Petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) berusaha memadamkan api yang membakar tumpukan sampah di TPA Putri Cempo, Solo, Jawa Tengah, Rabu (2/9/2026).(ANTARA/Mohammad Ayudha)
KEMENTERIAN Lingkungan Hidup (KLH) memetakan sejumlah faktor krusial yang memicu terjadinya kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah. Akumulasi gas metana akibat dekomposisi sampah organik yang tidak terkelola dengan optimal diidentifikasi sebagai salah satu penyebab utama kerentanan tersebut.
Penjelasan ini disampaikan sebagai respons atas insiden kebakaran yang melanda beberapa TPA dalam dua pekan terakhir, termasuk TPA Putri Cempo di Solo dan TPA Galuga di Bogor.
Deputi Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya dan Beracun (PSLB3) KLH, Vinda Damayanti, menyoroti bahwa kondisi lahan urug yang tidak tertata memperbesar risiko munculnya api.
"Akumulasi gas metana dari proses dekomposisi sampah organik, terutama apabila pengelolaan dan pengendalian gas di TPA belum optimal," ujar Vinda kepada Media Indonesia, Rabu (9/9).
Vinda menambahkan, risiko ini semakin diperparah oleh faktor alamiah berupa cuaca panas yang ekstrem dan kondisi kering. Embusan angin kencang di area terbuka TPA juga mempercepat penyebaran api, sehingga kebakaran sulit dikendalikan dalam waktu singkat.
Identifikasi dan Penanganan di Lapangan
Meski faktor umum telah dipetakan, KLH menyatakan bahwa penyebab spesifik kebakaran di tiap lokasi masih dalam tahap investigasi. Tim di lapangan masih melakukan penelusuran untuk memastikan apakah ada faktor eksternal atau teknis lainnya yang memicu percikan api pertama.
| TPA Putri Cempo (Solo) | Menunggu hasil analisis konteks saat ini lapangan. | Pemadaman darat dan pendinginan area. |
| TPA Galuga (Bogor) | Api diduga merambat dari perkebunan warga di luar area TPA akibat angin. | Penyemprotan titik api, water bombing, dan pembuatan sekat kanal. |
Khusus untuk kasus di TPA Galuga, laporan awal menunjukkan bahwa api tidak berasal dari dalam tumpukan sampah, melainkan dari aktivitas di lahan perkebunan sekitar yang kemudian merembet masuk ke kawasan TPA.
Kolaborasi Lintas Instansi
Saat ini, prioritas utama pemerintah adalah memadamkan titik api aktif dan mencegah perluasan dampak asap bagi masyarakat sekitar. Operasi pemadaman melibatkan sinergi antara pemerintah daerah, BPBD, pemadam kebakaran, TNI, hingga Polri.
Selain penyemprotan langsung dan dukungan water bombing dari udara, petugas juga melakukan langkah preventif berupa pendinginan (cooling) pada zona-zona yang belum terbakar. Pembuatan sekat kanal juga menjadi strategi kunci untuk memutus jalur rambatan api agar kebakaran tidak meluas ke area sel yang lebih luas. (Z-1)





































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9293885/original/003140100_1783758261-10-10.jpg)








:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4951307/original/044250400_1727138623-IMG_20240923_215315.jpg)



:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/8163337/original/062235700_1781018081-InShot_20260609_221323602.jpg.jpeg)