Ilustrasi(Antara)
SELURUH wilayah di Jawa Barat kini telah resmi memasuki musim kemarau. Berdasarkan data terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Barat pada Juli ini, sebanyak 98% dari total 41 zona musim (ZOM) di wilayah tersebut terpantau sudah berada dalam fase musim kering.
Pelaksana Tugas Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Edi Wibowo, menjelaskan bahwa dari puluhan zona musim yang ada, hanya satu ZOM yang memiliki karakter tipe satu musim. Sementara itu, sisanya dipastikan telah memasuki periode kemarau tahunan.
"Kami sampaikan, seluruh ZOM di Jawa Barat telah memasuki musim kemarau dan satu ZOM merupakan tipe satu musim," ujar Edi saat dikonfirmasi pada Senin (20/7).
Edi memprediksi puncak musim kemarau di Jawa Barat akan terjadi pada rentang Agustus hingga September mendatang. Karakteristik cuaca pada periode tersebut diperkirakan akan jauh lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologisnya. Hal ini disebabkan oleh proyeksi curah hujan yang berada pada kategori rendah atau di bawah normal.
"Agustus diperkirakan menjadi puncak kemaraunya," tambah Edi. Ia juga menekankan bahwa musim kemarau tahun ini akan dibarengi dengan fenomena El Nino yang memperparah kondisi kekeringan.
Berdasarkan analisis mendalam BMKG, peluang terjadinya El Nino tahun ini sangat signifikan dengan rincian sebagai berikut:
- Kategori lemah: Peluang mencapai 100%
- Kategori moderat: Peluang sebesar 98%
- Kategori kuat: Peluang sebesar 60%
"Sehingga untuk durasi musim kemarau tahun ini di beberapa wilayah di Jawa Barat diprediksi lebih panjang, dengan sifat hujan di bawah normal," tegasnya.
Langkah Mitigasi dan Imbauan Masyarakat
Menyikapi kondisi cuaca ekstrem tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk mulai bijak dalam penggunaan air bersih dan melakukan penghematan untuk keperluan sehari-hari. Selain itu, para pemangku kepentingan diminta segera mengambil langkah mitigasi guna meminimalisir dampak kekeringan serta potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Rekomendasi Langkah Preventif BMKG:
- Percepatan pembangunan dan perbaikan jaringan air bersih.
- Pemilihan varietas tanaman yang tahan kekeringan bagi sektor pertanian.
- Optimalisasi pengisian waduk dan perbaikan saluran irigasi.
- Pemetaan dan antisipasi dini daerah rawan karhutla di sektor kehutanan.
"Untuk sektor kehutanan, harus dilakukan antisipasi dan pemetaan daerah-daerah yang rawan terjadi karhutla," pungkas Edi. (BY/I-1)

















































