WHO: Berhenti Merokok dan Batasi Alkohol Turunkan Risiko Demensia

5 hours ago 2
 Berhenti Merokok dan Batasi Alkohol Turunkan Risiko Demensia Ilustrasi orang dengan Demensia(Magnific)

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa hingga 45 persen risiko demensia dapat dicegah atau ditunda melalui pengendalian faktor risiko dengan gaya hidup seperti berhenti merokok dan membatasi konsumsi alkohol. Rekomendasi tersebut tertuang dalam pedoman terbaru WHO yang dirilis pada 15 Juli 2026 sebagai upaya menekan meningkatnya kasus demensia di dunia.

Demensia merupakan sindrom yang menyebabkan penurunan daya ingat, kemampuan berpikir, dan fungsi sehari-hari, dengan penyakit Alzheimer sebagai penyebab paling umum. WHO memperkirakan lebih dari 57 juta orang hidup dengan demensia di seluruh dunia, dengan hampir 10 juta kasus baru setiap tahunnya.

Dikutip dari laman resminya, Kamis (16/7), WHO menegaskan bahwa risiko demensia tidak hanya dipengaruhi usia dan faktor genetik, tetapi juga gaya hidup yang dapat diubah sejak dini. Merokok dan konsumsi alkohol berlebihan menjadi dua faktor utama karena dapat meningkatkan risiko kerusakan pembuluh darah, sel saraf, dan penurunan fungsi kognitif.

Untuk menurunkan risiko demensia, WHO merekomendasikan masyarakat rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, menjaga berat badan ideal, mengendalikan tekanan darah, gula darah, dan kolesterol, serta tetap aktif secara sosial dan mental.

Faktor Risiko Kini Bertambah

WHO juga memasukkan dua faktor baru yang perlu mendapat perhatian, yakni paparan polusi udara dan gangguan penglihatan yang tidak ditangani. Menurut organisasi tersebut, kedua kondisi tersebut semakin banyak ditemukan berkaitan dengan peningkatan risiko demensia, terutama pada usia lanjut.

Karena itu, pencegahan tidak hanya dilakukan ketika seseorang memasuki usia lanjut, tetapi sebaiknya dimulai sejak usia produktif. Langkah sederhana seperti berhenti merokok, mengurangi konsumsi alkohol, serta mengelola penyakit kronis dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi kesehatan otak.

Belum Ada Obat  Demensia

WHO mengingatkan bahwa jumlah penderita demensia diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang seiring bertambahnya populasi lansia. Hingga kini belum tersedia obat yang mampu menyembuhkan demensia, sehingga upaya pencegahan menjadi strategi paling efektif untuk mengurangi dampaknya terhadap individu, keluarga, maupun sistem kesehatan.

Melalui pedoman terbaru ini, WHO mendorong setiap negara untuk memperkuat layanan kesehatan primer melalui edukasi masyarakat, deteksi dini faktor risiko, dan pengendalian penyakit kronis. Organisasi tersebut berharap langkah-langkah tersebut dapat menekan angka kejadian demensia di masa depan sekaligus membantu masyarakat mempertahankan fungsi kognitif hingga usia lanjut.

(H-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |