Ilustrasi(magnifik)
LETUSAN gunung berapi tidak hanya menghasilkan lava dan abu. Erupsi besar juga dapat melepaskan sulfur dioksida (SO₂) dalam jumlah besar ke atmosfer.
Gas tersebut dapat memengaruhi iklim Bumi dengan memicu terbentuknya aerosol sulfat yang mampu mengurangi jumlah sinar Matahari yang mencapai permukaan.
Dilansir dari NASA, ketika erupsi eksplosif membawa SO₂ hingga ke stratosfer, gas tersebut bereaksi dengan air dan membentuk partikel aerosol sulfat berukuran sangat kecil.
Partikel berwarna terang ini dapat bertahan di atmosfer selama beberapa tahun, bergantung pada besarnya letusan dan ketinggian material yang mencapai stratosfer.
SO₂ Tidak Langsung Mendinginkan Bumi
Efek pendinginan sebenarnya bukan berasal dari gas SO₂ secara langsung. Setelah berada di atmosfer, SO₂ mengalami reaksi kimia dan berubah menjadi aerosol sulfat.
Berdasarkan informasi yang dikutip dari NASA, aerosol sulfat dapat menghalangi sebagian radiasi Matahari yang masuk dengan cara memantulkan atau menyebarkannya kembali ke angkasa.
Akibatnya, energi Matahari yang mencapai permukaan Bumi berkurang sehingga suhu atmosfer dan permukaan dapat mengalami penurunan untuk sementara.
Namun, efek tersebut tidak berlangsung permanen. Aerosol vulkanik perlahan tersingkir dari stratosfer melalui proses kimia dan sirkulasi atmosfer.
Karena itu, pendinginan akibat letusan besar umumnya hanya berlangsung selama beberapa tahun.
Pinatubo Jadi Contoh Nyata
Salah satu contoh paling jelas terjadi pada erupsi Gunung Pinatubo di Filipina pada 1991. Letusan besar tersebut menyuntikkan sekitar 15 juta ton SO₂ ke stratosfer.
Gas itu kemudian bereaksi dengan air dan membentuk lapisan aerosol yang menyebar ke seluruh dunia.
Dikutip dari NASA Earth Observatory, aerosol hasil erupsi Pinatubo menyebar secara global dalam waktu sekitar dua tahun.
Keberadaan partikel tersebut menyebabkan penurunan suhu rata-rata global sekitar 0,6 derajat Celsius selama periode setelah letusan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa satu erupsi besar dapat memberikan dampak jauh melampaui wilayah di sekitar gunung berapi.
Material yang mencapai stratosfer dapat memengaruhi keseimbangan energi Bumi dan pola atmosfer dalam skala global.
Tidak Semua Erupsi Bisa Mendinginkan Bumi
Meski demikian, tidak semua letusan gunung berapi menghasilkan efek pendinginan global. Besarnya emisi SO₂ dan kemampuan letusan membawa gas hingga stratosfer menjadi faktor penting.
Berdasarkan laporan dari U.S. Geological Survey (USGS), dampak iklim terbesar berasal dari perubahan SO₂ menjadi asam sulfat yang kemudian membentuk aerosol sulfat.
Partikel ini meningkatkan pantulan radiasi Matahari kembali ke angkasa dan mendinginkan troposfer.
USGS mencatat, beberapa erupsi besar pada abad terakhir menyebabkan suhu rata-rata permukaan Bumi turun hingga sekitar setengah derajat selama satu hingga tiga tahun.
Erupsi Pinatubo bahkan menyebabkan pendinginan permukaan yang lebih besar pada puncak dampaknya.
Meski dapat memberikan efek dingin sementara, fenomena ini tidak berarti erupsi gunung berapi mampu mengatasi pemanasan global.
Pendinginan akibat aerosol vulkanik hanya bersifat sementara, sedangkan peningkatan gas rumah kaca terus memberikan pengaruh jangka panjang terhadap sistem iklim Bumi.
Sumber: NASA, NASA Earth Observatory, U.S. Geological Survey (USGS)





































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9293885/original/003140100_1783758261-10-10.jpg)








:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4951307/original/044250400_1727138623-IMG_20240923_215315.jpg)



:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/8163337/original/062235700_1781018081-InShot_20260609_221323602.jpg.jpeg)