Drone militer dipamerkan di lokasi pameran di pinggiran Kyiv, Ukraina, pada 11 Mei 2026.(Global Look Press/Kay Nietfeld )
SEDIKITNYA 10 orang tewas dan sekitar 100 lainnya terluka setelah Rusia menyerang sebuah pameran senjata di dekat Kyiv, Ukraina, Jumat (24/7) waktu setempat. Serangan tersebut memicu pertanyaan mengenai keamanan penyelenggaraan kegiatan semacam itu di tengah perang.
Jaksa Agung Ukraina Ruslan Kravchenko mengatakan, penyelidikan kriminal telah dibuka untuk mengetahui pihak yang memutuskan penyelenggaraan acara tersebut serta apakah risiko kegiatan telah dinilai secara memadai dalam kondisi darurat militer.
“Penyelidikan akan menentukan siapa yang mengambil keputusan untuk menyelenggarakan acara tersebut dan apakah risiko-risikonya telah dinilai dengan benar berdasarkan kondisi darurat militer,” ujar Kravchenko.
Reporter AFP di lokasi melihat sedikitnya lima jenazah yang ditutupi kain hitam di dekat lapangan tembak tempat acara berlangsung.
Rusia, yang selama perang kerap menargetkan tempat latihan dan kegiatan militer Ukraina, mengeklaim telah menyerang pameran persenjataan yang menampilkan kendaraan udara nirawak (UAV) buatan Ukraina dan negara lain.
Menurut Rusia, sejumlah drone yang dipamerkan digunakan untuk menyerang sasaran sipil di wilayah Rusia.
Zelenskyy Soroti Lokasi Pameran
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan Rusia menggunakan rudal balistik dalam serangan tersebut. Ia juga menilai pameran senjata itu seharusnya tidak digelar di lokasi tersebut.
“Dalam kondisi perang seperti ini dan menghadapi musuh seperti itu, sama sekali tidak mungkin menyelenggarakan pameran senjata--dengan kerumunan besar dan tentu saja tidak di dekat bangunan tempat tinggal,” kata Zelenskyy dalam pidato hariannya.
Serangan tersebut memicu kritik dari sejumlah pihak di industri pertahanan dan pejabat Ukraina. Mereka mempertanyakan pengorganisasian acara serta menuntut pertanggungjawaban atas aspek keselamatannya.
Penasihat kepresidenan Sergiy Beskrestnov mengkritik penyelenggara kegiatan yang tidak menyediakan tempat perlindungan dan justru mempromosikan acara melalui media sosial.
Sementara itu, Kepala kelompok pertahanan yang didukung pemerintah Ukraina, Brave1, Andriy Grytseniuk, mendesak seluruh pihak yang terlibat dalam industri pertahanan segera meninjau dan memperkuat protokol keselamatan.
Pejabat setempat Alla Lakhmaniuk mengatakan pemerintah kota tidak memberikan izin untuk penyelenggaraan acara tersebut.
“Semua orang sangat kecewa karena acara seperti itu diselenggarakan tepat di sebelah permukiman warga. Jika Anda akan mengadakan kegiatan semacam ini, tempatnya harus aman,” ujarnya.
Rumah-rumah yang berada tepat di dekat lapangan tembak mengalami kerusakan parah. Puing-puing dan apel hangus dari sebuah pohon yang hancur berserakan di tanah.
Natalia Perevalova mengatakan atap rumahnya rusak berat dan jendela-jendelanya pecah. Namun, ia bersyukur cucu-cucunya tidak berada di rumah saat serangan terjadi.
“Pada saat itu, cucu-cucu saya tidak berada di rumah. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan,” katanya sambil memeluk seekor anjing kecil berwarna hitam. (CNA/B-3)

















































