Kala krisis Hormuz ancam energi sedunia, diplomasi tetap beri harapan

7 hours ago 2

Jakarta (ANTARA) - Dunia geger ketika serangan gabungan Amerika Serikat dan Zionis Israel terhadap Iran, akhir Februari, menimbulkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa yang masif. Ketika itu, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei juga menjadi korban.

Teheran lantas melancarkan serangan balasan ke Israel serta pangkalan dan aset-aset militer AS yang tersebar di hampir semua negara di kawasan Teluk Persia. Rudal dan drone Iran pun menghujani wilayah Israel hingga Semenanjung Arab.

Tak hanya meluncurkan rudal, Iran juga memblokade Selat Hormuz, salah satu jalur pengapalan komoditas migas terpenting sedunia, sebagai balasan serangan AS-Israel. Militer Iran mengancam akan meledakkan manapun kapal yang berupaya menerobos keluar.

Dengan ditutupnya Selat Hormuz, dampak perang AS-Israel dan Iran telah menghampiri sektor ekonomi, dengan naiknya harga minyak dunia serta munculnya kekhawatiran terhadap produksi berbagai komoditas, dari bahan bakar kendaraan hingga pupuk.

Sejumlah negara, seperti Jepang, sampai harus membuka keran pasokan cadangan minyak mereka untuk mencegah krisis energi akibat hambatan pasokan yang terjadi.

Presiden AS Donald Trump pada awalnya berseloroh bahwa kapal-kapal tanker masih bisa melintasi Selat Hormuz dengan aman setelah AS “menghancurkan” kapal-kapal militer Iran, sembari mengiming-imingi jaminan pengawalan dari kapal tempur AS.

Tetapi, setelah sejumlah kapal yang nekad menerobos blokade diserang, Trump kini justru meminta negara-negara lain untuk ikut bertanggung jawab atas keamanan kapal mereka di sana, bahkan juga kepada rival dagangnya, China.

Adapun selain China, Trump sempat meminta Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris, untuk mengirim kapal perang mereka ke Selat Hormuz. Tetapi, seruan ini belum mendapat respons positif.

Di tengah desakan Trump yang terus mendorong pendekatan militer untuk mengamankan kawasan maritim tersebut, sejumlah negara, seperti India, berhasil menjamin keamanan kapal tanker mereka di Selat Hormuz melalui dialog dengan Teheran.

Setelah dua kapal tanker India selamat melintasi Selat Hormuz, Sabtu (14/3), Menteri Luar Negeri (Menlu) India S Jaishankar mengatakan kepada Financial Times bahwa hal tersebut merupakan bukti keberhasilan diplomasi dan menunjukkan lebih baik “berdialog dan berkoordinasi, sehingga kita bisa mendapat solusi”.

Selat Hormuz merupakan jalur kunci suplai minyak dan LPG dari negara-negara Teluk ke pasar dunia, dengan 20 persen dari total perdagangan komoditas tersebut berasal dari sana.

Karena itu, Tak dapat dipungkiri bahwa krisis tersebut juga berdampak bagi Indonesia yang sebagian pasokan energinya datang melalui Selat Hormuz. Pemerintah mencatat bahwa sekitar 20–25 persen impor minyak mentah Indonesia dikirim melalui selat antara Iran dan Oman tersebut.

Terlebih lagi, dua kapal tanker milik Pertamina International Shipping (PIS) dilaporkan tertahan di kawasan Teluk Persia karena tidak dapat melintasi Selat Hormuz karena perang.

Merespons kejadian tersebut, pemerintah Indonesia melalui perwakilannya di Teheran terus melakukan pendekatan diplomatik yang intensif dengan otoritas Iran demi memastikan kapal yang membawa pasokan energi ke Indonesia itu dapat melewati Selat Hormuz dengan aman.

“Kita akan terus mendorong pendekatan diplomatik yang intensif terkait isu spesifik ini, karena ini merupakan isu yang krusial untuk kita,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI Yvonne Mewengkang.

Menurut Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemlu RI Santo Darmosumarto, kondisi di kawasan yang masih panas dan belum kondusif itu menuntut pihaknya untuk meningkatkan upaya diplomasi dengan pemerintah setempat.

Upaya dialog terus berjalan dengan berbagai pemangku kepentingan terkait di Iran untuk memastikan kepentingan Pertamina yang ada di Selat Hormuz tersebut senantiasa aman di tengah panasnya konflik.

Langkah utama

Menurut pakar hubungan internasional Universitas Padjadjaran Teuku Rezasyah, menjadikan diplomasi sebagai langkah utama melindungi kepentingan ekonomi nasional yang terhambat di Selat Hormuz memungkinkan negara merespons secara tepat dinamika kawasan.

Langkah dialog tersebut juga dapat menjaga kepercayaan Teheran yang saat ini masih berperang melawan AS dan Israel.

Reza memandang bahwa jika negara-negara mengambil langkah pengawalan militer dan mengirim kapal tempurnya ke Selat Hormuz, sebagaimana yang diserukan Presiden Trump, hal tersebut dapat diartikan oleh Teheran sebagai tidak memercayai jalur diplomasi.

“Pengawalan militer dapat dipersepsikan juga sebagai terang-terangan mendukung Amerika Serikat,” kata akademisi Unpad itu.

Dengan demikian, merupakan langkah yang tepat bagi Indonesia untuk mempertahankan komunikasi dengan pemerintah Iran demi memastikan kepentingan nasional, khususnya terkait keamanan energi, terjamin.

Ia juga mengingatkan supaya Indonesia, saat berdiplomasi demi kepentingan energinya, tetap menjaga hubungan baik dengan Iran serta bijak merespons langkah serangan balasan Teheran terhadap serangan AS dan Israel.

Presiden Trump mungkin mengira serangan yang ia luncurkan ke Iran akan selesai sebersih dan sesempurna operasi militer terhadap Venezuela awal tahun ini.

Namun, yang justru datang kali ini ialah kemarahan membuncah dari Teheran yang meluncurkan serangan balasan dan memaksa perang berlanjut, serta tanpa tedeng aling-aling menyebarkan kegamangan di seantero kawasan Teluk.

Di tengah ketegangan yang masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda, ditambah dengan kekhawatiran atas pasokan energi sedunia, dunia tetap menggantungkan harapan melalui jalur diplomasi dengan Iran untuk melindungi kepentingan energi mereka.

Langkah diplomasi juga sesuai dengan harapan otoritas Iran, sebagaimana disampaikan Juru Bicara Kemlu Iran Esmail Baghaei pada 12 Maret yang meminta supaya kapal-kapal “mengoordinasikan pergerakannya dengan Angkatan Laut Iran demi keselamatan navigasi”.

“Ketidakamanan yang diciptakan Amerika Serikat dan Israel di kawasan mungkin berdampak pada pergerakan kapal, tetapi Iran tidak mau Selat Hormuz menjadi tidak aman,” kata Baghaei.

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |