MPLS Ramah: Sekolah Jadi Rumah yang Dirindukan

5 hours ago 2
MI/Seno MI/Seno(Dok. Pribadi)

SEMANGAT untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 berkaitan erat dengan pembangunan sumber daya manusia. Itu sebagaimana yang tertulis dalam poin Asta Cita nomor empat yang berbunyi ‘Memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas’. Pendidikan adalah instrumen yang paling tepat untuk mewujudkan visi besar tersebut.

Pendidikan dasar menengah yang digawangi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memegang peranan penting dalam hal pengembangan SDM unggul Indonesia. Karakter manusia dewasa, sebagai warga negara, umumnya ditentukan pada masa-masa pendidikan dasar dan menengah ini. Mengupayakan yang terbaik untuk mereka, yang akan menentukan arah pembangunan bangsa, adalah hal mutlak yang perlu dikerjakan secara sistematis dan holistik oleh seluruh stakeholder.

Kemendikdasmen dalam beberapa waktu terakhir telah meluncurkan pelbagai kebijakan untuk mewujudkan pendidikan yang responsif, akuntabel, melayani, adaptif, dan harmonis. Kebijakan-kebijakan tersebut tidak sekadar menjalankan birokrasi reguler di internal kementerian, tetapi juga berorientasi mewujudkan ekosistem pendidikan yang humanis dan inklusif.

MPLS RAMAH

Salah satu aspek penting dalam pendidikan dasar dan menengah ialah Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). MPLS ini merupakan kegiatan pertama bagi murid baru yang diselenggarakan oleh sekolah untuk menumbuhkan dan memperkuat karakter serta profil lulusan. Dalam masa ini murid diajak untuk mengeksplorasi potensi diri, potensi eksternal seperti kurikulum, sekolah, dan ekosistem pendidikan. Tujuannya untuk menginternalisasi karakter keindonesian serta mengoptimalkan capaian pembelajaran berdaya saing global.

Bagi sebagian murid, dan mungkin juga bagi orangtua, MPLS merupakan masa yang di dalamnya terdapat kombinasi rasa gugup dan penuh harap. Bagi mereka, hari pertama masuk sekolah bukan sekadar seremoni administratif, melainkan pintu gerbang menuju dunia baru, dunia yang akan menentukan cara murid berpikir, berperilaku, dan mengenali potensi diri sendiri selama bertahun-tahun ke depan ketika di sekolah. Dalam hal ini, sekolah dapat dimaknai sebagai rumah kedua.

Pada peran yang krusial inilah MPLS dipersiapkan sebaik mungkin. Pada 2026 ini MPLS hadir dengan wajah dan semangat baru yang lebih hangat, yakni MPLS Ramah. Sebelumnya, kita mengenal istilah masa orientasi siswa di pelbagai jenjang pendidikan kerap lekat dengan kisah pilu seperti perpeloncoan, persyaratan untuk membawa atribut aneh yang terkesan kurang bermartabat, bahkan tidak jarang terjadi kekerasan fisik dan verbal yang dengan dalih untuk membentuk mental.

Sebagai rumah kedua, sekolah diwajibkan menjadi tempat yang aman, nyaman, dan damai, bebas dari segala bentuk kekerasan, perundungan, intoleransi, dan penindasan. Indikator keberhasilannya ialah ketika murid merasa diterima, aman, antusias, mampu beradaptasi, serta siap belajar dengan karakter positif yang ada di sekolah.

Rusprita Putri Utami, Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikdasmen, mengatakan bahwa materi MPLS perlu disampaikan secara gembira dan edukatif, serta kontekstual. Materinya dapat mencakup bahaya narkoba, judi online, kecanduan gim daring, pembatasan media sosial, serta PP Tunas.

Tema MPLS 2026, MPLS Ramah, merupakan pernyataan dan sikap segenap bangsa bahwa inilah cara Indonesia memperlakukan generasi penerus bangsa dalam gerbang awal perjalanan akademik mereka. Peraturan mengenai penyelenggaraan MPLS tahun ini tertuang pada Permendikdasmen No 16 Tahun 2026; sementara uraian materinya dapat dicermati pada Keputusan Mendikdasmen No 198 Tahun 2026.

MENUJU SEKOLAH YANG ASRI

Dalam konteks mewujudkan MPLS Ramah, maka satu hal yang penting ialah kesiapan sekolah. MPLS ini nantinya akan menjadi meeting point untuk membangun perkenalan dan kebersamaan, sekaligus melting point yang menyatukan murid baru dengan nilai, budaya, dan kebiasaan positif sekolah. Cita-cita untuk mewujudkannya mempersyaratkan bahwa sekolah sudah harus memiliki karakter positif terlebih dahulu.

MPLS Ramah ini tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari cita-cita yang lebih besar untuk mewujudkan sekolah berbudaya ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah). Empat kata tersebut, meski terdengar sederhana, bila direnungkan lebih jauh, ASRI sesungguhnya adalah cetak biru bagi lingkungan belajar yang humanistis.

MPLS sebagai ajang untuk mempersiapkan murid secara intelektual, sosial, dan emosional mengharuskan sekolah yang aman, yakni bebas dari ancaman kekerasan dan intimidasi. Juga, untuk optimalisasi potensi dari tiap-tiap murid, maka sekolah diwajibkan untuk sehat, yakni memperhatikan kesejahteraan fisik dan psikis warganya, termasuk kondisi sosial-emosional murid yang kini justru diidentifikasi sejak MPLS berlangsung.

Selanjutnya, sekolah yang resik dan indah menegaskan bahwa lingkungan fisik turut membentuk suasana batin murid. Belajar di ruang yang bersih dan tertata cenderung menumbuhkan semangat untuk berekspresi positif serta rasa hormat yang lebih besar terhadap lingkungan dan sesamanya.

Dengan kata lain, MPLS Ramah adalah gerbang masuk menuju budaya ASRI yang hendak dihidupkan sepanjang tahun ajaran, bukan hanya selama lima hari orientasi. Pelaksanaan lima hari MPLS tersebut boleh jadi nanti akan menentukan keberhasilan penyelenggaraan pendidikan selama beberapa tahun ke depan, bahkan jauh setelah murid tersebut lulus dari program pendidikan.

Membangun fondasi karakter, mengenali potensi diri, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap sekolah membutuhkan proses yang tidak bisa diburu-buru sehingga pada tahun ini pelaksanaannya tidak seperti tahun sebelumnya, tiga hari. Hal ini kembali menegaskan bahwa MPLS dirancang bukan kegiatan seremonial yang berakhir begitu saja tanpa refleksi semata, melainkan sebuah siklus yang utuh dan terukur.

MENGENAL DIRI UNTUK MENGENAL DUNIA

Salah satu filosofi yang menjadi semangat MPLS Ramah sesungguhnya sederhana tapi dalam: seorang murid baru bisa memahami dunia luar bila ia lebih dulu memahami dirinya sendiri. Prinsip ini menempatkan pengenalan potensi diri sebagai fondasi untuk mengeksplorasi pengetahuan semesta, bukan pelengkap.

Apabila rangkaian MPLS tahun ini didahului oleh identifikasi kondisi sosial-emosional, asesmen literasi dan numerasi, serta pemetaan bakat dan minat, khususnya di jenjang SMP dan SMA, maka hal tersebut bukan kebetulan belaka, melainkan by design. Tes-tes ini bukan formalitas administratif yang berakhir di lemari arsip, melainkan kompas awal yang membantu sekolah merancang pendampingan yang tepat sasaran bagi setiap anak, sebab tidak ada dua murid yang datang dengan latar belakang, bekal, luka, dan mimpi yang sama persis.

Dengan adanya pemetaan semacam ini, maka murid tidak dianggap sebagai kertas kosong yang semuanya seragam. Mereka datang justru membawa potensi yang siap untuk dikembangkan di rumah keduanya. Maka, guru dan seluruh ekosistem sekolah, sebagai orangtua di sekolah, perlu melihat ini sebagai peluang emas. Seorang anak yang gemar menggambar, seorang anak yang cemas berbicara di depan umum, seorang anak yang justru menyimpan bakat kepemimpinan yang belum tergali, dan bakat lainnya, semuanya perlu dikenali dan dipetakan sejak hari-hari pertama sekolah.

Hasil asesmen tersebut juga dapat bermanfaat bagi orangtua untuk lebih mengenali potensi dari anak dari data yang akurat, bukan sekadar menebak-nebak. Berangkat dari hasil asesmen ini, intervensi pendidikan dan dukungan orangtua yang lebih personal dan cocok dapat dirancang, bukan sekadar pembelajaran yang dipukul rata untuk semua kepala. Dengan demikian, segenap pihak dapat memahami bahwa pengenalan pada potensi diri adalah pintu masuk untuk memasuki puncak-puncak pengetahuan yang baru.

Dalam hal ini, pengenalan diri kemudian dapat meluas pada pengenalan warga sekolah, kurikulum, dan lingkungan sekolah itu sendiri. Murid baru diperkenalkan bukan hanya pada guru dan tata tertib, melainkan juga pada ekosistem sosial tempat mereka akan tumbuh, teman sebaya, kakak kelas, tenaga kependidikan, hingga budaya yang hidup di wilayah sekolah. Sekolah yang baik bukan hanya sekolah yang menyediakan gedung yang megah dengan kurikulum yang rapi, melainkan juga ketika komunitas yang ada saling mengenal dan saling menjaga.

RUMAH KEDUA YANG DIRINDUKAN

Seluruh rangkaian kebijakan ini bermuara pada satu cita-cita mulia yang sederhana, yakni untuk menjadikan sekolah sebagai rumah kedua yang dirindukan, bukan tempat yang ditakuti. Murid yang memasuki gerbang sekolah untuk pertama kalinya akan sangat bahagia apabila disambut dengan kehangatan, bukan intimidasi; dikenali potensinya, bukan diseragamkan paksa; dan diajak mengenali adab, bukan sekadar dihafalkan aturan.

MPLS Ramah yang digawangi oleh Kemendikdasmen, dengan segala perangkat regulasinya, tengah mengajukan tawaran yang mendasar kepada dunia pendidikan Indonesia mengenai bagaimana mengantarkan murid ke gerbang rumah barunya. Program ini harus diapresiasi dan didukung oleh segenap pihak, karena menekankan bahwa pendidikan karakter yang kokoh tidak lahir dari ketakutan, melainkan dari rasa aman yang dirawat sejak hari pertama. Dan, bahwa sekolah yang benar-benar mendidik bukan hanya sekolah yang mencerdaskan otak, melainkan juga sekolah yang menjadi rumah, rumah yang ramah bagi jiwa, dan asri bagi raga.

MPLS Ramah ini tidak hanya menyentuh ranah akademik murid, tetapi juga mengenai cara mereka melihat dunia dan sesamanya. Fondasi yang sangat menentukan pola pikir murid, mungkin sepanjang hidupnya, boleh jadi ditentukan oleh beberapa hari masa-masa awal sekolah. Menjalankan dan mendukung MPLS Ramah berarti turut mendukung untuk mencapai SDM unggul Indonesia.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |