Aries Wijaksena Wartawan Media Indonesia(MI/Seno)
BRITPOP bukan hanya sebuah genre musik. Itu juga menjadi gaya hidup masyarakat di Britania Raya. Bahkan untuk warga Inggris, britpop ialah musik, fashion, dan 'the Three Lions'.
Setidaknya ada dua lagu bergenre britpop yang diputar di stadion selepas Inggris mengalahkan Meksiko 3-2 di babak 16 besar Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Stadion Azteca, Meksiko, Senin (6/7) pagi WIB.
Sesaat setelah wasit Alireza Faghani meniup peluit panjang, lagu Three Lions (Football's Coming Home) dari grup band The Lightning Seeds langsung berkumandang.
Lagu itu dirilis pada Mei 1996 untuk menyambut Piala Eropa 1996 yang berlangsung di Inggris. Lagu itu menjadi terrace chant (nyanyian suporter di stadion) pendukung Inggris di turnamen besar hingga saat ini.
Lagu itu mengangkat esensi sejati menjadi seorang suporter sepak bola Inggris yang rasional. Timnas Inggris mungkin akan kalah atau mengecewakan. Namun, seorang suporter sejati tetap memilih untuk percaya dan bermimpi bahwa kali ini akan berbeda.
Hal itu bisa dimengerti karena Inggris dianggap sebagai negara lahirnya sepak bola. Namun, Raja Inggris Charles III yang lahir pada 14 November 1948 hanya satu kali merasakan negaranya menjadi juara di turnamen besar, yaitu pada Piala Dunia 1966.
Sepak bola 'pulang kampung' seolah menjadi kerinduan abadi masyarakat Inggris. Namun, faktanya, sepak bola seolah menjadi 'Bang Toyib' yang sudah sekian puluh Lebaran tidak pulang-pulang.
Lagu kedua berjudul Wonderwall milik band asal Manchester, Oasis. Pada perhelatan Piala Dunia 2026, lagu itu selalu dinyanyikan timnas Inggris bersama fan mereka setelah laga usai. Lagu itu memiliki aura yang sangat emosional.
Wonderwall tidak dirancang sebagai lagu sepak bola seperti Three Lions, tetapi maknanya bergeser menjadi lagu kebangsaan tidak resmi yang melambangkan loyalitas buta, penebusan dosa, dan ikatan emosional fan Inggris.
Secara harfiah, pentolan Oasis, Liam dan Noel Gallagher (yang merupakan fan berat sepak bola) menggambarkan Wonderwall sebagai sosok, benda, atau kekuatan yang menjadi sandaran hidup seseorang yang akan datang dan menyelamatkan ketika segala sesuatunya runtuh.
'And all the roads that lead you there are winding, and all the lights that light the way are blinding...'.
Lirik itu merangkum perjalanan emosional fan Inggris yang selalu berliku, penuh drama, ekspektasi yang membutakan, dan sering kali berakhir dengan patah hati. Namun, pada akhirnya, mereka tetap kembali mendukung tim yang sama.
Saat menang, lagu itu dinyanyikan dengan penuh euforia, merayakan kenyataan bahwa tim mereka berhasil melangkah maju dan 'menyelamatkan' harapan mereka.
Saat kalah (dan sering terjadi), menyanyikan Wonderwall bersama sambil merangkul pundak teman di sebelah menjadi sebuah bentuk terapi massal.
'Because maybe, you are gonna be the one that saves me' menjadi pengharapan untuk turnamen berikutnya. Itu ialah cara suporter menghibur diri dari rasa kecewa.
Lirik lagu-lagu britpop seolah menjadi sebuah mantra, harapan kolektif, bahkan meme budaya global yang selalu bangkit setiap kali timnas Inggris bertanding di turnamen besar.
Please coming home my wonderwall.

















































