Rupiah Hari Ini Menguat ke Rp17.511 Didorong Arus Modal Obligasi

1 hour ago 2
Rupiah Hari Ini Menguat ke Rp17.511 Didorong Arus Modal Obligasi ilustrasi(Antara)

Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat signifikan pada perdagangan Rabu (9/9). Berdasarkan data pasar, Rupiah bergerak naik 121 poin atau 0,69 persen ke level Rp17.511 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.632 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menjelaskan bahwa performa positif ini didorong oleh faktor domestik, terutama derasnya arus modal masuk (capital inflow) ke pasar obligasi pemerintah. Tercatat, arus modal yang masuk ke pasar obligasi mengalami kenaikan sebesar 90,5 juta dolar AS.

Rupiah hari ini menguat dipengaruhi oleh faktor domestik arus modal masuk yang deras ke pasar obligasi pemerintah,” ujar Rully di Jakarta, Rabu.

Kondisi ini dipicu oleh perbaikan defisit anggaran dan penerimaan pajak yang solid. Selain itu, spread yield (selisih imbal hasil) obligasi Indonesia dinilai masih cukup lebar dan kompetitif dibandingkan dengan obligasi pemerintah negara lain. Di sisi lain, berlanjutnya kenaikan inflasi di Amerika Serikat membuat obligasi pemerintah AS secara umum menjadi kurang menarik bagi investor global.

Data Pergerakan Kurs Rupiah

Indikator Nilai/Posisi
Kurs Penutupan Pasar Rp17.511 per Dolar AS
Penguatan Poin 121 Poin (0,69%)
Kurs JISDOR Bank Indonesia Rp17.552 per Dolar AS
Inflow Pasar Obligasi 90,5 Juta Dolar AS

Sejalan dengan penguatan di pasar spot, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menunjukkan tren serupa. Kurs referensi tersebut menguat ke level Rp17.552 per dolar AS dari posisi hari sebelumnya di level Rp17.618 per dolar AS.

Menanti Data Inflasi AS

Meski Rupiah tengah menguat, pelaku pasar tetap bersikap waspada menanti rilis data inflasi AS yang dijadwalkan pada Kamis (10/9). Inflasi AS secara bulanan diperkirakan berada di angka 0,4 persen dan secara tahunan sebesar 0,2 persen, yang sangat dipengaruhi oleh bertahannya harga minyak di level tinggi. Sementara itu, inflasi inti tahunan diprediksi berkisar di angka 2,4 persen.

Rully menambahkan bahwa angka inflasi tersebut memberikan tekanan bagi Bank Sentral AS, The Fed. Hal ini memicu pergeseran ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada pekan depan.

“Dengan angka-angka inflasi tersebut membuat tidak nyaman bagi The Fed, dan berakibat ekspektasi pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga minggu depan menjadi 60 persen, lebih tinggi dari sebelumnya yang hanya 35 persen,” pungkasnya. (Ant/E-3)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |