Indonesia-Uzbekistan Perkuat Kerja Sama Keagamaan dan Wisata Religi

21 hours ago 1
Indonesia-Uzbekistan Perkuat Kerja Sama Keagamaan dan Wisata Religi Pusat Peradaban Islam (Center for Islamic Civilization/CIC) yang didirikan di Tashkent, ibu kota Uzbekistan.(Center for Islamic Civilization)

Pemerintah Indonesia mendorong perluasan kerja sama dengan Uzbekistan, terutama di bidang keagamaan, pendidikan, dan wisata religi. Kedekatan sejarah serta tradisi keilmuan Islam dinilai menjadi modal penting untuk mempererat hubungan kedua negara.

Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI, Mochammad Irfan Yusuf menyampaikan hal tersebut saat bertemu Wakil Gubernur Bukhara Botirjon Shahriyorov di Bukhara, Uzbekistan, Senin (7/9). Menurut Irfan, Bukhara dan Samarkand memiliki kedudukan khusus bagi masyarakat Indonesia. Kedua kota tersebut dikenal sebagai pusat perkembangan peradaban dan ilmu pengetahuan Islam yang melahirkan banyak ulama dengan pemikiran serta karya yang berpengaruh hingga ke Tanah Air.

"Bukhara dan Samarkand memiliki tempat tersendiri di masyarakat Indonesia. Banyak tokoh yang datang dari daerah ini yang dikenal di Indonesia," kata Menhaj.

Irfan menilai hubungan historis tersebut dapat dikembangkan menjadi kerja sama yang lebih konkret. Kolaborasi tidak hanya dapat dilakukan di tingkat pemerintahan, tetapi juga melalui pertukaran pengetahuan, hubungan antarlembaga keagamaan, hingga pengembangan destinasi wisata yang mengangkat sejarah peradaban Islam.

Peluang tersebut mendapat sambutan positif dari Pemerintah Uzbekistan. Wakil Gubernur Bukhara, Botirjon Shahriyorov menyatakan pihaknya mengapresiasi hubungan yang telah terjalin dengan Indonesia dan berharap kerja sama kedua negara semakin erat.

"Kami sangat senang hubungan antara Indonesia dan Uzbekistan telah terjalin dengan baik. Kami berharap hubungan ini terus berlanjut dan semakin kuat," ujar Botirjon.

Botirjon juga menyoroti potensi Bukhara sebagai salah satu wilayah yang memiliki kekayaan sejarah dan tradisi pendidikan Islam. Kota tersebut sejak dahulu dikenal sebagai pusat keilmuan dengan keberadaan madrasah yang menjadi tempat belajar ulama dari berbagai daerah, termasuk dari luar Uzbekistan.

Dalam pertemuan itu, Imam Besar Bukhara turut menjelaskan kekayaan sejarah kota tersebut. Menurutnya, peninggalan arsitektur yang telah berusia lebih dari seribu tahun serta tradisi keilmuan menjadi bagian penting dari identitas Bukhara.

"Bukhara memiliki seni arsitektur yang berumur lebih dari 1.000 tahun. Selain itu, kebanggaan Bukhara ada pada tradisi keilmuan. Madrasah-madrasah di Bukhara banyak mendidik ulama lokal dan mancanegara," ucapnya.

Ia juga mengapresiasi perhatian masyarakat Indonesia terhadap Uzbekistan, khususnya terhadap warisan intelektual dan sejarah Islam yang berkembang di Bukhara. Wisata religi antara Indonesia dan Uzbekistan dinilai tidak sebatas perjalanan spiritual, tetapi juga dapat menjadi sarana memperkenalkan sejarah, ilmu pengetahuan, dan warisan peradaban Islam.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari langkah Kementerian Haji dan Umrah dalam memperluas jejaring kerja sama internasional. Hubungan Indonesia dan Uzbekistan diharapkan dapat berkembang dari hubungan diplomatik menjadi kolaborasi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat kedua negara. (E-3)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |