: Petugas membawa karung berisi bahan semai Natrium Klorida (NaCI) untuk dimasukkan kedalam pesawat Cessna 208B Grand Caravan Ex di Bandar Udara Tjilik Riwut, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Minggu (2/8/2026)(ANTARA FOTO/Auliya Rahman)
UPAYA pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang digelar Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan membuahkan hasil. Pelaksanaan OMC pada Selasa (8/9) berhasil memicu turunnya hujan di sejumlah titik rawan karhutla di wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa meski hujan telah membasahi sebagian wilayah, penanganan darat dan udara tetap diterjunkan secara masif untuk menuntaskan pemadaman.
"Jadi sudah terjadi baik di Kalimantan Barat juga terjadi hujan dan satgas darat juga bekerja 1.408 orang dengan memadamkan 48 hektare lebih satgas udara melakukan patroli, melakukan waterbombing dan air yang dijatuhkan itu sebesar 780.000 liter lebih dengan luas lahan yang berhasil dipadamkan sebesar 115 hektare lebih," kata Berton Selasa (8/9)
Dalam pelaksanaan OMC, pesawat penyemai berhasil menyemaikan 3.000 kilogram garam dengan durasi operasi mencapai enam jam penerbangan. Intervensi ini berhasil memaksimalkan curah hujan di kawasan Kabupaten Tanah Bumbu, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, hingga Balangan.
"Ini berhasil memaksimalkan hujan turun di Kabupaten Tanah Bumbu, Hulu Sungai Ketengah, Hulu Sungai Selatan maupun Balangan," jelasnya.
Hujan tersebut membantu proses pembasahan lahan dan mendukung pengendalian kebakaran di lapangan. Di Kalimantan Barat, hotspot high confidence pada pemantauan terakhir turun dari 31 menjadi 12 titik.
Sementara di Kalimantan Tengah, hotspot meningkat dari 46 menjadi 63 titik sehingga operasi dan kewaspadaan tetap diperkuat meskipun hujan telah turun di sebagian wilayah.
Perkembangan tersebut menunjukkan kondisi karhutla masih dinamis. Hujan membantu meningkatkan kelembapan dan pembasahan lahan, namun pada lokasi yang masih memiliki api aktif maupun bara bawah permukaan, terutama di lahan gambut, pemadaman, pembasahan, dan pendinginan tetap dilanjutkan untuk mencegah api kembali menyala.
Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan para pihak terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, mopping up, pendinginan, serta pemantauan lokasi yang berpotensi mengalami penyalaan kembali.
Selain operasi darat, sebanyak 53 unit armada udara disiagakan untuk mendukung pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Dari jumlah tersebut 19 armada digunakan untuk patroli udara dan mendukung OMC dan 34 armada digunakan untuk operasi water bombing.
Pengerahan armada dilakukan berdasarkan perkembangan situasi, kondisi meteorologis, dan kebutuhan lapangan. Operasi udara diarahkan untuk mempercepat penanganan, menekan penjalaran api, dan mendukung operasi petugas di darat. (P-4)





































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9293885/original/003140100_1783758261-10-10.jpg)








:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4951307/original/044250400_1727138623-IMG_20240923_215315.jpg)



:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/8163337/original/062235700_1781018081-InShot_20260609_221323602.jpg.jpeg)