Studi Terbaru Ungkap Bumi Berpotensi Selamat dari Kematian Matahari di Masa Depan

2 weeks ago 13
Studi Terbaru Ungkap Bumi Berpotensi Selamat dari Kematian Matahari di Masa Depan Matahari bersinar di atas cakrawala Bumi saat Stasiun Luar Angkasa Internasional mengorbit 264 mil (425 kilometer) di atas provinsi Quebec, Kanada pada 30 Desember 2021.(NASA)

SELAMA ini, para ilmuwan memprediksi skenario akhir dunia yang mengerikan bagi Bumi. Dalam waktu sekitar lima miliar tahun ke depan, Matahari diperkirakan akan kehabisan bahan bakar hidrogennya dan membengkak menjadi bintang raksasa merah (red giant). Dalam proses tersebut, Merkurius dan Venus dipastikan akan tertelan, sementara Bumi diprediksi akan ikut hancur menjadi abu akibat panas yang ekstrem.

Namun, sebuah studi terbaru yang mengamati sistem bintang jauh memberikan secercah harapan baru. Para astronom menemukan sebuah planet berbatu yang berukuran mirip dengan Bumi berhasil bertahan hidup meskipun bintang induknya telah mati dan meredup menjadi bintang katai putih (white dwarf). Sistem bintang unik ini terletak di dekat pusat galaksi Bimasakti kita.

Penemuan ini dilakukan dengan menggunakan metode microlensing, yaitu sebuah teknik astronomi yang memanfaatkan medan gravitasi dari objek latar depan untuk membelokkan dan memperbesar cahaya dari bintang latar belakang yang jauh. Melalui metode ini, para peneliti berhasil mendeteksi keberadaan planet berbatu yang mengorbit bintang katai putih tersebut pada jarak yang aman, mirip dengan posisi orbit Bumi setelah Matahari membengkak dan kehilangan sebagian massanya nanti.

Ketika sebuah bintang memasuki fase raksasa merah, bintang tersebut akan melepaskan lapisan luarnya dan kehilangan massa dalam jumlah yang sangat besar. Penyusutan massa bintang induk ini secara otomatis akan melemahkan gaya gravitasinya, sehingga planet-planet yang mengorbit di sekitarnya, termasuk Bumi di masa depan, akan terdorong keluar ke jalur orbit yang lebih jauh dan lebih aman.

Meskipun Bumi mungkin dapat lolos dari kehancuran fisik dan tidak tertelan oleh Matahari yang membengkak, para ilmuwan mengingatkan bahwa kondisi di planet kita tidak akan lagi sama. Saat Matahari menyusut menjadi katai putih, suhunya akan mendingin dan cahayanya meredup secara drastis. Bumi yang terdorong ke orbit luar akan kehilangan sumber panas utamanya, mengubahnya menjadi dunia es yang beku dan tidak lagi dapat dihuni oleh manusia.

"Saat ini kita belum memiliki konsensus mutlak mengenai apakah Bumi dapat menghindari skenario tertelan oleh raksasa merah dalam waktu lima miliar tahun ke depan," ungkap para peneliti dalam laporan studi tersebut. "Namun, penemuan sistem bintang ini membuktikan bahwa beberapa planet berbatu yang mirip dengan Bumi memiliki kemampuan untuk selamat dari kematian bintang induknya."

Langkah selanjutnya dari penelitian astronomi ini adalah mencari lebih banyak sistem serupa di seluruh galaksi. Penemuan ini setidaknya memberikan bukti fisik pertama bahwa kehancuran total sebuah bintang tidak selalu berarti akhir mutlak bagi planet-planet berbatu yang mengitarinya, memberikan secercah jawaban atas teka-teki takdir akhir dari planet tempat tinggal kita. (Space/Z-2)

Read Entire Article
International | Entertainment | Lingkungan | Teknologi | Otomotif | Lingkungan | Kuliner |