Infiltrasi Drone ke Wilayah NATO: Garis Depan Baru Perang Hibrida di Eropa

22 hours ago 1
 Garis Depan Baru Perang Hibrida di Eropa Sebagian di antaranya ialah drone Ukraina yang arahnya dialihkan akibat perang elektronik Rusia.(Dok The Wall Street Journal)

WILAYAH udara NATO di Eropa kini telah menjadi garis depan yang aktif. Sepanjang musim panas ini, laporan mengenai infiltrasi drone di perbatasan timur aliansi tersebut muncul hampir setiap minggu, memaksa jet-jet tempur NATO dikerahkan untuk melakukan intersepsi.

Secara total, sebanyak 16 negara anggota NATO melaporkan pelanggaran wilayah udara oleh drone atau menemukan sisa-sisa pesawat tak berawak di wilayah mereka selama dua tahun terakhir. Intensitas serangan ini, yang menurut anggota NATO berada di bawah ambang batas respons militer kolektif, terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

Serangan di Zona Abu-abu

Jerman baru-baru ini menyalahkan Rusia atas penemuan drone peledak di bandara Leipzig pada Agustus lalu, yang merupakan jalur pasokan penting bagi Ukraina. Pada bulan yang sama, Rumania mengerahkan jet tempur untuk menghancurkan drone angkatan laut yang berlayar dekat platform gasnya di Laut Hitam. Meski demikian, Kremlin membantah keterlibatan dalam rentetan serangan di zona abu-abu ini.

Menteri Dalam Negeri Jerman, Alexander Dobrindt, menyatakan bahwa meskipun tidak dalam kondisi perang terbuka, negara-negara Eropa menjadi target harian dari peperangan hibrida. Drone yang menyusup ini terbagi dalam dua kategori utama: drone yang mengintai infrastruktur kritis jauh di dalam Eropa dan kendaraan udara tak berawak (UAV) kelas militer yang melintasi perbatasan ke wilayah udara NATO.

Teknologi dan Jenis Drone yang Terdeteksi

Data dari ACLED menunjukkan lonjakan infiltrasi di Eropa setahun terakhir seiring dengan kebuntuan Rusia di medan perang Ukraina. Analis mengidentifikasi berbagai jenis perangkat, mulai dari pesawat pengintai fixed-wing hingga quadcopter. Dalam satu kasus, ditemukan kapal induk fixed-wing besar yang meluncurkan drone-drone kecil.

Beberapa jenis drone spesifik yang teridentifikasi meliputi:

  • Geran-2: Drone serang satu arah yang dilaporkan menghantam bangunan tinggi di Galați, Rumania.
  • Gerbera: Drone pengintai yang diidentifikasi militer Polandia dalam kawanan drone Rusia pada September 2025.
  • Merlin-VR: Drone Rusia yang cocok untuk pemantauan infrastruktur jangka panjang.

International Institute for Strategic Studies (IISS) juga mencatat ada drone yang dapat lepas landas secara vertikal dari kapal dengan dek minimal, yang berpotensi diluncurkan secara rahasia dari armada bayangan Rusia.

Membangun Drone Wall Eropa

Menghadapi ancaman ini, NATO tengah mempercepat adopsi teknologi baru untuk mendeteksi dan menghancurkan drone tanpa harus memboroskan persenjataan mahal. Proyek yang dikenal sebagai Drone Shield atau Drone Wall sedang dirancang sebagai jaringan pertahanan berlapis yang terdiri dari sensor, sistem peperangan elektronik, dan drone pencegat.

Menurut Parlemen Uni Eropa, infrastruktur radar dasar diharapkan mulai digelar di perbatasan timur pada akhir tahun ini, dengan target operasional penuh pada akhir 2027. Hingga sistem tersebut siap, jet tempur seperti F-16, F-35, dan Eurofighter Typhoon tetap menjadi garda terdepan untuk mencegat drone yang masuk.

Untuk menekan biaya operasional, beberapa negara seperti Belgia mulai melengkapi jet F-16 mereka dengan pod roket Thales khusus (APKWS II) yang memiliki kecepatan sekitar 2.200 mph. Solusi ini dianggap lebih ekonomis dan efektif untuk melumpuhkan drone murah dalam jumlah banyak dibandingkan menggunakan rudal udara-ke-udara yang sangat mahal. (The Wall Street Journal/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |