Jakarta, CNN Indonesia --
Pelayanan ibadah Haji selalu menjadi perhatian bagi umat Muslim setiap tahunnya karena tak semua orang dapat kesempatan melaksanakan rukun Islam kelima ini.
Sepanjang sejarah ibadah haji, pelayanan terutama dalam hal transportasi selalu menjadi pilar utama dalam memudahkan perjalanan jemaah menuju Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setiap tahunnya, pemerintah Saudi juga berupaya meningkatkan pelayanan agar bisa semakin mempermudah jutaan jemaah haji dari seluruh duni melaksanakan rukun Islam kelima dengan nyaman.
Dikutip Saudi Press Agency (SPA), sebelum ada teknologi mobil dan pesawat, selama berabad-abad, para jemaah mengandalkan moda transportasi tradisional seperti unta dan kuda dalam kafilah terorganisasi yang berangkat dari berbagai penjuru dunia Islam.
Perjalanan ini sangat kompleks, melibatkan ribuan orang yang berhenti di titik-titik tertentu untuk mengisi persediaan air dan logistik. Dengan medan berat serta cuaca yang tidak menentu, pelaksanaan ibadah haji pada masa itu merupakan perjalanan besar yang sering kali memakan waktu berbulan-bulan dan membutuhkan tenaga fisik luar biasa.
Kemunculan kapal uap menjadi transformasi besar pertama dalam sejarah peradaban ini, dengan membawa jemaah melintasi Laut Merah menuju Pelabuhan Islam Jeddah yang selama beberapa dekade menjadi gerbang utama jalur laut.
Namun, perubahan paling revolusioner hadir melalui penerbangan sipil yang memangkas perjalanan berbulan-bulan menjadi hanya hitungan jam. Kini, bandara-bandara di Arab Saudi, terutama Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah, beroperasi dengan sistem canggih yang dilengkapi terminal khusus jemaah serta layanan digital untuk memastikan arus kedatangan hingga perpindahan menuju kawasan suci berjalan lancar.
Di era modern, Kerajaan Arab Saudi telah mengembangkan jaringan transportasi terintegrasi yang memanfaatkan teknologi terbaru untuk mengelola jutaan pergerakan secara efisien.
Jalur Metro Al Mashaaer Al Mugaddassah beroperasi sebagai sistem pintar yang menghubungkan Mina, Arafah, dan Muzdalifah guna mengurangi kemacetan secara signifikan serta meningkatkan keselamatan saat puncak pergerakan jemaah.
Selain itu, Kereta Cepat Haramain menjadi lompatan besar dalam layanan transportasi dengan menyediakan jalur kereta listrik ramah lingkungan yang menghubungkan Makkah dan Madinah melalui Jeddah dan King Abdullah Economic City.
Jaringan ini didukung armada besar bus pintar yang dilengkapi sistem pelacakan otomatis dan pengaturan lalu lintas, sehingga pergerakan jemaah dapat berlangsung tertata sesuai rencana operasional yang presisi.
Di bawah target strategis Saudi Vision 2030, sektor transportasi kini memasuki era digital yang semakin canggih, di mana integrasi kecerdasan buatan (AI) dan analisis big data memungkinkan pengelolaan kerumunan secara real-time.
Aplikasi pintar kini memungkinkan jemaah memantau waktu perjalanan, rute bus, dan tingkat kepadatan, yang secara signifikan meningkatkan efisiensi serta mengurangi kemacetan di kawasan suci.
Perkembangan bertahap ini mencerminkan besarnya perhatian Kerajaan Arab Saudi terhadap pembangunan infrastruktur dan keunggulan operasional.
Perjalanan ibadah haji pun telah bertransformasi dari kafilah lambat di gurun menjadi kisah berkelanjutan tentang kemajuan teknologi, demi memastikan perjalanan yang aman, nyaman, dan sarat spiritual bagi jemaah dari seluruh penjuru dunia.
(rds/bac)
Add
as a preferred source on Google

2 hours ago
1






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3642128/original/083822000_1637681616-2_000_Hkg660630.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502638/original/046269700_1770993794-vickery.jpg)












