Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) memperingatkan fenomena El Nino berpeluang besar memicu cuaca ekstrem di sejumlah wilayah. “Didorong oleh suhu laut yang tidak biasa hangat di kawasan tropis Pasifik, kondisi El Nino sedang berkembang dan akan mempengaruhi pola suhu serta curah hujan global,” bunyi laporan WMO dalam pembaruan iklim triwulan yang dirilisnya pada dasarian pertama Juni 2026, dikutip dari Sciencealert, 3 Juni 2026.
El Nino merupakan fenomena iklim alami yang ditandai pemanasan suhu permukaan laut di ekuator Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Fenomena ini dapat mengubah pola angin, tekanan udara, dan curah hujan di berbagai wilayah dunia. Siklus tersebut umumnya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun dan berlangsung sekitar sembilan hingga 12 bulan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
El Nino menyebabkan wilayah Australia dan Indonesia kekeringan namun Amerika Selatan banjir. Fenomena sebaliknya adalah La Nina
Menurut WMO, sebagian besar model iklim global menunjukkan El Nino saat ini bakal berkembang setidaknya hingga kategori sedang dan berpotensi menjadi kuat dan bahkan sangat kuat (super). Meski demikian, tingkat kekuatannya itu masih akan terus dipantau dalam beberapa bulan mendatang.
Sekretaris Jenderal WMO, Andre Celeste Saulo, mengatakan dunia perlu bersiap menghadapi dampak El Nino yang dapat memperparah kekeringan dan hujan ekstrem di sejumlah wilayah tahun ini. “Fenomena ini dapat meningkatkan risiko gelombang panas, baik di daratan maupun lautan,” kata Saulo.
Apa yang terjadi pada tahun ini diprediksi bakal lebih parah pada masa depan. Hasil studi dari Pusan National University, Korea Selatan, menyatakan El Nino, juga La Nina, bakal lebih kuat di masa mendatang. Sebagai ilustrasi dari tren peningkatan kekuatan kedua fenomena itu adalah pengaruhnya yang bisa sampai ke Samudra Atlantik dan mempengaruhi cuaca hingga ke Eropa.
"Pemodelan menggunakan simulasi komputer yang sedang kami kerjakan mengungkap pergeseran ke ke kejadian-kejadian El Nino dan La Nina esktrem yang lebih kuat dan lebih sering," kata penelitinya, Axel Timmermann, dikutip dari artikel New Scientist 3 Juni 2026.






































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495647/original/074499000_1770385031-barba.jpeg)











