel.

Dukungan terhadap pemutusan bantuan ini tidak hanya datang dari sayap kiri. Anggota moderat dan hawkish seperti Seth Moulton dan Stephen Lynch juga ikut memberikan suara dukungan. Mereka menyatakan frustrasi terhadap tindakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang dianggap bertentangan dengan kepentingan keamanan nasional AS dan hati nurani moral.

Fenomena ini diprediksi akan menjadi tantangan berkelanjutan bagi kepemimpinan Hakeem Jeffries di masa depan, terutama dengan masuknya kontingen skeptis Israel yang lebih besar pada masa jabatan berikutnya, seiring berakhirnya perjanjian bantuan keamanan 10 tahun yang ditandatangani era Barack Obama akhir tahun ini. (Politico/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |