Energi Surya Selamatkan Eropa dari Lonjakan Harga Minyak akibat Perang AS-Iran

6 hours ago 2
Energi Surya Selamatkan Eropa dari Lonjakan Harga Minyak akibat Perang AS-Iran Ilustrasi.(Magnific)

ENERGI surya kini menjadi pelindung utama bagi Eropa dari beban biaya impor bahan bakar fosil yang melumpuhkan, di tengah konflik dengan Iran yang terus memicu lonjakan harga minyak dan gas dunia.

Harga minyak mentah Brent, yang menjadi tolok ukur global, tetap fluktuatif akibat kendali Iran atas Selat Hormuz. Jalur vital ini biasanya mengangkut sekitar seperlima dari pasokan minyak global.

Pada Rabu (15/7), Brent diperdagangkan pada level US$85 (sekitar Rp1,38 juta) per barel, meningkat sekitar Rp182 ribu dibandingkan hari sebelum perang dimulai pada 27 Februari. Sementara itu, harga gas alam Dutch TTF juga melonjak sekitar €20 per MWh sejak konflik pecah.

Penghematan dari Sinar Matahari

Analisis terbaru dari SolarPower Europe mengungkapkan bahwa pemanfaatan tenaga surya berhasil menyelamatkan Eropa sebesar €20 miliar (sekitar Rp348 triliun) antara 1 Maret hingga 15 Juli dengan menekan permintaan impor gas. Selama periode 137 hari tersebut, energi surya memberikan penghematan rata-rata €146 juta (Rp2,5 triliun) per hari, angka yang lebih besar dari anggaran pertahanan harian Prancis.

"Setiap megawatt-hour yang dihasilkan oleh tenaga surya mengurangi ketergantungan kita pada bahan bakar fosil impor dan membuat Eropa lebih aman," ujar Walburga Hemetsberger, CEO SolarPower Europe. Ia menambahkan bahwa pada Juni lalu, surya menjadi sumber listrik tunggal terbesar di Uni Eropa dengan menyumbang 25% pasokan listrik blok tersebut.

Transformasi Energi di Spanyol dan Inggris

Beberapa negara Eropa membuktikan manfaat revolusi sistem energi hijau. Sejak 2019, Spanyol menggandakan kapasitas angin dan surya mereka dengan menambah lebih dari 40GW. Langkah ini berhasil mengurangi pengaruh generator fosil yang mahal terhadap harga listrik sebesar 75%.

Di Inggris, energi angin juga mencetak rekor baru. Pada 26 Maret, pembangkit listrik tenaga angin Inggris mencapai titik tertinggi sebesar 23.880 megawatt, cukup untuk mengaliri 23 juta rumah. "Angin menyediakan lebih dari setengah listrik Inggris selama periode rekor ini, menekan gas fosil ke level terendah dalam dua tahun terakhir," kata Tara Singh dari RenewableUK.

Peta Jalan Keamanan Energi Jangka Panjang

Tahun 2025 menandai tonggak sejarah karena angin dan surya menghasilkan lebih banyak listrik di Uni Eropa dibandingkan bahan bakar fosil untuk pertama kali. Laporan dari Ember menunjukkan kedua sumber ini menyumbang 30% listrik Uni Eropa.

Berikut negara-negara Uni Eropa yang memimpin transisi energi hijau pada 2024:

  • Austria: Memimpin dengan tingkat penggunaan listrik hijau 90%, didukung oleh 16 pembangkit listrik tenaga air.
  • Swedia: Berada di posisi kedua dengan 88%, didominasi tenaga angin dan air.
  • Denmark: Peringkat ketiga dengan 80% energi dari sumber terbarukan.
  • Negara lain: Georgia (68,4%), Portugal (65,8%), dan Spanyol (69,7%).

Sebaliknya, Malta berada di urutan terakhir dengan hanya 10,7% penggunaan energi terbarukan. Hemetsberger menegaskan bahwa elektrifikasi dan solusi penyimpanan baterai akan menjadi rute utama menuju keamanan energi jangka panjang Eropa guna menghindari guncangan harga fosil di masa depan. (Africanews/I-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |