Kuba luncurkan reformasi besar-besaran untuk pulihkan ekonomi

9 hours ago 1

Bogota (ANTARA) - Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel, Sabtu, mengumumkan paket reformasi menyeluruh yang bertujuan menghidupkan kembali perekonomian, mengurangi sentralisasi, dan memberikan otonomi yang lebih besar kepada berbagai sektor masyarakat.

Dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah, Diaz-Canel menegaskan bahwa reformasi tersebut bukan dilakukan sebagai respons terhadap tekanan dari Amerika Serikat, melainkan untuk memperkuat model ekonomi negara itu.

“Negara ini tidak tinggal diam. Negara ini secara cerdas menghadapi seluruh keadaan. Kami tidak dapat mengungkapkan secara terbuka semua yang kami lakukan karena musuh mengawasi setiap langkah yang kami ambil. Respons kami harus berupa persatuan dan solidaritas,” kata Diaz-Canel.

Ia menjelaskan bahwa paket reformasi tersebut akan diajukan dalam beberapa pekan mendatang kepada Biro Politik Partai Komunis Kuba (PCC), salah satu lembaga pengambil keputusan tertinggi di Kuba, sebelum dibahas oleh Majelis Nasional Kekuasaan Rakyat yang merupakan parlemen unikameral negara itu.

Dalam usulan reformasi tersebut, para produsen pertanian akan memperoleh fleksibilitas yang lebih besar. Pemerintah juga akan menghapus peran wajib perusahaan negara sebagai perantara dalam perdagangan luar negeri serta mencabut pembatasan impor kendaraan.

Diaz-Canel menambahkan bahwa pemerintah ingin mendorong investasi asing dan akan memberikan hak yang sama kepada warga Kuba yang tinggal di luar negeri seperti yang dinikmati penduduk di dalam negeri.

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi pemerintahan dan mengurangi birokrasi, jumlah kementerian akan dikurangi dari 27 menjadi 20.

Presiden Kuba juga mengumumkan penghapusan subsidi produk secara bertahap. Bantuan sosial nantinya akan difokuskan kepada kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.

Tahap baru pariwisata

Sebagai bagian dari reformasi, Kuba berencana membuka sektor pariwisata bagi model bisnis dan operator baru. Langkah tersebut diambil setelah sejumlah perusahaan asing mengurangi atau menghentikan kegiatannya di negara tersebut akibat sanksi Amerika Serikat.

Beberapa jaringan hotel internasional, termasuk Melia Hotels International, Iberostar, Blue Diamond Resorts, dan Archipelago International, mengumumkan penghentian sebagian atau seluruh operasional mereka di Kuba pada Juni akibat sanksi yang diberlakukan Amerika Serikat.

Keputusan tersebut memunculkan ketidakpastian terhadap masa depan sekitar 50 hotel, yang sebagian besar dimiliki negara dan dikelola melalui Gaviota, anak perusahaan dari holding yang dikendalikan militer, GAESA.

Industri pariwisata Kuba menghadapi kesulitan sejak pandemi COVID-19. Namun, pengetatan sanksi oleh Amerika Serikat sejak Januari semakin memperburuk kondisi dengan memicu penurunan tajam jumlah wisatawan asing.

Situasi tersebut mendorong banyak perusahaan asing, termasuk operator hotel dan maskapai penerbangan, meninggalkan Kuba.

Berdasarkan data dari National Office of Statistics and Information (ONEI), sebanyak 328.608 wisatawan asing mengunjungi Kuba sepanjang empat bulan pertama tahun 2026. Jumlah itu turun 55,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada April 2026, Kuba hanya mencatat kedatangan 30.551 wisatawan asing.

Sumber: Anadolu

Baca juga: Kuba sebut EAEU dan BRICS jadi alternatif tatanan dunia Barat

Baca juga: PBB berupaya ringankan situasi kemanusiaan Kuba yang semakin sulit

Baca juga: Kuba umumkan reformasi ekonomi dan pasar hadapi sanksi AS

Penerjemah: Primayanti
Editor: Azis Kurmala
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |