Kantor Dinas Kesehatan Kukar(MI/Ervan Masbanjar)
BERDASARKAN data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim), kasus penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kukar hingga Juni 2026 alami peningkatan dibandingkan tahun 2025 kemarin. Dimana Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) ini, didominasi kaum homoseksual atau kelompok laki-laki yang berhubungan dengan laki-laki (LSL).
“Kasus HIV di wilayah Kukar didominasi kaum hama terutama dari kelompok LSL atau homoseksual,” ungkap Pengelola Program HIV Dinkes Kukar, Masliana, Senin (20/7).
Dibeberkannya, hingga per Juni 2026 jumlah kumulatif kasus HIV di Kukar mencapai 542 kasus atau meningkat dibandingkan tahun 2025 yang berjumlah 451 kasus. Sebagian besar kasus yang ditemukan didominasi oleh laki-laki, terutama dari kelompok LSL.
“Karena kasus HIV didominasi laki-laki, khususnya LSL, maka kelompok ini kami jadikan salah satu target utama skrining dan layanan pencegahan penyakit itu,” tegasnya.
Untuk diketahui, kata Masliana, Dinkes Kukar telah menyediakan layanan profilaksis pra pajanan (PrEP) bagi kelompok berisiko yang telah dipastikan negatif HIV melalui pemeriksaan. Program tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk mencegah penularan pada kelompok berisiko tinggi.
Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufiddah, menegaskan peningkatan jumlah kasus bukan berarti terjadi transmisi semata. Data ini bersifat kumulatif, karena pasien telah terdiagnosis akan tetap tercatat dan menjalani pengobatan seumur hidup. Pihaknya menargetkan bukan menurunkan angka kumulatif, tapi penemuan kasus sedini mungkin agar pasien bisa segera diobati dan observasi.
“Capaian penemuan kasus sesuai Standar Pelayanan Minimal sudah mencapai 100%. Untuk penanganannya kami juga lakukan pendampingan bersama LSM Mahakam Plus, guna memastikan pasien rutin mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) serta memeriksa pemeriksaan viral load secara berkala,” jelasnya.
Dikatakannya, kelompok yang menjadi sasaran pemeriksaan merupakan mereka yang memiliki faktor risiko lebih tinggi terhadap penularan HIV. Dan pihaknya terus berupaya mencari, bukan berharap mendapatkan kasus, tetapi kelompok-kelompok risiko terdeteksi secara dini atau deteksi dini supaya yang positif bisa segera diobati.
“Sebagian besar pemeriksaan HIV di Kukar kami lalukan melalui program jemput bola. Petugas Dinkes Kukar bersama puskesmas turun langsung ke lapangan untuk memberikan layanan skrining kepada kelompok sasaran,” terangnya.
Namun kini, persoalan yang masih sering dihadapi pihaknya adalah sebagian pasien tidak melanjutkan pengobatan secara rutin sehingga pengendalian virus menjadi tidak optimal, padahal HIV hingga kini belum bisa disembuhkan.
”Pengobatan yang diberikan hanya berfungsi menekan jumlah virus di dalam tubuh agar kualitas hidup penderita tetap terjaga serta mengurangi risiko penularan kepada orang lain. Karena itu teman-teman penderita HIV harus terus termotivasi menjalani pengobatan,” pintanya.
Kendala lain yang dihadapi Dinkes Kukar adalah pasien berpindah tempat tinggal. Sehingga kondisi ini menyulitkan petugas dalam melakukan pemantauan sekaligus penelusuran kontak apabila diperlukan.
“Dukungan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam pengendalian HIV, selain penguatan layanan kesehatan. Kami juga ingatkan agar stigma terhadap ODHA buka jadi penghalang bagi mereka untuk menjalani pengobatan,” pungkas Ismi.(EM/E-4)

















































