FBI: Scam, NVE, perdagangan narkotika jadi ancaman paling signifikan

12 hours ago 5

Jakarta (ANTARA) - Biro Investigasi Federal (FBI) AS mengungkapkan tiga ancaman paling signifikan yang dihadapi dunia saat ini, yaitu penipuan (scam) atau praktik kejahatan siber yang terorganisir, ekstremisme kekerasan nihilistik (NVE), dan perdagangan narkotika transnasional.

"Sementara ancaman-ancaman ini menyasar warga Amerika setiap hari, dampak mematikannya di seluruh Asia Tenggara juga meningkat secara tajam," kata Wakil Direktur FBI Andrew Bailey, dalam Konferensi Pers Virtual dari Bangkok, yang dipantau dari Jakarta, Rabu (10/6).

Bailey mengatakan penipuan atau praktik kejahatan siber yang terorganisir telah mencuri tabungan hasil jerih payah masyarakat secara masif. Sementara para ekstremis daring, seperti pelaku NVE, berupaya membahayakan anak-anak dengan memanfaatkan kerentanan mereka.

Sedangkan, para kartel dalam perdagangan narkoba telah meracuni orang-orang demi keuntungan kelompok.

"Para penjahat ini tidak peduli di negara mana para korbannya berada. Mereka menargetkan warga Amerika dan Asia Tenggara tanpa terkecuali. Mereka mengambil keuntungan dari penderitaan tanpa memandang identitas nasional," katanya.

Masyarakat internasional, menurut dia, membutuhkan dukungan pertolongan, dan FBI bersama para mitra asing memimpin upaya penanganan tindak kejahatan tersebut.

"Kami melakukan perlawanan langsung di tempat beroperasinya organisasi kriminal ini, karena cara terbaik untuk melindungi rakyat Amerika adalah dengan menghadapi ancaman ini dari sumbernya," kata Bailey.

Dan upaya terbaik untuk mengalahkan ancaman transnasional tersebut adalah melalui kemitraan transnasional yang telah teruji dan terpercaya, katanya.

Terkait kejahatan penipuan atau praktik kejahatan siber yang terorganisir, Bailey mengatakan bahwa selama beberapa hari terakhir, dirinya telah bertemu dengan Kepolisian Kerajaan Thailand dan mengawasi pekerjaan FBI melalui kemitraan tersebut untuk membongkar perusahaan kriminal terkait.

Perusahaan-perusahaan itu, kata dia, merupakan sindikat kriminal yang sangat terorganisir, dan mereka menjalankan operasi penipuan skala industri di seluruh dunia.

"Mereka mewakili kejahatan yang sesungguhnya. Mereka tidak membedakan korban berdasarkan kewarganegaraan atau kepercayaan. Mereka mencuri miliaran dolar, mengeksploitasi mata uang kripto, dan tanpa ampun memperdagangkan manusia secara tidak manusiawi," katanya.

Tindak penipuan tersebut, menurutnya, merupakan kejahatan terorganisir dalam skala yang belum pernah dilihat dunia sebelumnya, dan banyak dari operasi tersebut dikendalikan oleh organisasi kriminal canggih yang beroperasi di seluruh Asia Tenggara.

Kemudian, terkait kejahatan ekstremisme kekerasan nihilistik, Bailey menilai tindak kejahatan tersebut sebagai kelompok ancaman yang paling cepat berkembang yang berupaya menargetkan dan pada akhirnya membunuh para generasi muda.

Dia menegaskan bahwa tidak ada batasan wilayah dalam kejahatan NVE karena organisasi-organisasi yang terkait berkembang di ruang digital. Mereka memanfaatkan isolasi, mendorong tindakan korban untuk menyakiti diri sendiri dan memuji aksi kekerasan.

Dalam beberapa kasus, para pelaku NVE mencuci otak korban untuk melakukan tindakan menyakiti diri sendiri atau serangan yang menimbulkan korban massal.

"Seorang remaja yang duduk di depan komputer di belahan dunia lain dapat mengonsumsi konten kekerasan yang sama dengan seseorang di ruang kelas Amerika. Kelompok-kelompok ini mewakili evolusi terorisme. Itulah mengapa kerja sama internasional sangat penting," kata Bailey.

Melalui kemitraan dengan Pemerintah Filipina, Grup Gabungan Anti-Terorisme yang dipimpin FBI melakukan 14 operasi dan berhasil menyelamatkan 21 anak di bawah umur yang dimobilisasi untuk melakukan tindak kekerasan.

Sementara itu, terkait perdagangan narkotika transnasional, khususnya fentanil, Bailey mengatakan bahwa fentanil dengan cepat menjadi narkotika paling mematikan dalam sejarah.

"Narkotika ini membunuh warga Amerika dengan kecepatan yang mengerikan dan tidak berhenti di perbatasan kita," kata Bailey.

Dalam setahun terakhir saja, FBI, katanya, telah menyita 2.250 kilogram fentanil. Jumlah fentanil tersebut, kata Bailey, cukup untuk membunuh lebih dari 178 juta warga Amerika, atau lebih dari setengah populasi Amerika Serikat.

Untuk itu, FBI bekerja sama dengan mitra di seluruh Asia untuk mengidentifikasi dan menghancurkan bahan kimia prekursor yang memicu krisis tersebut sebelum jatuh ke tangan kartel.

"Kami mendukung sanksi, tindakan penegakan hukum, berbagi informasi intelijen, dan kami menargetkan jaringan kriminal yang mengambil keuntungan dari korban jiwa," katanya.

"Kepada mereka yang memperdagangkan fentanil, saya akan mengatakan bahwa FBI, melalui wewenang anti-terorisme baru yang diberikan Presiden Trump dan pemerintahannya, akan bekerja dengan mitra penegak hukum di seluruh dunia untuk mengerahkan kekuatan penuh dari gabungan wewenang hukum kami untuk menetralisir Anda," demikian kata Bailey.

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |