Ilustrasi.(Magnific)
MANUSIA ternyata memiliki kemampuan yang mengejutkan dalam memperkirakan berapa lama lagi mereka akan hidup. Namun, penelitian terbaru mengungkapkan satu catatan penting: mayoritas orang masih meremehkan usia harapan hidup mereka yang sebenarnya.
Studi yang memantau sekitar 2.000 orang dewasa lanjut usia di Jepang selama 28 tahun menemukan bahwa harapan hidup subjektif (SLE)--yaitu seberapa lama seseorang secara pribadi memperkirakan dirinya akan hidup--memiliki hubungan signifikan dengan risiko kematian aktual dan rentang hidup mereka pada akhirnya.
Informasi yang Bermakna
Ketika partisipan diminta untuk memperkirakan rentang hidup mereka sendiri, jawaban mereka mengandung informasi yang bermakna mengenai umur panjang mereka, melampaui karakteristik demografis dan sosioekonomi dasar. Namun, kemampuan memprediksi umur panjang secara umum tidak berarti orang dapat memprediksi usia kematian mereka secara akurat.
Berdasarkan studi tersebut, sekitar 59 persen partisipan pada akhirnya hidup lebih lama daripada yang mereka perkirakan sebelumnya.
Analisis Hubungan SLE dan ALE
Para peneliti membandingkan harapan hidup subjektif (SLE) dengan mortalitas dan harapan hidup aktual (ALE). Hasilnya menunjukkan hubungan positif; orang yang percaya bahwa mereka akan hidup lebih lama, rata-rata cenderung bertahan hidup lebih lama pula.
Hubungan ini tetap signifikan bahkan setelah peneliti memperhitungkan perbedaan demografis dan sosioekonomi. Namun, hubungan tersebut digambarkan sebagai inelastis yang berarti perbedaan dalam ekspektasi seseorang tidak diterjemahkan secara proporsional ke dalam perbedaan berapa lama mereka benar-benar hidup.
Kecenderungan untuk meremehkan rentang hidup juga tidak tersebar merata di seluruh populasi:
- Perempuan: Lebih cenderung hidup melampaui usia yang mereka prediksi sendiri.
- Pendidikan Tinggi: Partisipan dengan tingkat pendidikan lebih tinggi cenderung hidup lebih lama dari perkiraan dan memberikan prediksi yang lebih presisi dibandingkan sekadar angka bulat.
- Kesehatan Buruk: Kelompok ini justru lebih kecil kemungkinannya untuk melampaui estimasi rentang hidup mereka sendiri.
Implikasi Ekonomi dan Masa Pensiun
Temuan ini memiliki implikasi yang melampaui sekadar kemampuan memprediksi kematian. Ekspektasi seseorang tentang berapa lama mereka akan hidup sangat memengaruhi keputusan ekonomi besar di masa tua, termasuk perencanaan pensiun dan tabungan.
Seseorang yang secara signifikan meremehkan rentang hidupnya mungkin akan membuat pilihan finansial yang berbeda dibandingkan jika mereka memiliki informasi yang lebih akurat tentang kemungkinan umur panjang mereka. Hal ini berisiko menyebabkan kekurangan dana di masa tua karena usia yang ternyata lebih panjang dari anggaran yang disiapkan.
Para peneliti menyimpulkan bahwa memberikan informasi yang lebih personal, seperti rata-rata sisa harapan hidup berdasarkan usia dan jenis kelamin yang spesifik, dapat membantu individu mengembangkan ekspektasi yang lebih tepat dan memperbaiki keputusan ekonomi mereka. Ekspektasi seseorang tentang umur panjang mereka tidak boleh dianggap sekadar tebakan belaka. (Newsweek/I-2)





































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9293885/original/003140100_1783758261-10-10.jpg)








:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4951307/original/044250400_1727138623-IMG_20240923_215315.jpg)



:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/8163337/original/062235700_1781018081-InShot_20260609_221323602.jpg.jpeg)