Menelusuri Jejak Seni Kamasan khas Bali di Saka Museum

2 hours ago 1
Menelusuri Jejak Seni Kamasan khas Bali di Saka Museum pameran Kamasan: The Noble Tradition of Balinese Painting(Dok Saka Museum Bali)

SAKA Museum Bali menghadirkan pameran seni baru bertajuk Kamasan: The Noble Tradition of Balinese Painting, menyajikan deretan karya seni lukis tradisional Bali, Kamasan, dari akhir abad ke-19 hingga masa kini. Berlangsung hingga 30 Mei 2027.

Gaya lukis Kamasan mengambil nama dari sebuah desa di Kabupaten Klungkung, Bali, seni lukis mulanya berkembang di lingkungan Kerajaan Gelgel pada abad ke-16 dan terus disempurnakan di lingkungan istana Klungkung. 

“Kamasan mengangkat kisah-kisah dari epos Ramayana dan Mahabharata, serta folklor, mitologi, dan kosmologi Bali dan Jawa. Sosok manusia, hewan, dan dewa digambarkan melalui tata visual yang khas dalam penggunaan garis, gestur, dan warna,” tulis Saka Museum dalam keterangan pers yang diterima, Rabu (9/9).

Pada 2015, Kamasan ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda. Tradisi ini merupakan bagian dari perjalanan panjang seni lukis Bali yang telah berlangsung selama berabad-abad. Kali ini Kamasan dirayakan dalam pameran temporer perdana Saka Museum.

Dikurasi oleh Farah Wardani dan Made Chandra, serta dirancang oleh firma desain arsitektur studiodikubu, pameran ini disusun dalam rangkaian babak Kala, yang merujuk pada waktu. Pengunjung diajak menelusuri asal-usul tradisi Kamasan, para maestro yang mewariskan keahliannya lintas generasi, para perempuan Kamasan, generasi baru seniman kontemporer, hingga bahasa visual yang menjadi landasan seluruh karya tersebut.

Dari Para Maestro hingga Masa Kini

Kamasan: The Noble Tradition of Balinese Painting menghimpun lebih dari 30 karya, termasuk kain ritual klasik, karya pada daun lontar, kalender astrologi Palelintangan, serta lukisan para maestro Kamasan yang dipercayakan kepada SAKA Museum oleh keluarga dan keturunan mereka. 

Karya-karya bersejarah itu ditampilkan berdampingan dengan karya kontemporer para seniman muda yang memperluas bahasa visual Kamasan. Di antaranya adalah Eka Sutha, yang melalui estetika kolase pop menafsirkan kembali mitologi dan spiritualitas Bali serta menjembatani kehidupan ritual di desa-desa Bali dengan kehidupan urban Bali masa kini. Pameran ini juga menampilkan Eka Mardys, seorang seniman tato yang mengolah figur Kamasan dalam gaya futuristis.

Terpajang juga karya seni milik Mangku Muriati, perempuan pertama dari generasinya yang menjalankan dua peran sekaligus, sebagai pemangku dan seniman Kamasan. Sebagai salah satu pelukis Kamasan terkemuka yang masih aktif berkarya, karya-karyanya telah dipamerkan dalam Sharjah Biennial 2025 dan menjadi bagian dari koleksi Australian Museum di Sydney serta Ibsen Museum di Oslo. Kiprahnya menegaskan keberlanjutan tradisi Kamasan hingga masa kini.

“Pameran ini menempatkan mahakarya klasik dan karya kontemporer dalam kedudukan yang setara. Keseluruhan perjalanan Kamasan, mulai dari akar ritual hingga berbagai penafsiran terbarunya, disajikan sebagai satu kisah yang berkesinambungan. Pameran ini memperlihatkan bagaimana setiap generasi termasuk perempuan dan seniman muda menjaga tradisi tersebut tetap hidup dengan menghadirkan suara yang relevan bagi zamannya,” terang Saka Musem.

Selama pameran berlangsung, Saka Museum juga akan menghadirkan diskusi bersama kurator dan seniman, lokakarya, program khusus anak-anak, serta berbagai program publik lainnya. Pengunjung, keluarga, pendidik, dan komunitas budaya diundang untuk bertemu dengan para seniman dan peneliti yang terlibat, sekaligus mengenal Kamasan lebih dekat melalui dialog dan praktik langsung. 

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |