SEORANG penjaga perdamaian yang bertugas di Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) tewas dan dua lainnya terluka setelah mortir menghantam posisi mereka di Libanon selatan, kata misi tersebut pada Kamis 4 Juni 2026.
Dalam sebuah pernyataan seperti dilansir Anadolu, UNIFIL mengatakan penjaga perdamaian yang tidak disebutkan kewarganegaraannya tersebut mengalami luka kritis “ketika mortir menghantam posisinya di dekat Marjayoun, Lebanon tenggara” pada Rabu malam.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Penjaga perdamaian yang terluka dievakuasi melalui udara ke rumah sakit di Beirut, di mana ia kemudian meninggal karena luka parah.
Misi tersebut mengatakan dua penjaga perdamaian lainnya juga terluka dalam insiden tersebut dan sedang menerima perawatan di fasilitas medis di dalam pangkalan UNIFIL.
Pasukan penjaga perdamaian mengatakan telah meluncurkan penyelidikan “untuk memastikan keadaan pasti yang menyebabkan insiden tragis ini.”
“UNIFIL telah mendeteksi peningkatan jumlah lintasan dan dampak di Libanon Selatan. Kekerasan harus diakhiri,” kata misi tersebut.
Sebelumnya, enam pasukan penjaga perdamaian UNIFIL tewas di Libanon Selatan selama peningkatan permusuhan pada Maret-April 2026.
Pada 29 Maret 2026, sebanyak tiga pasukan penjaga perdamaian asal Indonesia tewas. Satu orang tewas setelah sebuah proyektil meledak di posisi PBB dekat Adchit Al Qusayr. Penyelidikan awal PBB mengaitkan kejadian ini dengan peluru tank Israel.
Keesokan harinya, dua pasukan penjaga perdamaian Indonesia lainnya tewas dan beberapa lainnya terluka dalam ledakan kendaraan dekat Bani Haiyyan, sebuah insiden yang dikaitkan dengan Hizbullah.
Sementara pada 18 April 2026, seorang pasukan penjaga perdamaian Prancis Sersan Staf Florian Montorio tewas dan tiga lainnya terluka akibat tembakan langsung selama misi pembersihan ranjau di desa Ghandouriyeh. UNIFIL dan pejabat Prancis mengindikasikan bahwa serangan itu kemungkinan dilakukan oleh Hizbullah.
Pada 22 April 2026, Prancis mengumumkan kematian tentara kedua setelah serangan di Libanon selatan yang menargetkan Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Libanon (UNIFIL).
“Anicet Girardin meninggal dunia pagi ini akibat luka-lukanya. Ia gugur untuk Prancis,” kata Presiden Emmanuel Macron dalam pesan yang dipublikasikan di platform X.
Gencatan Senjata Israel-Libanon
Seperti dilaporkan Libnanews, pengumuman ini datang pada saat yang paling sensitif: beberapa jam setelah pengumuman gencatan senjata bersyarat antara Libanon dan Israel, sementara misi PBB melaporkan jumlah lintasan dan dampak yang sangat tinggi di Selatan.
Kesepakatan yang diumumkan di Washington ini mengharuskan Hizbullah untuk menarik diri dari wilayah di selatan Sungai Litani. Ini membuka jalan bagi Angkatan Bersenjata Libanon untuk mengambil kendali penuh atas wilayah tersebut.
Namun, kematian pasukan penjaga perdamaian PBB semalam mengubah isu gencatan senjata menjadi ujian kredibilitas yang mendesak.
Posisi yang terkena dampak di dekat Marjayoun bukanlah titik sekunder. Wilayah Libanon tenggara ini terletak di salah satu area yang paling rentan di wilayah operasi UNIFIL. Lokasinya dekat dengan Garis Biru, daerah perbatasan, poros militer, dan area di mana baku tembak telah meningkat sejak dimulainya kembali konflik antara Israel dan Hizbullah.
Pernyataan pasukan PBB tidak menyebutkan siapa pun yang bertanggung jawab. Pernyataan tersebut tidak menyebutkan apakah peluru tersebut berasal dari Libanon, Israel, atau zona pertempuran perantara.
Pernyataan tersebut juga tidak menyebutkan apakah itu tembakan langsung, tembakan yang dibelokkan, atau dampak yang terkait dengan baku tembak yang lebih luas. Kehati-hatian ini sangat penting karena area tersebut dipenuhi dengan proyektil, drone, serangan, serangan balasan, dan posisi militer.
Invasi udara dan darat Israel di Libanon dimulai pada awal Maret setelah Hizbullah menyerang Israel sebagai balasan atas kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada akhir Februari dalam serangan mendadak AS-Israel. Pertempuran tersebut mengakibatkan kematian lebih dari 3.200 orang dan menyebabkan lebih dari satu juta orang mengungsi dari Libanon selatan.







































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495647/original/074499000_1770385031-barba.jpeg)









