Bank Indonesia DIY Perkuat Capacity Building Wartawan, Hadapi Era Transformasi Media

1 hour ago 2
Bank Indonesia DIY Perkuat Capacity Building Wartawan, Hadapi Era Transformasi Media Ilustrasi(MI/Ardi Teristi)

PERUBAHAN lanskap media menuntut industri media beradaptasi tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar jurnalistik. Awak media pun dituntut menghasilkan produk jurnalistik yang lebih interaktif, adaptif, serta mampu menjangkau audiens secara presisi dan valid.

Meskipun teknologi dan pola konsumsi informasi berubah, fondasi utama jurnalistik tidak boleh tergeser. Integritas, akurasi, dan keberpihakan pada kebenaran tetap menjadi pijakan utama yang harus dijaga oleh para pembuat karya jurnalistik.

"Integritas, akurasi, dan keberpihakan terhadap kebenaran (merupakan fondasi utama kita)," ujar Sri Darmadi Sudibyo, Kepala Perwakilan BI DIY, dalam Capacity Building Wartawan, Peluang dan Tantangan Jurnalisme di Era Transformasi Media di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Rabu (9/9).

Menurut dia, ruang belajar seperti ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas teknis awak media. "Semangat rekan-rekan semua telah menyajikan karya jurnalistik yang berkualitas dan memiliki dampak bagi masyarakat," tambahnya.

Selain penguatan teknis, kegiatan ini juga menjadi momentum bagi para peserta untuk memperluas pemahaman terhadap dinamika daerah, seperti di Nusa Tenggara Barat (NTB), sebagai referensi pengayaan karya jurnalistik ke depan.

Dari sisi praktisi media, Stefanus Pramono menilai, industri media massa terus mengalami perubahan dalam tingkat keterbacaan (pageviews). Perubahan algoritma mesin pencari seperti Google hingga pergeseran perilaku konsumsi informasi masyarakat menjadi tantangan utama.

Jika sebelumnya Strategi Search Engine Optimization (SEO) menjadi andalan untuk meraih trafik tinggi, kini hal tersebut sudah berubah.karena algoritma terus berubah.

Beberapa catatan realita saat ini, antara lain, lebih dari 6,5 miliar postingan/hari, termasuk hoaks. Dari postingan yang ada, artikel 1.000 kata kalah dari video 30 detik. Sebanyak 64% orang Indonesia dapat berita dari medsos.

Pergeseran ini dinilai mengkhawatirkan karena mayoritas content creator tidak terikat oleh kode etik jurnalistik. Kemungkinan mereka untuk mendapatkan berita yang tidak akurat itu juga menjadi semakin besar. (AT/E-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |