Konflik Timur Tengah tekan kinerja industri Jepang pada Maret 2026

11 hours ago 2

Tokyo (ANTARA) - Kinerja industri Jepang pada Maret turun tipis 0,5 persen dibanding bulan sebelumnya, tertekan konflik di Timur Tengah yang memengaruhi produksi bahan kimia akibat gangguan impor bahan baku, menurut data pemerintah yang dirilis Kamis (30/4).

Penurunan tersebut terjadi setelah revisi penurunan Februari menjadi 2,0 persen. Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri mempertahankan penilaian dasarnya terhadap produksi industri, dengan menyebut kondisinya “berfluktuasi tanpa arah yang jelas.”

Pasokan nafta, bahan penting untuk memproduksi bahan kimia yang banyak digunakan dalam produk manufaktur seperti plastik dan perlengkapan medis penting, terganggu akibat penutupan efektif Selat Hormuz setelah serangan bersama Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

Pada periode pelaporan, sektor bahan kimia anorganik dan organik menjadi penyumbang terbesar penurunan, dengan kontraksi 8,6 persen dibanding bulan sebelumnya, dipicu turunnya produksi polietilena, karet sintetis, dan etilena.

Salah seorang pejabat kementerian setempat menambahkan bahwa inspeksi rutin pada fasilitas perengkahan nafta, yang menyebabkan kapasitas produksi domestik turun hampir 40 persen pada Maret, turut melemahkan produksi etilena.

Meski sektor tersebut mengalami penurunan, pejabat itu menyatakan, “Dengan memanfaatkan persediaan, pengiriman produk petrokimia utama tetap tidak berubah dibandingkan tahun sebelumnya, dan tingkat pasokan tetap terjaga.”

Produksi produk minyak bumi dan batu bara, termasuk bensin, solar, dan nafta, juga turun 7,7 persen. Namun, pejabat itu menyebut penurunan itu disebabkan faktor “teknis” terkait penyesuaian musiman, dan membantah adanya dampak langsung dari krisis Timur Tengah.

Produksi otomotif turut melemah tipis akibat penurunan ekspor, seiring data perdagangan sebelumnya menunjukkan penurunan pengiriman mobil ke kawasan Timur Tengah.

“Kami tidak melihat kinerja industri secara keseluruhan melemah setelah rata-rata kuartal Januari-Maret mencatat kenaikan dan rencana produksi manufaktur menunjukkan indeks akan meningkat pada April dan Mei,” kata kementerian, seraya menambahkan situasi Timur Tengah masih tidak pasti dan perlu dicermati.

Indeks produksi yang disesuaikan secara musiman di sektor pabrik dan pertambangan tercatat sebesar 101,9 dengan basis tahun 2020 sebesar 100, menurut laporan awal kementerian.

Berdasarkan survei terhadap produsen, kinerja produksi diperkirakan naik 2,1 persen pada April dan 2,2 persen pada Mei.

Para ekonom memperkirakan hasil April akan semakin mencerminkan dampak situasi Timur Tengah, dengan Selat Hormuz yang masih efektif tertutup serta gangguan pasokan minyak mentah, nafta, dan pupuk yang memaksa sejumlah produsen menghentikan penerimaan pesanan.

Pemerintah Jepang menyatakan dapat menjaga pasokan minyak mentah secara stabil melalui pelepasan cadangan domestik dan sumber alternatif.

Namun, tekanan penurunan yang signifikan terhadap aktivitas produksi diperkirakan masih berlanjut karena belum jelas kapan jalur pelayaran di selat tersebut dapat kembali normal, menurut Takeshi Minami, kepala ekonom di Norinchukin Research Institute.

Pada tahun fiskal 2025, kinerja industri turun 0,2 persen dibanding tahun sebelumnya menjadi 101,2, menandai penurunan selama empat tahun berturut-turut, mencerminkan dampak tarif lebih tinggi yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, ujar pejabat tersebut.

Sumber: Kyodo-OANA

Baca juga: Tolak proposal Iran, Trump pertahankan blokade AS di Selat Hormuz

Baca juga: Trump sebut Raja Charles III akan bantu AS dalam operasi Iran

Penerjemah: Primayanti
Editor: Aditya Eko Sigit Wicaksono
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |