Ilustrasi(Magnific)
BAGI sebagian besar orang, menjaga konsistensi dalam menjalankan program diet konvensional merupakan tantangan yang berat. Mengawasi setiap porsi makanan dan menghitung kalori secara terus-menerus sering kali menimbulkan kejenuhan mental. Kondisi ini memicu fenomena diet yo-yo, di mana berat badan seseorang terus merosot namun kembali melonjak dalam waktu singkat akibat gagal mempertahankan pola makannya.
Namun, sebuah studi terbaru dari Adelaide University memberikan angin segar bagi mereka yang kesulitan menjalani metode konvensional tersebut. Penelitian jangka panjang selama 18 bulan yang diterbitkan dalam jurnal Clinical Nutrition ini mengungkapkan bahwa metode puasa berkala atau intermittent fasting dapat menjadi jalur alternatif yang lebih berkelanjutan.
Riset ini melibatkan lebih dari 200 partisipan dengan kondisi obesitas yang dibagi ke dalam tiga kelompok: kelompok intermittent fasting, kelompok pembatasan kalori secara kontinu, dan kelompok perawatan standar. Kelompok intermittent fasting diwajibkan untuk mengonsumsi hanya 30 persen dari kebutuhan energi harian mereka di antara pukul 08.00 hingga 12.00 siang pada tiga hari non-berturut-turut setiap minggu, yang kemudian diikuti dengan jendela puasa selama 20 jam. Sementara itu, pada hari-hari di luar jadwal puasa, mereka diperbolehkan mengonsumsi makanan seperti biasa.
Setelah berjalan selama enam bulan, hasil pengujian menunjukkan performa yang menarik. Partisipan dari kelompok pembatasan kalori maupun kelompok intermittent fasting sama-sama berhasil memangkas berat badan rata-rata sekitar tujuh kilogram. Angka ini jauh lebih signifikan jika dibandingkan dengan kelompok perawatan standar yang hanya kehilangan dua kilogram.
Meski tingkat penurunan berat badannya setara, tim peneliti menemukan perbedaan mendasar pada aspek psikologis dan perilaku dari kedua metode diet tersebut. Partisipan yang menjalani intermittent fasting merasa tidak terbebani secara mental karena mereka tidak perlu mengontrol perilaku makan secara ketat sepanjang waktu, seperti mengawasi makan berlebih secara sadar atau menghitung asupan kalori harian secara konstan. Menariknya lagi, kelompok yang berpuasa ini juga melaporkan adanya peningkatan pada tingkat kesejahteraan mental serta penurunan tingkat depresi, bahkan saat berada di hari-hari berpuasa.
"Hasil studi kami menunjukkan bahwa intermittent fasting dapat menawarkan jalur alternatif bagi orang-orang yang menganggap diet konvensional itu menantang," ujar Profesor Leonie Heilbronn, PhD, ilmuwan riset klinis di School of Medicine, Adelaide University, yang bertindak sebagai penulis utama studi ini.
Heilbronn menambahkan bahwa efek psikologis dan perilaku memegang pengaruh yang sangat besar terhadap kemampuan seseorang dalam mematuhi suatu program diet. "Intermittent fasting dapat membantu orang mencapai penurunan berat badan melalui cara-cara yang tidak terlalu bergantung pada pembatasan asupan secara sadar."
Melalui temuan ini, tim peneliti menyarankan pentingnya personalisasi dalam rekomendasi program penurunan berat badan di masa mendatang. Jika seseorang terbukti kesulitan dalam mengubah perilaku makannya secara konvensional, maka metode intermittent fasting dapat menjadi opsi terbaik agar mereka tetap bisa memangkas berat badan secara efektif dengan beban mental yang jauh lebih minim. (Science Daily/clinical nutrition journal/Z-2)

















































