Pakar IPB Ungkap Bahaya Abu Vulkanik pada Tanaman dan Lahan Pertanian

6 hours ago 2
Pakar IPB Ungkap Bahaya Abu Vulkanik pada Tanaman dan Lahan Pertanian Warga menunjukkan abu vulkanik di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Sabtu (5/9/2026).( ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas)

ERUPSI gunung berapi yang menyemburkan abu vulkanik memberikan dampak ganda terhadap sektor pertanian. Pakar Ilmu Tanah IPB University, Prof. Iskandar, menjelaskan bahwa besarnya tingkat kerusakan pada tanaman dan lahan pertanian sangat bergantung pada durasi paparan, ketebalan lapisan, serta jarak dari pusat letusan.

“Jika gangguan berlangsung berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu, dampaknya akan buruk,” kata Prof Iskandar, Rabu (9/9).

Menurutnya, ketika daun dan batang tanaman tertutup abu vulkanik, proses fotosintesis akan terganggu karena stomata tertutup oleh lapisan abu. Kondisi tersebut dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman, bergantung pada berapa lama abu vulkanik menempel pada permukaan daun. 

“Tanaman bisa gagal dalam proses pembungaan dan gagal panen,” imbuhnya.

Iskandar menjelaskan, dampak abu vulkanik terhadap tanaman juga dipengaruhi oleh jarak dari pusat letusan. Di wilayah yang relatif dekat dengan pusat letusan, abu vulkanik yang jatuh masih memiliki suhu cukup tinggi sehingga dapat menyebabkan kerusakan fisik pada tanaman.

“Untuk jarak yang relatif dekat, abu vulkanik masih cukup panas dan dapat menimbulkan kerusakan secara fisik. Tanaman layu dan akhirnya mati,” ujarnya.

Ia mengatakan, lama abu vulkanik bertahan di permukaan lahan juga bergantung pada curah hujan. Abu vulkanik, terutama yang memiliki lapisan tipis, relatif mudah terbawa oleh aliran air hujan.

Semakin jauh dari pusat letusan, ukuran butiran abu vulkanik umumnya semakin halus dan ringan. Sementara itu, di sekitar pusat letusan, material yang dikeluarkan bukan lagi berupa debu, tetapi dapat berupa pasir, kerikil, hingga bongkahan batu.

Terkait penanganan lahan pertanian yang terdampak abu vulkanik, Prof Iskandar menyarankan agar lahan segera diolah setelah hujan abu berakhir dan masyarakat sudah dapat kembali beraktivitas secara normal, terutama jika lapisan abu yang menutupi lahan relatif tipis.

Namun, apabila lapisan abu cukup tebal, pengolahan tanah akan menjadi lebih berat. Abu vulkanik sebaiknya tidak langsung dibuang, tetapi dapat dicampurkan dengan tanah. Selanjutnya, kondisi tanah perlu diperiksa, antara lain melalui pengukuran pH dan daya hantar listrik (DHL).

Di sisi lain, Prof Iskandar menyebut sebaran abu vulkanik juga dapat menjadi salah satu proses alami yang berpotensi membantu menyuburkan kembali tanah yang telah mengalami degradasi.

“Begitu abu vulkanik yang ada di permukaan tanah terkena air hujan, maka akan dilepaskan berbagai macam unsur yang bermanfaat sebagai hara tanaman, seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), kalium (K) dan lain-lain,” jelasnya.

Karena itu, ia berharap hujan abu vulkanik tidak berlangsung dalam waktu lama sehingga masyarakat dapat kembali beraktivitas secara normal dan lahan pertanian dapat segera dipulihkan.

“Jadi semoga saja ‘hujan’ abu vulkanik ini tidak berlama-lama, masyarakat bisa beraktivitas kembali dengan normal dan tanah kembali subur,” pungkasnya. (P-4)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |