EQUITY Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah mengatakan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini akan dipengaruhi oleh rilis sejumlah data ekonomi, mulai dari cadangan devisa, Indeks Keyakinan Konsumen, hingga kinerja penjualan ritel. Menurutnya, angka cadangan devisa yang menurun berpotensi memperparah kekhawatiran pasar terhadap kemampuan Bank Indonesia dalam menstabilkan rupiah.
"Secara fundamental, IHSG masih berada dalam tekanan yang cukup berat memasuki pekan 8–12 Juni 2026, di mana kombinasi inflasi Mei yang melampaui ekspektasi (3,08 persen year on year), rupiah yang telah menembus Rp 18.000, dan total net foreign sell year to date yang telah mencapai Rp 60,8 triliun mencerminkan erosi kepercayaan investor yang sistemik,” kata Hari dalam keterangan tertulis pada Senin, 8 Juni 2026. Data cadangan devisa rencananya dirilis hari ini.
Rebalancing FTSE Russell yang akan berlaku efektif 22 Juni 2026 juga masih akan membayangi pergerakan pasar. Lembaga penyedia indeks global tersebut telah mengeluarkan 8 saham Indonesia. Saham-saham tersebut adalah PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA), PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ), PT Hillcon Tbk (HILL), PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID), dan PT Nusantara Sejahtera Raya TKk (CNMA).
Hari menilai, momentum bearish saat ini masih dominan dengan struktur tren menurun yang belum menunjukkan sinyal pembalikan arah. Sepanjang pekan kemarin, IHSG mencatatkan koreksi tajam 8,69 persen. Penurunan tajam IHSG tersebut terjadi secara bersamaan dengan pelemahan rupiah yang menembus level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat.
Menurut Hari, dalam kondisi seperti ini, investor perlu mengambil strategi bertahan dengan mengurangi eksposur pada saham-saham berkapitalisasi kecil dan menengah yang likuiditasnya tipis. "Bagi investor jangka menengah, manfaatkan momentum ini untuk selektif mencermati saham-saham big caps di sektor perbankan dan consumer staples yang valuasinya sudah sangat atraktif secara historis, namun tetap masuk secara bertahap dengan alokasi porsi kecil sembari menunggu kepastian arah kebijakan moneter BI,” ucapnya.




































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5495647/original/074499000_1770385031-barba.jpeg)











