Sejarah Indonesia Baru dan Pengajaran Sejarah di Sekolah

14 hours ago 1
Sejarah Indonesia Baru dan Pengajaran Sejarah di Sekolah (MI/Seno)

TANGGAL 31 Agustus 2026, Kementerian Kebudayaan secara resmi merilis penerbitan buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global sebagai 'buku babon' ketiga sejarah Indonesia. Penulisan sejarah Indonesia secara nasional merupakan salah satu sarana penting untuk membentuk dan mempertahankan identitas bersama sebagai 'bangsa Indonesia'.

Sejarah tidak hanya berfungsi merekam peristiwa masa lalu, tetapi juga memberikan kekuatan kognitif untuk membangun kesadaran kolektif mengenai bagaimana masyarakat di wilayah Nusantara tumbuh menjadi sebuah bangsa dan negara bernama Indonesia. Kesadaran kolektif tersebut menjadi salah satu dasar nasionalisme yang berfungsi sebagai pengikat persatuan, terutama dalam konteks negara modern (nation state).

Kesadaran itulah yang melatarbelakangi lahirnya berbagai proyek penulisan sejarah nasional, terutama Sejarah Nasional Indonesia (SNI) yang pertama kali diterbitkan pada 1975. Buku tersebut kemudian menjadi semacam 'buku babon' sejarah Indonesia dan diikuti dengan penyusunan berbagai buku ajar sejarah untuk sekolah. Tujuan utamanya bukan sekadar memberikan pengetahuan tentang masa lalu, melainkan juga membangun kesadaran mengenai proses terbentuknya bangsa Indonesia.

KONSTRUKSI SEJARAH

Persoalan mendasar dalam penulisan sejarah nasional ialah menemukan identitas Indonesia itu sendiri. Siapakah bangsa Indonesia? Apa bedanya dengan bangsa lain? Untuk apa bangsa Indonesia hadir di tengah bangsa-bangsa lain? Sartono Kartodirdjo, dalam pengantar SNI, mengingatkan bahwa bangsa Indonesia tidak cukup didefinisikan sebagai sekumpulan orang yang pernah berperang melawan Belanda. Indonesia harus dipahami sebagai satu kesatuan masyarakat yang tumbuh bersama dalam satu ruang geografis. Dari proses panjang tersebut berkembang hubungan sosial, kebudayaan, dinamika kekuasaan, hingga munculnya gerakan nasional yang memperkuat kesadaran bahwa penduduk kepulauan Indonesia merupakan satu bangsa.

Karena itu, konstruksi sejarah dalam SNI dimulai jauh sebelum lahirnya negara Indonesia modern. Sejarah perlu menjelaskan pembentukan ruang geografis Indonesia, kehadiran manusianya, perkembangan masyarakatnya, kebudayaannya, hubungan antarkelompok, dan dinamika kekuasaan yang berlangsung di kawasan itu. Dengan cara tersebut, Indonesia dipahami sebagai hasil proses sejarah yang panjang, bukan sebagai sesuatu yang baru muncul pada masa perjuangan melawan kolonialisme.

Selepas Reformasi kemudian muncul proyek penulisan Indonesia dalam Arus Sejarah (IDAS), yang pengerjaannya dimulai pada 2002 dan diterbitkan secara resmi pada 2012 dalam sembilan jilid. Menurut editor utamanya, Taufik Abdullah, IDAS bukan dimaksudkan sebagai revisi terhadap SNI 1975. SNI tetap dipandang sebagai karya penting yang dapat dijadikan rujukan. IDAS berusaha menghadirkan berbagai hasil penelitian dan gagasan baru yang berkembang pesat selama sekitar 30 tahun setelah penerbitan SNI. Para penulis diberi ruang untuk mengemukakan pandangan masing-masing sehingga buku tersebut tidak diarahkan pada satu konstruksi pemikiran yang terlalu homogen.

Walaupun demikian, pengaruh SNI 1975 terhadap IDAS masih sangat kuat. Periodisasi dan konstruksi sejarahnya belum sepenuhnya menawarkan gagasan baru yang utuh mengenai sejarah Indonesia. Sebagian penulis IDAS bahkan merupakan tokoh yang sebelumnya terlibat dalam penulisan SNI, sementara sebagian penulis generasi baru merupakan murid dari tradisi historiografi yang sama. Akibatnya, meskipun IDAS berhasil memperkaya historiografi Indonesia dengan banyak data dan temuan baru, semangat korektif Reformasi terhadap produk Orde Baru tidak sepenuhnya terlihat dalam konstruksi besarnya.

PENGAJARAN SEJARAH

Persoalan yang lebih serius muncul dalam bidang pengajaran sejarah. Setelah terbitnya IDAS, perhatian terhadap sejarah sebagai sarana pewarisan memori kolektif justru dinilai mengalami kemunduran. Salah satu indikasinya ialah penghapusan Direktorat Sejarah di lingkungan Kemendikbud serta munculnya wacana penghapusan mata pelajaran sejarah di sekolah pada 2020. Kondisi tersebut menunjukkan sejarah tidak lagi ditempatkan sebagai instrumen strategis untuk memperkuat ikatan kebangsaan generasi muda.

Dalam konteks itulah penerbitan buku Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global pada 2026 menjadi penting. Buku yang direncanakan terdiri atas sepuluh jilid itu berusaha menghidupkan kembali semangat dasar SNI 1975, terutama menjadikan sejarah sebagai sarana memperkuat ikatan kebangsaan di tengah keragaman Indonesia yang sangat besar (mega diversity). Namun, semangat tersebut tidak berarti mengulang atau sekadar memarafrasa buku lama. Setiap generasi memiliki kebutuhan dan tantangan zaman sendiri.

Gagasan tersebut sejalan dengan ungkapan Benedetto Croce, “Every true history is contemporary history.” Sejarah selalu memiliki hubungan dengan kebutuhan masa kini. Karena itu, setiap generasi memiliki hak untuk menuliskan kembali sejarah berdasarkan persoalan zaman mereka. Buku sejarah Indonesia 2026 berangkat dari fondasi kebangsaan yang telah dibangun sebelumnya, tetapi berusaha mengontekstualisasikannya dengan tantangan baru, yaitu globalisasi.

Jika pada masa lalu nasionalisme terutama menghadapi persoalan lokalitas dan fragmentasi masyarakat, generasi sekarang menghadapi tantangan yang berbeda, yaitu kuatnya arus global. Globalisasi membawa pertukaran informasi, teknologi, ekonomi, dan budaya yang semakin cepat. Dalam situasi tersebut, nasionalisme tidak cukup hanya berupa rasa memiliki terhadap bangsa sendiri, tetapi harus berkembang menjadi kemampuan untuk menghadapi dan berkontribusi dalam dinamika dunia.

NASIONALISME BARU

Buku sejarah baru itu berusaha menampilkan Indonesia sebagai sebuah 'kompleks' peradaban yang sejak masa lalu telah berinteraksi dengan berbagai peradaban dunia. Hubungan dengan Tiongkok, India, Arab, Mongol, Turki, Eropa, dan berbagai bangsa lainnya menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara bukan masyarakat yang terisolasi. Berbagai pengaruh dari luar tidak hanya diterima secara pasif, tetapi diolah dan diramu menjadi kebudayaan Indonesia yang memiliki karakter dan keunikan tersendiri. Proses interaksi tersebut berlangsung dalam rentang sejarah yang panjang, dari masa purba hingga masa kontemporer.

Cara pandang semacam itu dapat melahirkan bentuk nasionalisme baru. Nasionalisme tidak lagi sekadar dibangun melalui kebanggaan terhadap perjuangan masa lalu, tetapi melalui kepercayaan diri bahwa bangsa Indonesia memiliki pengalaman sejarah, kemampuan budaya, dan kapasitas peradaban untuk menjadi aktor yang berpengaruh dalam dunia global. Dengan memahami keberhasilan masyarakat Indonesia pada masa lalu dalam berinteraksi dengan berbagai kekuatan dunia, generasi muda diharapkan tidak tumbuh sebagai bangsa yang rendah diri ketika berhadapan dengan bangsa lain.

Gagasan tersebut sekaligus memberikan tantangan besar bagi dunia pendidikan. Pengetahuan sejarah tidak boleh berhenti sebagai hafalan tentang tanggal, tokoh, dan peristiwa. Sejarah harus membantu peserta didik memahami proses terbentuknya masyarakat Indonesia, dinamika hubungan dengan dunia luar, serta kemampuan bangsa dalam menghadapi perubahan. Generasi muda yang sebentar lagi menjadi aktor dalam persaingan global perlu memiliki identitas kebangsaan yang kuat sekaligus wawasan dunia yang luas.

Karena itu, terbitnya buku sejarah Indonesia baru perlu segera direspons Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Buku tersebut dapat menjadi salah satu bahan penting untuk merekonstruksi kurikulum sejarah Indonesia agar lebih sesuai dengan perkembangan historiografi dan tantangan zaman. Pengajaran sejarah perlu ditempatkan kembali sebagai bagian strategis pendidikan kebangsaan.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |