Tarif Gila Donald Trump AS Berpotensi Rugikan Thailand hingga Rp173 T

19 hours ago 3

CNN Indonesia

Jumat, 04 Apr 2025 06:15 WIB

Tarif timbal balik Trump AS diprediksi dapat merugikan ekonomi Thailand hingga 359 miliar baht dan menurunkan PDB hampir 2 persen. Ilustrasi. Donald Trump tetapkan tarif gila, Thailand salah satu yang terdampak. (REUTERS/Carlos Barria)

Jakarta, CNN Indonesia --

University of the Thai Chamber of Commerce (UTCC) memperkirakan tarif timbal balik yang diberlakukan Amerika Serikat (AS) di bawah Donald Trump berpotensi merugikan ekonomi Thailand hingga 359 miliar baht atau sekitar Rp137 triliun dan mengurangi produk domestik bruto (PDB) hampir 2 persen.

Tarif resiprokal atau timbal balik dari AS terhadap Thailand akan resmi berlaku pada 9 April 2025 sebesar 37 persen.

Merujuk lampiran memo eksekutif Donald Trump, tarif sebesar 36 persen diberlakukan untuk Thailand. Namun, besaran tarif pada bagan untuk sejumlah negara bisa satu persen lebih rendah daripada tarif resmi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Thanavath Phonvichai, Presiden UTCC, mengatakan kenaikan tarif AS hingga 25 persen yang mulai berlaku pekan ini, akan mempengaruhi empat produk negeri Gajah Putih yakni baja, produk baja, aluminium, serta mobil dan suku cadang mobil.

Total nilai ekspor untuk kategori ini pada tahun 2025 diproyeksikan mencapai US$4,73 miliar. Namun pasca kenaikan tarif, nilai ekspor diprediksi turun menjadi $4,08 miliar, yang berarti kerugian sebesar $650 juta atau 22 miliar baht, menurut studi UTCC.

Kenaikan tarif ke depan diprediksi akan mendorong masuknya produk-produk China ke pasar Thailand. Terutama mesin, furnitur, barang elektronik, dan tekstil. Terlebih China tengah mencari pasar alternatif untuk ekspornya.

Thanavath mengatakan jika digabungkan dengan gempa bumi baru-baru ini, kerugian ekonomi Thailand diperkirakan mencapai 375 miliar baht, dan lenurunan PDB sebesar 2,02 persen.

Akibatnya, UTCC kini telah mengurangi perkiraan pertumbuhan PDB Thailand untuk tahun ini menjadi hanya 1 persen.

Dhanakorn Kasetrsuwan, Presiden Dewan Pengiriman Nasional Thailand (TNSC), mengatakan beberapa industri kemungkinan akan merasakan dampak dari tarif yang lebih tinggi. Setiap industri kini tengah menilai potensi kerusakan, dengan analisis yang lebih detail pada Mei.

"TNSC mengantisipasi perubahan ini dapat mempengaruhi ekspor pada paruh kedua tahun ini, dan mungkin meninjau target ekspor awalnya sebesar 1-3 persen pertumbuhan untuk tahun ini pada kuartal kedua," kata Dhanakorn mengutip Bangkokpost, Kamis (3/4).

(dal/thr/dal)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |