Pengamat Optimistis The Fed Pertahankan Suku Bunga, Ini Alasannya

4 hours ago 1
Pengamat Optimistis The Fed Pertahankan Suku Bunga, Ini Alasannya Petugas menghitung uang rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta,( ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/nym.)

PENGAMAT mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi optimistis bank sentral Amerika Serikat AS atau The Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga. Apabila suku bunga The Fed dipertahankan, itu akan berdampak positif pada penguatan rupiah.

Sebagai informasi, pertemuan bank sentral AS dijadwalkan berlangsung pada 16–17 September 2026 untuk membahas arah kebijakan suku bunga acuan.

Suku bunga acuan The Fed (Federal Funds Rate/FFR) saat ini berada di kisaran 3,50%–3,75%. Terakhir kali FFR dinaikkan pada Juli 2023 sebesar 25 basis poin ke level 5,25%–5,50% sebelum akhirnya memasuki siklus penahanan dan penurunan suku bunga hingga awal 2026

Ibrahim menyebut memang banyak pengamat yang mengatakan The Fed kemungkinan besar akan meningkatkan suku bunga. Keyakinan itu mencapai 85%-90%.

“Tetapi saya melihat bahwa Kevin Warsh (ketua The Fed) dalam pertemuan tersebut kemungkinan besar masih akan mempertahankan suku bunga. Saya masih mendengarkan pernyataan Kevin saat pertemuan di bulan Agustus mengatakan bahwa suku bunga Amerika saat ini sudah terlalu tinggi,” kata Ibrahim kepada awak media, Rabu (16/9).

Namun Pada minggu pertama September saat Kevin Warsh berpidato di kongres, dia mengatakan bahwa suku bunga akan dinaikkan apabila inflasi tetap tinggi.

Hal itu, kata Ibrahim, dijadikan sebagai acuan bagi para ekonom, analis, maupun pengamat bahwa bank sentral Amerika akan menaikkan suku bunga. Pasalnya harga-harga bahan pokok termasuk energi di AS terus mengalami kenaikan.

Contohnya harga bensin yang tadinya US$4,6-US$4,8 per galon sekarang sudah di atas US$6 dolar per galon sehingga berdampak terhadap inflasi di Amerika. Lonjakan harga tersebut tak lepas dari gejolak geopolitik di Timur Tengah yang semakin memanas.

“Pada saat inflasi tinggi di Amerika, Kevin Warsh dikabarkan akan menaikkan suku bunga karena pernyataan-pernyataan dari deputinya bahwa ini saat yang tepat untuk menaikkan suku bunga karena inflasi cukup tinggi,” papar Ibrahim.

Namun, katanya, Presiden AS Donald Trump melakukan intervensi agar Kevin Warsh tidak menaikkan suku bunga, malah harus menurunkan suku bunga. “Intervensi dari Trump terhadap Kevin Warsh ini yang kemungkinan besar dalam pertemuan Kamis pagi, Bank Sentral Amerika kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga,” ujar Ibrahim.

Menurutnya, apabila Bank Sentral mempertahankan suku bunga, itu akan berdampak positif terhadap penguiatan nilai tukar rupiah ke depan. “Meskipun penguatannya terbatas,” jelas Ibrahim.

Selain itu, harga emas dunia yang tadinya terkoreksi kemungkinan besar juga akan kembali mengalami penguatan. “Karena informasi mempertahankan suku bunga ini pasti akan direspon positif,” katanya.

Namun seandainya Bank Sentral menaikkan suku bunga, kemungkinan besar dana-dana asing yang ada di Indonesia ini juga akan keluar kembali ke Amerika.

“(Kenaikan suku bunga The Fed) ini akan berdampak negatif terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG), terhadap mata uang rupiah, terhadap investor-investor asing yang kembali melakukan penarikan dana,” jelas Ibrahim. Pasalnya, pada saat suku bunga tinggi berarti yield obligasi di Amerika pun juga mengalami kenaikan yang erdampak negatif terhadap arus modal asing yang kembali keluar.

“Tetapi saya optimis bahwa Kevin Warsh kemungkinan besar ini akan mempertahankan suku bunga dalam pertemuan di minggu ini walaupun deputi-deputinya menginginkan untuk menaikkan suku bunga karena inflasi yang cukup tinggi,” tutupnya. (H-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |