JD Vance dan Jenderal Caine Peringatkan Trump Bahaya Eskalasi Perang Iran

2 hours ago 3
JD Vance dan Jenderal Caine Peringatkan Trump Bahaya Eskalasi Perang Iran JD Vance.(Al Jazeera)

WAKIL Presiden Amerika Serikat JD Vance dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine dilaporkan menyuarakan kekhawatiran serius terkait rencana eskalasi perang terhadap Iran. Peringatan ini disampaikan saat Presiden Donald Trump mempertimbangkan berbagai opsi militer dalam pertemuan di Gedung Putih pada Jumat (24/7/2026).

Menurut laporan CNN yang mengutip sumber pejabat AS, Jenderal Caine secara spesifik menyoroti kondisi stok amunisi AS yang kian menipis. Meskipun Caine menegaskan bahwa militer AS mampu melaksanakan opsi serangan yang diinginkan Trump dengan sukses, ia memperingatkan ada implikasi negatif jangka panjang jika kampanye militer terus ditingkatkan.

Jeda Serangan Udara

Menyusul pertemuan tersebut, AS tampak menghentikan sementara pengeboman terhadap Iran pada Jumat malam. Langkah ini diambil setelah hampir dua minggu berturut-turut AS melancarkan serangan udara. Sumber dari Departemen Pertahanan mengonfirmasi pada Sabtu bahwa operasi saat ini sedang dalam status ditangguhkan (on a hold).

Hingga saat ini, belum dapat dipastikan apakah kekhawatiran mengenai stok senjata atau risiko eskalasi menjadi alasan utama di balik jeda serangan tersebut. Namun, penipisan cadangan senjata utama AS memang menjadi perhatian internal Pentagon sejak sebelum konflik meluas.

Diplomasi di Tengah Ancaman Militer

Direktur Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, menyatakan bahwa Presiden Trump tetap konsisten mengutamakan solusi diplomatik. Namun, Trump tetap mempertahankan semua opsi militer jika Iran terus melanjutkan aktivitas teror di Selat Hormuz atau terhadap sekutu AS.

"Dikombinasikan dengan sanksi sukses yang melumpuhkan ekonomi Iran dan 13 hari serangan berturut-turut terhadap target militer, akan bijaksana bagi Iran untuk mengupayakan kesepakatan negosiasi. Jika tidak, mereka tahu apa yang akan terjadi," tegas Cheung dalam pernyataan resminya.

Di sisi lain, Trump mengungkapkan kepada wartawan bahwa pejabat AS sedang aktif bernegosiasi dengan Teheran. Ia mengeklaim Iran mulai menunjukkan sikap lebih serius dalam pembicaraan yang sedang berlangsung. Meski demikian, Trump tidak menutup kemungkinan untuk melanjutkan pengeboman atau bahkan memberikan dosis yang lebih berat jika negosiasi menemui jalan buntu.

Tekanan dari Negara Teluk

Selain pertimbangan internal, negara-negara Teluk juga dilaporkan mendesak AS untuk menahan diri. Meskipun mereka mengakui kemampuan unik militer AS untuk meningkatkan konflik, stabilitas kawasan menjadi prioritas utama yang disampaikan kepada pejabat administrasi Trump.

Di balik retorika kerasnya di depan publik, Trump secara pribadi menginstruksikan para negosiatornya untuk terus berbicara. Hal ini menunjukkan pergulatan sang presiden dalam menghadapi realitas operasi militer yang terbatas tanpa harus mengerahkan pasukan darat (boots on the ground).

Catatan Pentagon: Juru Bicara Utama Pentagon, Sean Parnell, menegaskan bahwa militer AS tetap yang terkuat di dunia. Ia menyatakan bahwa AS memiliki persenjataan yang cukup untuk melindungi kepentingan dan rakyatnya kapan pun Presiden memilih untuk bertindak. (I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |