Ilustrasi(MI/LILIK DARMAWAN)
DUA anak muda tampak sibuk memeriksa satu per satu produk kerajinan yang terpajang di sebuah etalase terbuka di Kompleks Perumahan Graha Mahardhika, Kelurahan Selang, Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.
Di ruang terbuka yang luasnya hanya puluhan meter persegi itu, beragam produk kerajinan tersusun rapi. Ada keranjang, vas bunga, kap lampu, hiasan dinding, tempat barang, dompet hingga berbagai suvenir. Sekilas, benda-benda itu tampak seperti kerajinan biasa. Namun ternyata, kerajinan itu berbahan limbah yakni pelepah pisang.
Biasanya, pelepah pisang hanya dibiarkan membusuk. Tetapi, di tangan Rudi Hermawan, 48 dan istrinya, Novita, 47, berubah menjadi produk bernilai ekonomi. Lebih dari itu, kerajinan berbahan serat alam tersebut kini telah menjangkau pasar mancanegara.
Perjalanan itu tidak lahir dari kondisi yang serba mudah. Justru sebaliknya, usaha yang mereka bangun berawal dari masa sulit ketika pandemi Covid-19 mengguncang pekerjaan mereka. Sebelum menetap di Kebumen, Rudi dan Novita cukup nyaman menjalani kehidupan di Jakarta. Novita bekerja di sebuah perusahaan kontraktor, sedangkan Rudi berkarier di salah satu anak perusahaan BUMN yang bergerak di bidang telekomunikasi.
Kontrak kerja Rudi ditahan dan aktivitas proyek mengalami perlambatan. Situasi tersebut membuat keduanya harus mengambil keputusan besar. Mereka akhirnya meninggalkan Jakarta dan pulang ke Kebumen, kampung halaman Rudi. “Kami akhirnya memutuskan untuk pulang ke Kebumen. Kebumen adalah kampung halaman suami saya. Waktu itu dari Jakarta ke Kebumen, kami nekat naik sepeda motor,” ujar Novita, Sabtu (5/9/2026).
Setibanya di Kelurahan Selang, keduanya sadar bahwa kehidupan baru harus dimulai dari titik nol. Mereka sempat mencoba usaha mina padi. Namun, usaha tersebut tidak berkembang sesuai harapan. Alih-alih menyerah, Rudi dan Novita justru mulai melihat lingkungan sekitar dengan cara berbeda. Di tengah banyaknya tanaman pisang yang tumbuh di wilayah Kebumen, mereka menemukan sesuatu yang selama ini luput dari perhatian.
Bagi sebagian orang, pelepah itu hanyalah sisa tanaman yang tidak lagi berguna. Namun, bagi Rudi dan Novita, di dalamnya terdapat serat yang dapat diolah menjadi bahan baku produk kerajinan.
Mereka kemudian melakukan riset secara mandiri. Berbagai informasi mengenai pemanfaatan serat alam mereka pelajari. Mereka juga mencari tahu bagaimana bahan serupa dikembangkan di negara lain dan seperti apa kebutuhan pasar terhadap produk yang lebih ramah lingkungan. Dari proses panjang itu, lahirlah Agrominafiber Java Indonesia pada 2021.
“Sejak awal membentuk unit usaha ini, kami tidak hanya mengejar keuntungan. Kami mencoba membangun usaha dengan konsep social entrepreneur. Yakni bisnis yang tetap berorientasi ekonomi sekaligus memberikan manfaat sosial dan lingkungan,” kata Novita.
Manfaatkan Limbah
Konsep tersebut kemudian diterapkan Agrominafiber dari hulu hingga hilir. Pelepah pisang dikumpulkan dari petani. Bahan baku itu kemudian dipilah dan dikeringkan sebelum diproses menjadi serat. Serat tersebut selanjutnya dipintal menjadi tali yang menjadi salah satu bahan utama pembuatan kerajinan. Dari bahan sederhana itu, lahir berbagai produk home decor dan kerajinan. Ada keranjang, kap lampu, dekorasi dinding, dompet, hingga berbagai produk kecil dan merchandise.

Rudi dan Novita tidak memilih untuk mengerjakan seluruh proses produksi sndiri. Mereka justru membangun pola kemitraan dengan masyarakat desa. Agrominafiber membangun sejumlah sentra produksi di berbagai desa. Masyarakat dilibatkan sesuai kemampuan dan tahapan pekerjaan masing-masing. “Kalau kita itu membentuk sentra-sentra, misalnya di desa-desa mengumpulkan,” ujar Rudi.
Rantai produksi dimulai dari wilayah penghasil pisang. Sejumlah bahan baku dikumpulkan melalui pengepul di Kecamatan Ambal, Prembun, dan Alian. Setelah itu, pelepah yang telah dikeringkan dikirim untuk memasuki tahapan pengolahan berikutnya.
Sebagian sentra produksi berada di Desa Wonotirto, Kecamatan Karanggayam, Desa Lajer, Kecamatan Ambal, serta wilayah Karangsambung. Di tempat-tempat itulah pelepah pisang yang sebelumnya tidak bernilai diolah menjadi tali serat yang kemudian menjadi bagian dari berbagai produk kerajinan.
Model tersebut membuat usaha Agrominafiber tidak hanya menjadi aktivitas ekonomi milik satu perusahaan. Di dalamnya terdapat masyarakat desa yang menjadi bagian dari rantai produksi. Mulai dari mengumpulkan bahan baku, mengolah serat, membuat tali hingga menghasilkan produk kerajinan. Saat ini, Agrominafiber memiliki sekitar 169 mitra perajin. Sekitar 70 persen di antaranya merupakan perempuan yang tersebar di sejumlah kabupaten di Jawa Tengah.
Bagi Rudi dan Novita, pola tersebut bukan sekadar cara memenuhi pesanan. Ada misi agar masyarakat desa tetap dapat memperoleh penghasilan tanpa harus meninggalkan kampung halaman. Para perajin dapat mengerjakan pesanan dari rumah masing-masing dengan koordinasi melalui sentra produksi.
Sistem produksi Agrominafiber juga menyesuaikan permintaan pasar. Produksi tidak dilakukan dengan jumlah yang sama setiap hari karena perusahaan menerapkan sistem by order. Ketika pesanan meningkat, jumlah perajin yang dilibatkan juga diperluas. “Kalau produksi tergantung. Kalau kita volume besar, kita menggandeng mitra-mitra di Kebumen,” kata Rudi.
Untuk kebutuhan bahan baku tali saja, produksinya dapat mencapai sekitar 10-15 ton per bulan. Karena itu, keberadaan sentra produksi menjadi penting. Semakin kuat kapasitas masing-masing sentra, semakin besar pula kemampuan Agrominafiber memenuhi pesanan dalam jumlah besar dengan waktu yang telah ditentukan. “Kita perlu percepatan, sentra-sentra per bulan produksi, karena kita memproduksi sesuai dengan pesanan,” ujar Rudi.
Konsep pemberdayaan itu bahkan diperluas kepada kelompok lain, termasuk warga binaan Rumah Tahanan Kebumen. Warga binaan mendapatkan pembinaan untuk membuat tali dan mengerjakan produk kerajinan. Keterampilan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.
Tembus Pasar Dunia
Dua tahun pertama menjadi masa yang tidak mudah bagi Rudi dan Novita. Salah satu persoalan utama adalah menjaga kualitas produk agar tetap konsisten. Pasar ekspor memiliki standar yang berbeda. Ukuran, kekuatan bahan, desain hingga ketepatan produksi harus diperhatikan.
Agrominafiber kemudian memperkuat pembinaan terhadap para perajin. Sistem klaster diterapkan agar koordinasi produksi lebih mudah. Setiap wilayah memiliki koordinator yang bertugas mengatur pekerjaan sekaligus memastikan produk sesuai standar.
Perlahan, pasar domestik kiga mulai terbentuk. Setelah itu, produk Agrominafiber mulai melangkah ke pasar internasional. Nigeria menjadi negara pertama tujuan ekspor. Perjalanan kemudian berlanjut ke Chile, Argentina, Belgia, Dubai, London hingga Amerika Serikat. “Awal pertama ke Nigeria. Kemudian Chile, Argentina, Belgia, Dubai, London, dan AS,” kata Rudi.
Produk yang dikirim ke pasar luar negeri terutama berupa home decor dan kerajinan berbahan serat alam. Keranjang, kap lampu dan berbagai produk anyaman menjadi beberapa produk yang diminati. Harga produk jadi pun beragam, mulai sekitar Rp30 ribu hingga Rp850 ribu, tergantung jenis, ukuran, desain dan tingkat kerumitannya.
Salah satu pencapaian penting terjadi pada akhir 2025. Agrominafiber melakukan pelepasan ekspor perdana produk home decor ke Amerika Serikat. Sekitar 9.000-10.000 produk kerajinan serat alam dikirim ke negara tersebut dengan nilai transaksi sekitar 57.200 dolar AS, atau sekitar Rp1 miliar. Produk yang dikirim antara lain kerajinan anyaman berbahan pelepah pisang dan eceng gondok.
Konsep zero waste menjadi bagian dari pengembangan usaha. Material yang tidak terpakai untuk produk utama diupayakan kembali agar memiliki nilai guna. Bahkan, material sisa tersebut dikembangkan menjadi bahan alternatif seperti bio-leather atau vegan leather.
Pendampingan
Perjalanan Agrominafiber tidak terlepas dari pendampingan. Rudi mengatakan, salah satu pihak yang membantu penguatan usaha mereka adalah Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA).
Pendampingan tersebut dimulai dengan pelatihan basic mentality untuk pengusaha. Setelah itu, mereka mendapatkan materi lain seperti pembukuan, manajemen pemasaran, branding hingga pengemasan produk. “Kami mendapat pelatihan dan pendampingan sehingga bisa lebih berkembang mulai tahun 2023 lalu,” ujar Rudi.
Pendamping UMKM dari YDBA Banyumas, Dwi Sufajar Utomo, mengatakan Agrominafiber awalnya secara proaktif menghubungi YDBA setelah mengetahui informasi mengenai program pendampingan melalui media sosial.
Dari kantor pusat YDBA di Jakarta, Agrominafiber kemudian diarahkan ke Banyumas karena wilayah tersebut merupakan cabang yang paling dekat dengan Kebumen. “Awalnya Agrominafiber melihat informasi melalui media sosial YDBA di Jakarta. Kemudian dari Jakarta diarahkan ke Banyumas karena wilayahnya paling dekat,” kata Dwi.
Menurut dia, pendampingan tidak berhenti pada satu kali pelatihan. Program dilakukan secara berkelanjutan sesuai kebutuhan pengembangan usaha. Selain basic mentality, pelaku UMKM mendapatkan pelatihan pembukuan, manajemen pemasaran, branding dan packaging.
YDBA juga melakukan pemantauan terhadap perkembangan usaha. Dalam program tertentu, pendampingan dapat dilakukan langsung melalui kunjungan ke lokasi usaha. “Program kami biasanya mencakup empat hal, yakni pelatihan, pendampingan, fasilitasi pemasaran, dan fasilitasi pembiayaan,” ujar Dwi.
Pendampingan tersebut kemudian membuka akses lebih luas bagi Agrominafiber untuk mengikuti kegiatan di lingkungan Astra. Pada awal 2026, Agrominafiber mengikuti kompetisi Quality Control Circle (QCC) untuk UMKM di lingkungan Astra. Meski baru pertama kali mengikuti kompetisi tersebut, usaha asal Kebumen itu berhasil meraih juara III kategori handicraft. “Ternyata langsung menyabet juara III kategori kerajinan tangan (handicraft),” kata Dwi. (H-2)





































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9293885/original/003140100_1783758261-10-10.jpg)








:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4951307/original/044250400_1727138623-IMG_20240923_215315.jpg)



:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/8163337/original/062235700_1781018081-InShot_20260609_221323602.jpg.jpeg)